Cinta Al-Qur’an, Segera Terapkan!

Spread the love

Oleh. Al Ihya Yunus Putri, S.Sos.

(Anggota Komunitas Muslimah Jambi Menulis)

 

#MuslimahTimes ––  Jika membahas tentang capres dan cawapres serta pemilu presiden dan wakil presiden yang akan dilaksanakan April 2019 mendatang selalu saja ada hal yang menarik untuk diperbincangkan. Baru-baru ini misalnya, capres dan cawapres diundang tes baca Al-Qur’an oleh Ikatan Dai Aceh. Salah satu alasannya dilakukan uji baca Al-Qur’an ini adalah untuk mengetahui kualitas calon presiden. Tentu saja hal ini mengandung pro dan kontra dari berbagai pihak.

Dilansir dari laman m.tribunnews.com, Ridwan Habib sebagai Peneliti Radikalisme dan Gerakan Islam di Jakarta mnegatakan bahwa “Tes baca Al-Qur’an bagi seorang calon pemimpin yang beragama Islam sangat wajar dan sangat demokratis. Justru publik makin tahu kualitas calonnya”. Disisi lain, BPN (Badan Pemenangan Nasional) Prabowo Subinato-Sandiaga Uno menilai tes baca Al-Qur’an tak perlu dilakukan oleh kedua pasangan calon presiden dan wakil presiden. “Tapi yang sangat dan lebih penting adalah pemahaman terhadap isinya dan bagaimana mengamalkannya secara demokratis  dan kontitusional di NKRI yang berdasar UUD 45” Kata Juru Debat BPN Prabowo-Sandiaga, Sodik Mudjahid (sumber:news.okezone.com). Sementara itu, Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ru, Hajriyanto Thohari angkat bicara soal usulan tes mengaji dan tulis Al-Qur’an bagi presiden dan wakil presiden. Menurutnya syarat dari Komisi Pemilihan Umum sudah cukup dan tak perlu ditambah lagi.  Namun  bila tes tersebut jadi digelar maka pasangan calon presiden nomor urut 01 Jokowi-Ma’ruf siap untuk melaksanakannya (sumber: m.merdeka.com)

 

Posisi Al-Qur’an dalam Demokrasi-Sekuler

Bagi seorang  muslim, membaca Al-Qur’an adalah hal yang biasa dan memang sudah seharusnya begitu. Justru hal yang sangat aneh apabila seorang muslim tidak bisa membaca Al-Quran. Kitab yang menjadi pedoman serta petunjuk dalam kehidupan sudah seharusnya bisa dibaca oleh seorang muslim. Namun, ketika tes membaca Al-Qur’an dilaksanakan oleh Capres dan Cawapres, tentu hal ini mengundang respon dari banyak orang. Dalam sistem Demokrasi-Sekuler hari ini, dapat dilihat dan dirasakan bahwa Al-Qur’an hanya dihafal dan dilombakan dalam kegiatan Musabaqoh Tilawatil Qur’an atau MTQ saja, dan jika diambil dan diterapkan hukum yang ada didalam Al-Qur’an pun tidak semuanya, melainkan hukum-hukum tertentu saja, misalnya seputar sholat, zakat, puasa, haji, pernikahan, perceraian, dan waris.

Ide tes baca Al-Qur’an ini sarat akan kepentingan politik dan juga dijadikan alat kepentingan politik untuk memenangi persaingan disatu sisi, namun disisi lain keberadaannya dianggap tidak penting. Dalam kehidupan sekuler, Al-Qur’an dianggap tidak berhak untuk mengatur yang berkaitan dengan aturan dalam kehidupan. Al-Qur’an diibaratkan prasmanan, yang suka diambil hukumnya, yang rasanya tidak pas tidak diambil. Begitulah hari ini, dinegeri ini dengan masyarakat mayoritas muslim, hukum Al-Qur’an menjadi pilihan bukan kewajiban serta dinomorduakan setelah sistem buatan manusia. Bahkan, sekelas pemimpin pun yang setiap keputusannya menyangkut hajat hidup orang banyak juga memperlakukan hal yang sama terhadap Al-Qur’an.

 

Terapkan Al-Qur’an, Campakkan Sistem Demokrasi-Sekuler

Setelah tes baca Al-Qur’an, lalu apa lagi? Tentu bisa membaca saja tidak cukup, tapi lebih daripada itu. Al-Qur’an Allah turunkan, jelas sekali bahwa ditujukan sebagai pedoman dan  seperangkat aturan untuk manusia yang wajib diterapkan secara kaffah (keseluruhan). Seorang pemimpin Negara, tak hanya dituntut bisa baca Al-Qur’an, tapi juga harus siap menerapkannya. Allah telah mengingatkan manusia dalam Firman-Nya Qur’an surah Al-Baqarah ayat 85 “….Apakah kamu beriman kepada sebagian kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian (yang lain)? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian diantara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.”

Maka sudah saatnya kita sadar untuk segera mencampakkan sistem Demokrasi-Sekuler ini dan menempatkan hukum Allah selayaknya untuk mengatur kehidupan manusia secara sempurna dalam setiap lini kehidupan. Allah menjanjikan ketika Al-Qur’an diterapkan maka Rahmat dan Nikmat yang akan diturunkan, namun jika ingkar maka sebaliknyalah yang akan terjadi. Wallahu’alam.

 

 

====================

Sumber Foto : detikNews

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *