Impor Bawang Butuh Dikaji Ulang

Spread the love

Oleh : Dien Kamilatunnisa

 

#MuslimahTimes — Bawang adalah satu komponen utama dalam bumbu masakan, sehingga setiap hari diperlukan. Jika harga bawang naik maka otomatis yang paling terkena dampaknya adalah ibu rumah tangga. Tentu ini mendatangkan masalah baru untuk mengatur keuangan keluarga. Terkadang apa yang didapatkan, lebih kecil dari pengeluaran. Apalagi ditambah masalah bawang putih naik.

Penyebab harga bawang putih naik adalah minimnya stok dalam negeri (Okezone).  Untuk menstabilkan harga bawang maka bulog akan mengimpor 100.000 ton bawang putih. Namun Enny Sri Hartati, Direktur Eksekutif The Institute For Development of Economic and Finance (Indef), menilai bahwa kebijakan impor 100.000 ton bawang putih tidak akan efektif karena dilakukan menjelang masa panen yang bisa mengganggu keberpihakan pada petani lokal (Antara news). Selain itu menurut pengamat politik Hendro Satrio, ketidakmampuan dalam melakukan antisipasi sejak awallah yang menyebabkan pemerintah mau tidak mau melakukan impor dalam jumlah banyak.

Ketersediaan stok bahan pangan membutuhkan perhatian yang cermat dari pemerintah. Sehingga masyarakat dapat mengakses barang pangan dengan harga terjangkau. Dipihak petani, kebijakan yang diturunkan mengenai ketahanan pangan harus mampu berpihak pada petani lokal. Hal ini mensyaratkan sistem yang pro pada ketahanan pangan negara.

Prof FahmiAmhar dalam Media Umat pada tanggal 17 Agustus 2018 pernah merumuskan beberapa prinsip dasar tentang ketahanan pokok yang pernah diterapkan di masa peradaban Islam. Beliau menjelaskan bahwa prinsip pokok ketahanan ini pernah dilakukan oleh Nabi Yusuf.  Beberapa tahapannya yaitu optimalisasi produksi, maksudnya adalah mengoptimalkan seluruh potensi lahan untuk melakukan usaha pertanian berkelanjutan yang dapat menghasilkan bahan pangan pokok. Kedua,adaptasi gaya hidup, agar masyarakat tidak berlebih-lebihan dalam konsumsi pangan. Ketiga,manajemen logistik, yaitu dengan memperbanyak cadangan saat produksi berlimpah dan mendistribusikannya secara selektif pada saat ketersediaan mulai berkurang.  Di sini teknologi pasca panen menjadi penting. Keempat, prediksi iklim, yaitu analisis kemungkinan terjadinya perubahan iklim dan cuaca ekstrim dengan mempelajari fenomena alam seperti curah hujan, kelembaban udara, penguapan air permukaan serta intesitas sinar matahari yang diterima bumi. Kelima, mitigasi bencana kerawanan pangan, yaitu antisipasi terhadap kemungkinan kondisi rawan pangan yang disebabkan oleh perubahan drastis kondisi alam dan lingkungan. Mitigasi ini berikut tuntunan saling berbagi di masyarakat dalam kondisi sulit seperti itu.

Tentunya rumusan prinsip dasar ini akan bisa diperoleht atkala regulasi yang diterapkan bersumber dari wahyu Alloh swt. Karena Islam hadir sebagai agama yang sempurna untuk menjadi solusi dari problematika kehidupan. Suatu negara akan sejahtera ketika landasan hidupnya disasarkan pada aturan Alloh swt, Islam.  Wallohu’alam

“ Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS. Al-araf [7]: 96)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *