BAPER NASIONAL PART TWO

Spread the love

Oleh : Nonik Sumarsih (Mahasiswa Biologi ITS / Anggota Revowriter Surabaya)

 

“Sekarang kamu tidur. Jangan bergadang. Dan jangan rindu.”

“Kenapa?” Kutanya.

“Berat,” Jawab Dilan. “Kau gak akan kuat. Biar aku saja.” Dilan to Milea, Bandung 1990

 

Aduh, duh!  Siapa sangka kata “rindu” yang bombastis bin romantis ini keluar dari mulut seorang anak SMA tahun 90-an, zaman old. Dilan, kisah nyata cinta monyet yang diangkat menjadi serial novel oleh Pidi Baiq. Laksana sihir, pasca rilis filmnya bulan januari 2018 ini mampu membius jutaan pasang mata pemuda Indonesia dalam baper nasional. Amboi! Mungkin terlihat keren bin romantis ya, dua remaja sejoli yang tengah dimabuk asmara saling membalas cinta. Hanya membutuhkan waktu senja untuk menyatakannya, “Milea kamu cantik, tapi aku belum mencintaimu. Enggak tahu kalau sore. Tunggu aja.” Eits, tunggu dulu meskipun romantis, cinta mereka tak berakhir seindah film princess disney, nyatanya kisah tali asmara Dilan dan Milea pupus di tengah jalan dan tak berujung pada ikatan pernikahan. Weleh!

Baper Nasional pun tak sekali ini saja melanda kawula muda Indonesia . Tahun 2017 lalu pemuda Indonesia mengenang  pernikahan Damis dan Raisa sebagai hari patah hati nasional. Ternyata tidak cukup di situ, lagi-lagi mereka dibuat baper dengan pernikahan perfect couple artis korea Song Jong Ki dan Song Hye Kyo. Begitulah urusan cinta, selalu istilah baru bin lucu bikin ngakak.  Baper Nasional!

Sobat, mungkin benar adanya masa SMA adalah masa-masa yang paling indah. Apalagi terkena bumbu “jambu merah” serasa akan hidup abadi dunia bersama si doi. Secara pada masa ini mereka memiliki imajinasi yang tak terbatas, mudah tersihir dengan apa yang mereka anggap baru, mudah meniru yang mereka anggap keren. Masa ini juga unik, sebab pemuda sedang dalam tahap kematangan baik dari segi akal maupun fisiknya di mana kekuatan fisik dalam kondisi prima, daya kritis yang selalu membuka mata, dan pikiran fresh oke punya. Jadi, inilah potensi pemuda yang semua orang paham betul termasuk musuh-musuh islam.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Gleed Stones seorang Perdana Menteri Inggris 1868-1894, mengatakan bahwa : “Percuma memerangi umat Islam, kita tidak akan mampu menguasainya selama Alquran masih berada di dada pemuda-pemuda Islam. Tugas kita kini adalah mencabut Alquran dari hati mereka baru kita menang dan menguasai mereka.”

Artinya, memang secara sengaja angin sepoi cinta instan  diembuskan di dada pemuda Islam.  Tujuannya agar mereka melupakan Alquran dan menaruhnya dalam lemari kaca tanpa membaca ataupun mengkajinya. Hingga setelah hilang semuanya,  pemuda akan menyibukkan diri mereka kepada hal-hal roman picisan belaka. Mereka menganggap memperjuangkan cinta kepada lawan jenis  adalah hal yang paling utama bahkan jika perlu gunung akan didaki dan laut akan diseberangi demi si doi. Maka wajarlah, fenomena “papa dan mama” berseragam semakin hari semakin menggelikan dan semakin memperihatinkan. Sebab tidak lagi menggunakan aturan sang pencipta untuk mengawal hatinya.

Awalnya hanya suka memandang, hanya memendam rasa tapi ya… yang namanya setan plus-plus hawa sekularisme yang mengajarkan kepada kita memisahkan aturan agama dari kehidupan, setali dua paket mampu meringkus berjuta-juta pasangan pemuda dan menghancurkan masa depan mereka melalui pergaulan dan seks bebas. Bahasa gaulnya sih “Zina Massal”.  Oh para “Dilan”! Cinta itu tidaklah mudah,  cinta itu berat, butuh pengorbanan demi menjaganya. Cinta itu tak sebatas wajah dan perasaan belaka.  Belajarlah cinta kepada para sahabat Nabi, belajarlah cinta kepada Al Fatih dan ksatria Islam lainnya. Cinta mereka abadi dalam ukiran sejarah manusia bahkan dikenang di langit surga. Karena cinta yang mereka bawa bukan dari nafsu belaka, cinta yang membawa mereka memuliakan Islam hingga ke penjuru dunia. Begitulah cinta seharusnya! (el)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *