Buktikan Cintamu

 

Oleh: Yunita Gustirini
(Ibu Peduli Generasi)

Semua orang pasti pernah mencintai dan dicintai. Cinta membuat kehidupan jadi semarak. Namun cinta butuh bukti. Supaya tidak di bibir saja. Agar teruji kemurnian dan kesungguhannya.

Orangtua yang mencintai anak-anaknya, akan merawat dan mendidik mereka dengan baik. Anak yang mencintai orangtuanya, akan selalu berusaha menyenangkan hati keduanya. Murid akan takzim tanda mencintai gurunya. Rakyat yang terurus dengan baik, tanda pemimpinnya mencintai mereka.

Bagaimana dengan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya? Kecintaan pada keduanya harus yang utama. Di atas kecintaan pada pasangan, keluarga, anak, harta bahkan jabatan.

Kecintaan murni pada Allah Swt. ketika kita bersedia menaati-Nya secara total. Apa pun yang Allah Swt. perintahkan, kita laksanakan. Yang dilarang Allah Swt., semua kita tinggalkan. Menjadikan halal-haram sebagai standar perbuatan kita. Bukan karena kita menyukai sesuatu, baru mau melakukannya. Dan melalaikannya ketika kita tidak menyukainya.

Sebagaimana firman Allah subhanahu wata’ala,

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ، وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَخْشَ اللهَ وَيَتَّقْهِ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَائِزُونَ

“Hanya ucapan orang-orang mukmin, yang apabila mereka diajak kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul memutuskan (perkara) di antara mereka, mereka berkata, “Kami mendengar dan kami taat.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta takut kepada Allah dan bertakwa kepada-Nya, mereka itulah orang-orang yang mendapat kemenangan.” (QS An-Nur [24]: 51-52).

Mengatakan kita mencintai Allah Swt. dan Rasul-Nya memang mudah. Tapi harus disertai pembuktian.

AllahTa’ala berfirman,

فَلاَ وَرَبِّكَ لاَ يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. An-Nisaa [4]: 65)

Kecintaan pada Allah Swt. dan Rasul-Nya, harus dibuktikan dengan ketaatan total pada keduanya. Tanpa tebang pilih, hanya yang mudah saja yang dilaksanakan. Ketaatan sebagai ujian kecintaan.

Tetap menutup aurat dengan hijab syari, saat trend mode mengajak setengah telanjang. Tetap hidup sederhana meski tawaran riba mendera. Tetap berpegang teguh pada Islam saat kebanyakan orang bergaya hidup kapitalis nan hedonis. Tetap mendakwahkan Islam kaffah saat dakwah dibatasi. Itu baru sebagian ujian yang harus dilewati.

Maukah kita berpayah menjalani ketaatan? Atau mencukupkan diri pada ibadah semata? Merasa puas sekedar bersyahadat, salat, berzakat, puasa dan berhaji jika mampu.

Padahal pembuktian ketaatan hrs kaffah. Taat dalam seluruh urusan kehidupan. Menjadikan Islam sebagai solusi dari semua masalah kehidupan. Tidak berpedoman pada yang lain selain Islam. Menjadikan ketaatan pada Allah Swt. dan Rasulullah Saw. sebagai prioritas hidup.

Ketika telah kamu persembahkan cinta totalmu, berbahagialah. Karena cintamu pasti kan berbalas. Allah Swt. tidak akan mengingkari janjinya.

Rasulullah Saw. akan memberikan syafa’atnya kelak. Pertolongan yang pasti kita damba di hari akhir. Hari, di saat tidak ada pertolongan kecuali dari Allah Swt. dan Nabinya, Muhammad Saw.

Allahpun akan membalas cinta kita dengan ampunannya. Memberikan kasih dan sayang-Nya buat kita. Membimbing kita teguh di jalan kebenaran. Melimpahi kita dengan rida-Nya.

Adakah yang lebih indah dari semua itu? Bukankah itu harapan terbesar dalam hidup kita?

Mari, buktikan kecintaan murni kita. Taati Allah dan Rasul-Nya dengan total. Raih predikat sebaik-baik hamba-Nya. Insyaallah.

Wallahua’lam bish-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *