Kekuasaan yang Disalahgunakan

Spread the love

Oleh : Rosyidah, S.H.

 

#MuslimahTimes — Pada hari kamis 23 Agustus 2018, Idrus Marham menerima surat perintah dimulainya penyidikan (SPDP) dari KPK. Selanjutnya Jumat, 24 Agustus siang Idrus Marham sudah mengajukan surat permohonan diri sebagai Menteri Sosial tersebut kepada Presiden Joko Widodo dan dari kepengurusannya di Partai Golkar. Idrus Marham membenarkan bahwa pengunduran dirinya ini terkait statusnya sebagai tersangka di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

KPK menduga ada keterlibatan Idrus Marham dalam kasus dugaan suap pada proyek pembangunan PLTU Riau-1 di Provinsi Riau dan diduga menerima suap sebesar Rp500 juta. Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, ada sejumlah pertemuan yang dilakukan Idrus dengan Direktur Utama PLN Sofyan Basir dan para tersangka, Eni Maulani Saragih dan Johannes B Kotjo.

Sebagai mantan menteri sosial, harta kekayaan Idrus Marham tercatat Rp9.531.079.160 dan 40.000 dollar AS dengan harta tidak bergerak total nilainya mencapai Rp7.976.391.000. Harta berupa tanah dan bangunan itu tersebar di sejumlah daerah. Diantaranya tanah dan bangunan di Jakarta Timur seluas 400 meter persegi dan 768 meter persegi yang merupakan perolehan sendiri pada 2002. Kemudian, tanah dan bangunan seluas 612 meter persegi dan 245 meter persegi di kota Makassar, yang merupakan perolehan sendiri pada 2004.

Demokrasi Menjadi Jalan untuk Memperoleh Harta dan Tahta

Demokrasi dapat didefinisiskan sebagai sebuah bentuk kekuasaan (kratos) dari atau oleh rakyat untuk rakyat (demos). Dalam konteks politik kekuasaan diartikan sebagai pemerintahan, sedangkan rakyat adalah sebagai warga negara. Demos bukanlah rakyat secara keseluruhan, tetapi mereka yang berdasarkan kesepakatan formal mengontrol sumber kekuasaan dan bisa mengklaim kepemilikan atas hak-hak individu dalam proses pengambilan keputusan yang menyangkut dengan urusan publik atau pemerintahan.

Dalam banyak kasus yang terjadi, kekuasaan sering dijadikakan sebagai alat untuk mencari dan mempertahankan kekuasaan. Sehingga tidak mengherankan kalau politik atau kekuasaan sering bermakna kotor atau menghalalkan segala cara. Termasuk dijadikan jalan untuk memperoleh harta sebanyak-banyaknya. Bagi mereka, jabatan identik dengan martabat, kehormatan, bahkan ladang penghasilan yang subur. Biaya kampanye yang sangat mahal, pengeluaran yang tidak sedikit untuk memperoleh jabatan yang diinginkan, menjadi tujuan utama saat berkuasa untuk mengembalikan modal secepat mungkin. Hal ini juga berpengaruh pada gaya hidup mereka yang menyesuaikan dengan citra tersebut. Memiliki gaya hidup yang mewah mulai dari pakaian, tempat tinggal, kantor hingga mobil dinas dengan harga ratusan juta hingga milyaran rupiah. Tidak hanya hidup dengan bergelimang kemewahan tetapi juga menjadi bak selebriti terkenal yang dalam waktu sekejap menjadi orang tersohor. Lengkap dengan fasilitas dan pengawalan yang ketat.

Sistem politik demokrasi telah menyesatkan banyak politisi yang terlibat dan berkecimpung di dalamnya. Konsep dasar demokrasi kedaulatan di tangan rakyat telah menjadikan banyak politisi muslim terjebak dalam kesyirikan dan dosa. Mereka melegislasi perundangan dan hukum berdasarkan selera dan keinginan mayoritas bukan berdasarkan Alquran dan Assunnah. Para politisi dan pejabat dalam sistem demokrasi tidak lagi memandang jabatan dan kekuasan sebagai amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt yang tidak ada pembela pada hari itu kecuali amal kebaikan yang telah dilakukannya semasa hidup di dunia.

Tauladan dari Para Khalifah di Masa Islam

Didalam Sistem Islam, kekuasaan dijadikan sebagai alat untuk menunjukkan ketaatan kepada Allah Swt. dengan mewujudkan kesejahteraan kepada umat manusia secara keseluruhan. Jabatan dan kekuasaan adalah amanah yang di hari perhitungan nanti akan dimintai pertanggugjawabannya oleh Allah Swt. Hal ini sebagaimana apa yang Rasulullah saw. nasehatkan kepada Abu Bakar ra:

“Hai Abu Bakar, urusan kedudukan itu adalah untuk orang yang tidak menginginkannya, bukan untuk orang-orang yang menonjol-nonjolkan diri dan memburunya. Ia adalah bagi orang yang memandang kecil urusan itu dan bukan bagi orang yang mengulur-ulurkan kepalanya untuk itu”.

Rasulullah Saw. juga telah menjelaskan: Sesungguhnya kepemimpinan itu adalah amanat dan pada hari akhirat kepemimpinan itu adalah rasa malu dan penyesalan, kecuali orang yang mengambilnya dengan haq serta melaksanakan tugas kewajibannya. (HR. Muslim)

Selain itu, kita bisa mengambil contoh teladan bagaimana pada masa Daulah Khilafah Islamiyyah para Khalifah sangat amanah dan berhati-hati dalam menjalankan tugasnya sebagai pemimpin negara. Mereka adalah orang-orang yang senantiasa takut kepada Allah SWT. Bahkan hidup mereka begitu sederhana dan tidak ingin terlihat lebih dibandingkan dengan rakyat-rakyatnya.

Sebagai teladan pertama, Khalifah Abu Bakar Ash Shidiq di hari pembaitannya berpidato di hadapan rakyatnya.

“Hai umat, aku telah diangkat untuk memerintahmu. Sebenarnya aku terpaksa menerimanya. Aku bukanlah orang yang terpandai dan termulia dari kamu. Bila aku benar dukunglah bersama-sama, tetapi jika aku menyimpang dari tugasku, betulkanlah bersama-sama. Jujur dan lurus adalah amanat, sedang bohong dan dusta adalah penghianatan.”

Pidato beliau ini bukanlah bentuk pencitraan semata. Selama beliau berkuasa dengan berbagai prestasi yang dicapainya beliau tetap sederhana jauh dari sikap berfoya-foya dan pamer kekayaan. Dengan penuh ketaqwaan beliau tetap waspada dan berhati-hati terhadap amanah kekuasaan yang dipegangnya.

Teladan kedua, Khalifah Umar bin al Khathab. Khalifah yang dikenal sebagai sosok yang sangat tegas dalam mentaati syariah Islam dan tegas pula dalam hal menjaga diri, keluarga dan para pejabat di pemerintahannya untuk tidak menyelewengkan kekuasaan demi kepentingan pribadi. Umar bin al Khathab pernah memaksa putranya Abdullah bin Umar untuk segera menjual unta gemuk yang dimilikinya. Hal itu karena sang putra menggembalakan untanya di tanah milik Negara. Bahkan, Umar bin Khathab juga memerintahkan putranya untuk mengembalikan seluruh hasil penjualan untanya ke dalam kas Negara (baitul maal).

Khalifah Umar tidak menginginkan anak-anaknya bersikap aji mumpung memanfaatkan fasilitas Negara selama beliau berkuasa. Masya Allah!

Teladan ketiga, Khalifah Ali bin Abi Thalib. Beliau adalah orang yang zuhud (sederhana dalam hidup). Beliau memandang bahwa zuhud bagi penguasa merupakan sesuatu yang penting dan wajib. Beliau berkata, Allah menjadikanku sebagai imam dan pemimpin. Aku melihat perlunya Aku hidup seperti orang miskin dalam berpakaian, makan, dan minum sehingga orang-orang miskin mengikuti kemiskinanku dan orang-orang kaya tidak berbuat yang berlebihan. (Biharul Anwar, jilid 40, hlm. 326).

Teladan keempat, Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Pada saat beliau menjabat sebagai khalifah, beliau menginfakkan semua pakaian yang dimilikinya. Yang tersisa hanya satu gamis saja. Gamis ini tidak pernah dilepasnya sampai kotor. Ketika kotor, ia mencucinya dan berdiam diri tidak pergi kemana-mana. Beliau bertahan hanya di rumah saja sampai gamisnya itu kering.

Kesederhanaan dan kebersahajaan Umar bin Abdul Aziz ternyata ditiru oleh istrinya, yang bernama Fathimah binti Abdul Malik. Sang istri memberikan semua hartanya untuk kepentingan Baitul Mal. Dengan begitu, ia tidak ada bedanya dengan orang kebanyakan. Hidup apa adanya dan cenderung berkekurangan. Padahal ia istri khalifah.

Selain beberapa contoh di atas, masih banyak lagi contoh teladan dari Rasulullah Saw. dan para sahabat selama mereka menjabat sebagai kepala negara. Kekuasaan tidak menjadikan mereka sombong bahkan lupa terhadap kewajiban-kewajiban yang harus ditunaikan untuk kesejahteraan rakyat. Mereka adalah para pemimpin yang faqih dalam agama, memiliki keimanan yang kokoh terhadap akhirat. Cakap dalam memimpin dan memberi teladan kepada para pegawai dan pejabat di bawahnya beserta segenap rakyatnya.

Mereka adalah para pemimpin yang dicintai oleh rakyatnya dan disegani para lawannya. Jauh berbeda dengan sikap para pemimpin dan para pejabat yang berada dalam sistem demokrasi. Sepatutnya kita bisa mengambil contoh dari para Khalifah dalam memimpin rakyatnya agar terwujud kehidupan yang aman dan sejahtera. Wallohu ‘alam bii ash shaawab.

 

=========================

Sumber Foto : Berita Transparansi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *