Demokrasi, Mengeliminasi Peran Al-Quran dalam Kehidupan

Spread the love

 

Oleh : Mia Ummu Faqih

Menghalalkan segala cara demi kuasa, ternyata bukan klaim semata. Hal ini benar-benar terjadi dalam sistem demokrasi. Dalam sistem ini semua pihak yang berkompetisi boleh beradu strategi. Berbagai strategi dilakukan dalam rangka meraih tujuan. Yang penting menang dan mampu menjatuhkan lawan. Tidak peduli lagi malu, meskipun nampak lucu.

Seperti yang sekarang sedang hangat diperdebatkan. Tentang polemik tantangan tes baca Alquran oleh Dewan Pimpinan Ikatan Dai Aceh pada sabtu, 29 Desember 2018. Walhasil tantangan ini menuai pro dan kontra. Politikus senior yang juga Ketua Dewan Partai Amanat Nasional (PAN) Amien Rais menilai adanya usulan tes baca Al quran untuk para calon presiden yang bertarung dalam Pemilu 2019 merupakan hal yang tidak relevan. Mantan Ketua MPR itu menilai tes baca Alquran lebih cocok jika diterapkan untuk profesi yang lebih terkait. “ Kalau untuk (memilih)pimpinan pondok pesantren boleh lah ya,” ujarnya. (TEMPO.CO, 31/12/2018)

Namun Amien Rais juga sangsi jika orang yang hafal Alquran, perilakunya akan sesuai dengan Alquran. Sebab menurutnya banyak juga orang yang hafal Alquran tetapi perilakunya seperti orang yang tak beriman.

Sementara itu Sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto tidak mempermasalahkan tentang usulan tersebut. Bahkan menurutnya usulan Ikatan Dai Aceh itu merupakan cara masyarakat Aceh untuk mengoreksi pihak-pihak yang menggunakan isu agama dalam berpolitik. Menurutnya pasangan Capres-Cawapres nomor urut 01 sudah siap jika tes tersebut nantinya digelar jelang Pilpres 2019. (IDN Times, 31/12/2018)

Menanggapi tantangan ini Cawapres nomor urut 02 menyatakan bahwa tes baca Al Quran untuk pasangan Capres dan Cawapres adalah merupakan permainan politik indentitas. Ia kemudian menyarankan lebih baik berdiskusi tentang ekonomi dibandingkan tentang polemik keislaman diantara Capres-Cawapres. (Kompas.com, 01/01/2019)

Tantangan baca Al Quran untuk para Capres dan Cawapres ini hanyalah salah satu strategi yang di lontarkan untuk menjatuhkan lawan politik. Sebelumnya juga sempat ada yang memunculkan gagasan untuk tes menjadi imam shalat bagi Capres dan Cawapres. Bisa jadi strategi-strategi serupa akan terus menerus bermunculan menjelang Pemilu Capres-Cawapres 2019. Tantangan dari satu pihak, akan di jawab dengan tantangan yang berbeda dari pihak lain. Yang intinya semuanya sama yaitu untuk menjatuhkan lawan politik. Karena pada dasarnya itulah wajah buruk Demokrasi. Apapun sah dilakukan demi meraih kemenangan. Akankah sistem rusak seperti ini akan terus dipertahankan? Tentu tidak.

Masyarakat juga harus bijak menyikapi polemik tantangan baca Alquran untuk Capres dan Cawapres ini. Apakah cukup melihat kualitas keislaman seseorang hanya dengan melihat kemampuan mereka dalam membaca Alquran. Terlebih lagi melihat kelayakkan seseorang untuk memimpin suatu negari dari kemampuannya dalam membaca Alquran. Karena kalau ini yang terjadi maka sesungguhnya telah terjadi pendeskreditan terhadap fungsi Alquran. Suatu hal yang sangat menyedihkan. Mengenaskan.

Mengembalikan fungsi Alquran

Alquran adalah kalam Allah yang diturunkan kepada Rasulullah SAW. Selain sebagai mukjizat terbesar Nabi Muhammad, Alquran juga diturunkan sebagai petunjuk dan pedoman bagi kehidupan. Seorang muslim hendaklah menempatkan Alquran pada tujuan diturunkannya.

Sepatutnya setiap muslim membaca, mempelajari dan mengamalkan isi Alquran dalam kehidupan.
Sebagai pedoman dan petunjuk bagi manusia, tentu tidak cukup bagi seorang muslim sekedar membaca ayat-ayat Alquran. Tetapi juga harus mengkaji dan mengamalkan isinya. Karena di dalam Alquran terdapat petunjuk-petunjuk dan arahan tentang bagaimana manusia menjalani kehidupan. Petunjuk tentang bagaimana hubungan manusia dengan Allah SWT. Hubungan manusia dengan sesama. Pun hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Dengan demikian isi Alquran adalah solusi bagi permasalahan manusia sehari-hari.

Selain membahas akidah, ayat-ayat Alquran juga menjelaskan hukum-hukum dari Allah SWT bagi manusia. Mulai dari hukum-hukum seputar ibadah, akhlak, rumah tangga, ekonomi, pendidikan juga pemerintahan. Hukum yang terbaik bagi manusia. Tak bisa ditandingi dengan hukum buatan manusia dalam sistem demokrasi.
Karakter manusia yang lemah dan terbatas sangat tidak pantas jika dibandingkan dengan hukum dari Sang Maha Luas. Sebagaiman firman Allah SWT:

{ أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ }

artinya: “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? dan siapakah yang lebih baik hukumnya daripada Allah bagi orang-orang yang yakin?” (TQS al-Maidah[5]: 50)

Seluruh petunjuk tadi harus dijadikan pedoman bagi manusia dalam menjalani kehidupan. Haram bagi manusia untuk mengambil hukum-hukum selain yang datang dari Alquran. Bagi seorang muslim kewajiban ini adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.

Banyak ayat mengingatkan manusia untuk berhukum pada Alquran.

وَأَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَلَا تَتَّبِعْ أَهْوَاءَهُمْ وَاحْذَرْهُمْ أَنْ يَفْتِنُوكَ عَنْ بَعْضِ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ إِلَيْكَ ۖ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَاعْلَمْ أَنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ أَنْ يُصِيبَهُمْ بِبَعْضِ ذُنُوبِهِمْ ۗ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ النَّاسِ لَفَاسِقُونَ

Artinya: “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik”. (TQS al-Maidah [5]: 49)

Dalam ayat yang lain Allah SWT menegaskan bahwa tidak patut bagi seorang muslim mencari pilihan lain ketika Allah dan RasulNya sudah menetapkan keputusan hukum. Baginya wajib mengikuti ketetapan Allah dan Rasul-Nya.

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَعْصِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا مُبِينًا

Artinya: “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata” ( TQS al-Ahzab [33]: 36)

Maka sangat jelas membatasi fungsi Alquran hanya sebagai bacaan merupakan suatu kesalahan. Setiap muslim memang didorong untuk membaca ayat-ayat Alquran dan membaguskan bacaannya dengan tartil. Bahkan setiap huruf dari setiap ayat Alquran mendatangkan kebaikan. Pahala mengalir dari setiap huruf yang dibacanya. Namun bukan berarti hanya itu tujuan Alquran diturunkan. Justru yang utama adalah sebagai petunjuk dalamengarungi kehidupan. Melihat kepatutan seseorang untuk menjadi pemimpin adalah dari keimanannya. Sebab imanlah yang akan memancarkan kemauan keras untuk menerapkan Alquran.

Pemimpin yang meyakini bahwa Islam adalah solusi dari setiap permasalahan. Bersungguh-sungguh mengajak rakyatnya untuk kembali kepada Al-Quran. Berpegang teguh kepadanya. Meninggalkan hukum-hukum yang bukan berasal dari Al-Quran. Saatnya meninggalkan politik identitas. Meninggalkan hukum sekuler buatan manusia. Kembali pada hukum yang berasal dari Sang penguasa alam semesta.

Akhirnya, Demokrasi telah terbukti gagal dan penuh keburukan. Yang telah menyebabkan manusia berada pada kerusakan. Kerusakan yang merata dalam seluruh aspek kehidupan. Saatnya menghempaskan demokrasi. Kembali pada tatanan hidup islami. Dalam naungan Rida Illahi.
Wallahu a’lam bisshawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *