Duhai Ibu, Kembalilah Kepada Fitrahmu

Spread the love

Oleh. Vio Ani Suwarni

 

#MuslimahTimes –– Alhamdulillah, Ahad 23 Desember 2018 Muslimah Perindu Surga Karawang menggelar acara Kajian Bulanan khusus muslimah bertemakan “Duhai Ibu, Kembalilah Kepada Fitrahmu”. Bertempat di Masjid Nurul Amal Rengasdengklok Karawang.

Di pagi hari yang sangat cerah, para peserta berdatangan menghadiri Kajian Bulanan Muslimah Perindu Surga Karawang. Kurang lebih 100 peserta menghadiri acara tersebut dengan semangat yang menggelora. Walaupun temanya terkait dengan Ibu, para calon ibu pun tetap antusias mengikuti kajian.

Acara dibuka oleh Mbak Titi selaku MC yang akan memandu jalannya kajian. Sebelum penyampaian materi oleh narasumber, acara diisi dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh Teh Nisa. Untuk menambah kesyahduan kajian, lantunan Shalawat Asyghil pun dibacakan oleh para peserta kajian dan dipimpin oleh Bu Lia.

Tampil sebagai narasumber Ustadzah Siti Rahmah, Teh Siti sapaan hangat beliau. Sebelum ke materi Teh Siti terlebih dahulu mengupas Hari Ibu, mengingat kemarin sosmed (social media) dipenuhi dengan pernak-pernik bertemakan ibu. Tradisi perayaan Hari Ibu jelas bukan berasal dari Islam, perayaan tersebut berasal dari Barat.

Tentu saja faham ini berasal dari Barat. Kenapa demikian? Karena di dalam agama mereka tidak ada perintah untuk Birul Walidain (Berbuat Baik Kepada orang tua). Berbakti kepada kedua orang tua tidak diperuntukkan untuk satu hari saja, akan tetapi setiap hari dan selamanya kita harus berbakti kepada kedua orang tua kita.

Selain itu, hari tersebut ditujukan untuk menghormati para ibu yang mengurus anaknya sendirian. Karena banyak anak yang terlahir dil luar pernikahan yang mengharuskan anak dibesarkan hanya oleh ibunya saja. Berbeda dengan Islam yang mengharuskan anak dibesarkan oleh kedua orang tuanya. Menempatkan wanita pada posisi yang paling mulia. Menjadikan wanita sebagai ratu di rumahnya. Islam menjadikan laki-laki sebagai kepala keluarga, tulang punggung untuk keluarganya serta pelindung untuk anak dan istrinya.

Berbeda dengan pandangan Barat yang memandang bahwa pernikahan tidaklah terlalu penting. Sehingga jarang sekali ada pernikahan. Sebuah keluarga dipimpin oleh dia yang memiliki penghasilan lebih besar. Tak peduli ia itu seorang istri ataupun suami. Sehingga dalam sebuah keluarga wanita dan laki-laki berlomba-lomba untuk mendapatkan penghasilan yang lebih tinggi.

Padahal wanita Barat sangat ingin dimuliakan seperti wanita muslimah. Alih-alih ingin dimuliakan dalam sistem Islam seperti wanita Barat. Wanita muslimah justru tersilaukan dengan peradaban Barat. Wanita muslimah sudah sangat sempurna mengikuti gaya hidup wanita Barat. Padahal hal tersebut sangat bertentangan dengan fitrah perempuan di dalam Islam.

Sesuai dengan tema yang diangkat, pasti memunculkan berbagai macam pertanyaan. Kenapa seorang ibu harus kembali kepada fitrahnya? Karena banyak sekali alasan yang mengharuskan seorang ibu kembali pada fitrah yang sesungguhnya yakni ummu warobbatul bayt (seorang ibu dan pengatur rumah tangga untuk keluarganya).

Fitrah wanita menjadi seorang ibu pun menempatkan surga ada ditelapak kaki ibu. Itu tandanya seorang ibu sangatlah dimuliakan di dalam Islam. Pahala menjadi seorang ibu sangatlah banyak, karena seorang ibu harus membesarkan anaknya, mulai dari memberikan asi, mengurus anaknya hingga mendidik anaknya sesuai dengan aturan Islam.

Faktanya saat ini, pahala yang sangat banyak itu dilewatkan begitu saja oleh para perempuan. Karena banyak ibu yang tidak mau melaksanakan kewajibannnya. Perempuan pada saat ini lebih bangga dengan jabatannya dalam pekerjaan dibandingkan menjadi ummu warobbatul bayt. Terakhir Teh Siti mengajak para ibu dan calon ibu untuk kembali kepada fitrahnya.

Setelah pemaparan materi dari Teh Siti, sesi tanya jawab pun berlangsung antara peserta dan pemateri dipandu oleh MC. Setelah sesi tanya jawab, acara ditutup dengan pembacaan do’a yang dipimpin oleh Bu Uswah, terakhir Mbak Titi menutup dengan istigfar, doa kafaratul majelis dan hamdalah. Acara kajian ditutup dengan foto bersama antara peserta kajian, pemateri dan para panitia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *