Indonesia Hanya Bisa Menjadi Negeri Maju Dengan Penerapan Islam Kaffah

Spread the love

Oleh : Meyla Hanna

 

#MuslimahTimes –– Dilansir dari CNNIndonesia.com, calon presiden nomor urut 01 Joko Widodo (Jokowi) meminta pendukungnya untuk membantu pemenangan di atas 70 persen di Kalimantan Timur. Hal tersebut dilontarkan capres petahana itu kala berkampanye terbuka di Dome Sport Center, Balikpapan, Kamis (28/3) seperti dikutip dari Antara.

Jokowi juga menjanjikan akan membawa Indonesia hijrah menjadi negara maju, dari saat ini sebagai negara berkembang andai terpilih kembali memimpin untuk periode kedua. “Makanya kita bangun infrastruktur agar memperkuat fondasi, agar bisa bersaing dengan negara lain,” katanya.Mantan Gubernur DKI Jakarta dan Wali Kota Solo ini mengatakan sumber daya manusia Indonesia sudah bagus sehingga bisa menjadi pondasi kokoh untuk menjadi negara maju.

Dalam hal ini, banyak yang merasa senang dan juga bangga dengan pernyataan Jokowi. Namun, ketika kita teliti lebih jauh sesuai pandangan Islam, sistem Indonesia hari ini yang masih menerapkan demokrasi, tak akan mungkin bisa membuat negeri ini maju. Mengapa?

Pertama, Sistem demokrasi mempunyai pola sistem ekonomi kapitalis yang membuat keuntungan-keuntungan melimpah untuk para elit pemilik modal beserta penguasa. Lihat saja pada ketidakadilan yang diterapkan pada sistem ini, yaitu terkait kepemilikan umum seperti sumber daya alam yang hanya dinikmati oleh segelintir orang saja. Padahal seharusnya negaralah yang mengelola hasil sumber daya alam kemudian dikembalikan untuk memenuhi semua kebutuhan rakyatnya.

Kedua, Masih ada hubungannya dengan alasan pertama bahwa dalam pandangan Islam yang disebut negeri maju adalah negeri yang memberikan kesejahteraan dan menjamin kebutuhan rakyat secara keseluruhan tanpa rakyat harus bekerja keras untuk memenuhinya. Seperti yang telah di contohkan oleh Khalifah-Khalifah terdahulu. Bahwa dalam Islam tolak ukur kesejahteraan adalah terpenuhinya kebutuhan pokok seperti sandang, pangan, papan kemudian pendidikan, kesehatan dan keamanan yang semuanya itu dijamin oleh negara.

Sedangkan fakta yang terjadi sekarang justru sangat bertolak belakang. Dimana banyak masyarakat kecil yang harus bekerja keras dulu bahkan untuk bisa mendapatkan sesuap nasi. Banyak pula remaja-remaja sekarang yang rela merusak dirinya untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Ketiga, Skala prioritas yang tidak pernah berpihak pada rakyat. Contoh pada kejadian akhir-akhir ini dimana banyak petani-petani yang mengeluhkan rendahnya harga jual hasil panen mereka. Ini dikarenakan kebijakan import gila gilaan yang ditetapkan penguasa sehingga petani lokal tidak bisa bersaing dan semakin membuat hasil-hasil pertanian mereka tak laku di pasaran. Petani di sistem sekarang ini juga semakin dibuat sulit dengan mahalnya pupuk dan sebagainya untuk memenuhi kebutuhan pertanian mereka.

Sehingga dari uraian diatas, dapat kita tarik sebuah kesimpulan bahwa sistem kapitalisme demokrasi yang menjadi sistem negeri sa’at ini tidak akan bisa membuat Indonesia menjadi sebuah negeri yang maju. Sistem demokrasi sesungguhnya hanyalah membawa keterpurukan di segala aspek kehidupan.

Hal ini sungguh jauh berbeda apabila kita bandingkan dengan Islam yang datang sebagai ajaran sempurna mengatur seluruh aktivitas manusia, termasuk urusan perekonomian. Harta yang termasuk dalam kepemilikan umum menurut Islam bukanlah milik pribadi ( para kapitalis ) dan bukan pula milik negara ( Sosialis ) melainkan menjadi milik rakyat keseluruhan.

Karena itulah di dalam Islam mempertahankan harta menjadi salah satu tujuan yang disyariatkan dalam hukum Islam. Yang utama, selain perlindungan terhadap agama Islam, jiwa, akal dan kehormatan.

Diantara sasaran pokok syariat Islam adalah membebaskan manusia dari kemiskinan menuju kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya. Al-Quran dan Al-Sunnah menekankan agar setiap manusia bekerja secara produktif, mengolah kekayaan agar menjadi sumber ekonomi sebagai penunjang kebutuhan hidupnya.

Islam mengatur adanya hak milik (kepemilikan) bagi individu maupun kolektif. Pada hakekatnya merupakan wujud keberpihakan Islam pada upaya untuk membebaskan manusia dari kemiskinan dengan memberikan sarana dan sumber daya alam yang siap dikembangkan secara ekonomis. Oleh karena konsep kepemilikan dalam Islam memiliki implikasi terhadap pengembangan ekonomi umat.

Sedangkan yang terjadi pada sistem kapitalisme hari ini sangat jauh dari kepemilikan yang ada pada sistem Islam. Sebagai contohnya adalah saat pembuatan jalan tol yang ada di Semarang-Batang di Kendal, Jawa Tengah.Warga mengatakan jika pembangunan jalan tol tersebut membuat rumah mereka di gusur untuk bangun jalan tol. Warga juga mengatakan jika uang yang di gunakan untuk ganti rugi tersebut tak setara dengan tanah dan rumah mereka. Kata salah satu seorang ibu yang rumah nya ikut di gusur mengaku kalau tanah dan rumahnya dieksekusi menggunakan alat berat pada Senin 23 April 2018 kemarin (kompas.com).

Sungguh negara dalam cengkraman kapitalisme tidak akan pernah menjadi sebuah negeri maju karena sejatinya sistem kapitalisme ini akan membuat rakyat kecil semakin sengsara dan para kapitalis lah yang akan sejahtera.

Pernyataan Jokowi yang akan menghijrahkan Indonesia menjadi negara maju itu adalah suatu hal yang mustahil terjadi mengingat Indonesia saat ini dalam kungkungan Kapitalisme. Maka menghijrahkan suatu negeri menjadi maju mustahil di wujudkan jika sistem ini tidak di ganti dengan sistem yang berasal dari Allah, yakni Sistem Islam.

Wallahu ‘alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *