Agar Allah Mendidik Anak Kita

Spread the love

Oleh. Pipin Latifah, SEI

(Anggota Komunitas Ibu Profesional Bogor)

 

#MuslimahTimes — “Al Ummu Madrosatul Ula, Idzaa A’dadt aha A’dad taSya’ban toyyibana’roq.” Syair Arab ini menyebutkan bahwa ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan generasi yang baik.

Peradaban manapun yang ingin menghancurkan Islam, maka wanitalah yang pertama kali dihancurkan. Karena, batu pertama dari tegaknya sebuah peradaban adalah perbaiki wanitanya. Ketika wanitanya baik, maka ada harapan akan kebangkitan bagi negeri itu.

Berbicara tentang wanita, Alquran banyak menyebutkan kisah wanita yang bisa kita ambil hikmahnya. Baik dari kisah wanita yang baik maupun kisah wanita yang buruk. Seperti: kisah Maryam, Ibunda Maryam (Hana). IbundaNabi Ismail (Hajar), ibunda dan kakak perempuan Nabi Musa. Wanita dalam kisah Nabi Yusuf (Zulaikha menurut Israiliyat), Istri Abu Lahab, Istri Nabi Nuh, Istri Nabi Luth, ratu negeri Saba (Bilqis), Istri-istri Rasulullah SAW. Dll.

Para wanita hendaknya mentadabburi kisah-kisah wanita dalam Alquran untuk dijadikan pedoman dalam dirinya bersikap. Karena, sejarah membuktikan, lahirnya keluarga-keluarga hebat itu dikawal oleh Alquran.

Dari sekian banyak kisah-kisah wanita dalamAlquran, ternyata peran dominan yang Allah sebutkan adalah PERAN ISTRI. Bukan peran ibu apalagi peran sebagai pribadi dan sosial.

Hal ini menunjukkan bahwa Allah menginginkan agar wanita itu segera beralih ke peran yang dominan Allah sebutkan dalamA lquran. Dari sibuk mengurus diri sendiri saja untuk segera berpindah dan memaksimalkan perannya sebagai istri. Jika perannya sebagai istri telah maksimal, lanjutkan ke peran ibu.

Mengapa begitu?

Karena ketika wanita itu telah maksimal menjalankan perannya sebagai istri, maka hal itu akan membantu perannya sebagai ibu.

 

MaksimalkanPeranIstri

Berbicara tentang suami istri, Rasulullah SAW bersabda: “Perhatikanlah posisimu terhadapnya. Sesungguhnya yang menentukan surga dan nerakamu terdapat pada (sikapmu terhadap) suamimu.” (HR. Ahmad: 18233)

Begitu agungnya hak seorang suami yang ada pada istrinya, sehingga Rasulullah Saw bersabda: “Sekiranya aku boleh memerintahkan seseorang sujud kepada orang lain, maka akan aku perintahkan seorang isteri sujud kepada suaminya. Sekiranya seorang suami memerintahkan isterinya untuk pindah dari gunung ahmar menuju gunjung aswad, atau dari gunung aswad menuju gunung ahmar, maka ia wajib untuk melakukannya.” (HR. Ibnu Majah)

Begitulah. Suami itu nyaris menjadi ‘tuhan’ bagi istrinya mengingat betapa besarnya hak suami untuk ditaati istrinya. Karena setiap perintah suami itu adalah mutlak dilaksanakan oleh istrinya. Kecuali perintah bermaksiat.

Maksimalnya seorang istri menjalankan perannya, maka akan menjadikan suaminy aridha kepadanya. Jika keridhaan suami telah digenggamnya, maka rumah pun akan diliputi kebahagiaan dan keberkahan.

Dengan berbekal keridhaan suami yang merupakan pemimpinnya, maka wanita pun akan dimudahkan Allah dalam menjalankan perannya sebagai ibu.

Seperti, keadaan suami yang ridha kepada istrinya, maka suami pun merasakan bahagia dalam rumah tangganya. Ia selalu merindukan pulang ke rumah karena di sana adalah surganya. Meski lelah pulang bekerja, seorang suami yang bahagia tentu akan rela membantu tugas istrinya untuk mengasuh anak-anaknya.

Point lain yang tak kalah penting, istri harus benar-benar menjadi pribadi yang shalihah. Allah menyebutkan  dalam Alquran sebagai satu kata untuk meringkas seluruh tentang wanita yakni dengan sebutan Fash shoolihaat dan kata fash shoolihaat ini diterjemahkan dalam dua kata yakni qoonitat (taat) dan haafidzaat (memelihara diri).

Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)… (TQS An-Nisa : 34)

Dari ayat di atas, point qoonitaat dan haafidzaat yang menjadi penentu seorang istri dikatakan shalihah. Maka, dalam hal ketaatan, jangan sampai ketika suami istri berbeda pendapat, dan suami menyerahkan keputusan akhir kepada istrinya itu terjadi di hadapan anak-anaknya. Apalagi hal tersebut dilakukanb erulang-ulang hingga biasa terdengar di telinga anak-anaknya

“Ya sudah, terserah mama saja.”

Ini sungguh berbahaya. Karena, ketika kepemimpinan suami dalam pengambilan keputusan saja sudah dipatahkan oleh istrinya, maka anak-anaknya akan meneladaninya kelak ketika mereka berumah tangga. Hingga, seharusnya terwujud anak laki-laki yang menjadi qowamah jika ia nanti menjadi suami, dan anak-anak perempuan kelak menjadi istri haruslah menjadi seorang yang taat, keduanya tidak akan terjadi karena ibu-bapaknya saja tidak memberikan teladan bagaimana menjadi seorang qowamah dan bagaimana menjadi seorang istri yang taat.

Itulah sebabnya, ketika seorang istri berperan maksimal menjalankan perannya sebagai istri, maka sungguh hal itu memudahkan perannya sebagai ibu karena ketika ia taat kepada suaminya, sembari ia memberikan keteladanan  kepada anak-anaknya.

 

Rumus Mendidik Anak Dalam Alquran (Agar Allah Mendidik Anak Kita)

Setelah seorang wanita memaksimalkan perannya sebagai istri, maka, untuk menjalankan perannya sebagai ibu pun perlu berpedoman pada Alquran. Sebut saja kisah Hana istri Imran ketika mengandung Maryam.

“(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di BaitulMaqdis). Karena itu terimalah (nazar) itu daripadaku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”. (QS Ali Imran : 35)

Dari QS Ali Imran ayat 35, Hana (ibunda Maryam) mengajarkan kepada calon ibu untuk menentukan visi mempunyai anak. Visi ibunda Maryam begitu jelas untuk menjadikan anak dalam kandungannya menjadi seorang hamba yang shalih dan berkhidmat di BaitulMaqdis.

Maka, renungkanlah bagi calon ibu maupun yang kini menjadi ibu, apa visi Anda memiliki anak?Setelah mempunyai gambaran jelas tentang visi yang akan dituju, jalanilah tugas orang tua sebaik mungkin.

Jika seorang ibu telah maksimal menjalankan perannya sebagai istri, ia pun telah memiliki visi jelas untuk apa memiliki anak serta telah ia ajukan visi itu kepada Allah. Maka, Allah akan menerima amalt ersebut. Jika Allah telah ridha, maka Allah yang akan mengambil alih pendidikan anaknya. Allah akanmenambal kekurangan sang ibu dalam mendidik anaknya dengan mengirimkan bantuan-Nya seperti Allah mengirimkan Nabi Zakaria untuk mendidik Maryam.

Syarat lainnya, jika ingin mendapatkan pertolongan Allah untuk pendidikan dan penjagaan anak-anaknya, ibu pun harus belajar dari QS Al-Kahfiayat 82. Disana menceritakan Allah menjaga harta yang terpendam milik dua anak yatim dengan mengirimkan dua Nabi-Nya untuk membangun rumah kedua anak yatim tersebut disebabkan orang tuanya yang shalih.

Jadi, keshalihan orang tua merupakan hal penting untuk penjagaan keturunannya. Begitulah Alquran mengajarkan gambaran agar Allah mengambil alih dan menambal kekurangan orang tua dalam mendidik anak-anaknya.

Wallahua’lambishshowab

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *