Bowo dan Yaser, Bukan Pinang Di belah Dua

Oleh. Hana Annisa Afriliani,S.S.
(Penulis Buku)

 

Palestina selalu membara. Setiap hari ada saja syuhada yang gugur di atas tanahnya demi membela negeri dan agamanya. Seperti juga yang terjadi beberapa waktu lalu, sniper Pasukan Pertahanan Israel (IDF) memberondong tembakan dan gas air mata kepada para demonstran di perbatasan jalur Gaza-Israel. Dalam aksi tersebut, kepala seorang demonstran hingga tertembus timah panas hingga tewas. Dialah Yaser Abu Najja, anak lelaki berusia 14tahun, yang menjadi korban kekejian Israel pada saat mengikuti aksi damai dalam rangka menuntut pembebasan Palestina tersebut. Nama Yaser Abu Najjar pun harum di seluruh penjuru langit dan bumi. Bagaimana tidak, akhir hidupnya ditutup dengan perjuangan.

 

Lain lagi di bumi pertiwi. Anak lelaki yang usianya hampir sama dengan Yaser Abu Najja, yakni dikenal dengan nama Bowo Alpenliebe , viral di dunia maya. Dia dipuja laksana dewa, berkat videonya di aplikasi Tik Tok. Dan yang mencengangkan, para penggemarnya, yang rata-rata remaja putri berusia belasan tahun, sangat fanatik bahkan ada yang sampai menganggapnya sebagai Tuhan. Miris!

 

Bowo melenggang, meraup kesempatan di atas ketenarannya. Dia mengenakan tarif terhadap siapa saja yang ingin bertemu dan berfoto dengannya. Tarifnya mulai dari 80rb-100rb/orang. (Tribunnews.com/29-06-2018)

 

Sungguh Bowo dan Yaser bukan pinang di belah dua. Keduanya sangat berbeda meski satu generasi. Yang satu menempatkan raganya di barisan para pejuang, sementara yang satunya sibuk mencari sensasi demi popularitas duniawi dan materi.

 

Generasi Muda Pengisi Peradaban

 

Sungguh peradaban hari ini membutuhkan sosok generasi muda yang memiliki kepribadian Islam, berjiwa pemimpin, dan bertakwa kepada Allah. Mereka lah generasi yang mampu berpikir dan bersikap kritis terhadap segala kemungkaran yang terjadi di depan mata, lalu bergerak untuk melakukan perubahan.

 

Yaser Abu Najja adalah salah satu potret pemuda ideal yang mampu mengisi peradaban hari ini. Di usianya yang masih sangat muda, ia berkontribusi bagi negerinya. Sungguh sangat membanggakan.

 

Pun di negeri ini, di tengah nyatanya berbagai kedzaliman yang dipertontonkan penguasa, sudah semestinya lahir sosok-sosok pemuda bermental pejuang bukan pecundang. Pemuda yang hanya takut kepada Allab saja dan menjadikan hidupnya untuk beribadah kepada Allah.

 

Sebagaimana sosok Muhamad Al-Fatih (21th) menjadi panglima perang menakhlukan konstantinopel, Mush’ab bin Umair (19 th) menjadi duta Rasulullah saw di Madinah, Zaid Bin Haritsah, Zaid Bin Tsabit (13th) menuliskan wahyu ilahi, Zubair Bin Awam (15th) pertama kali menghunuskan pedang, Sa’ad Bin Abi Waqqosh (16th) yang pertama melontarkan anak panah di jalan Allah,dll.

 

Sungguh, sosok-sosok pemuda seperti itulah yang akan mampu di harapkan untuk mewujudkan peradaban Islam di masa depan. Peradaban yang akan mampu menggeser kejahiliyahan menjadi kemuliaan di bawah naungan kalimat tauhid.

 

Rasulullah saw bersabda:
Tidak akan bergeser kaki seorang manusia dari sisi Allah pada hari kiamat (nanti), sampai dia ditanya tentang lima (perkara): (salah satunya) … Tentang masa mudanya, untuk apa digunakan? .. ” (HR. Tirmidzi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *