Mendulang Suara Pemilih Pemilu

Spread the love

Oleh. St. Rajma NS, S.Pd

(Pemerhati Remaja dan Anggota Komunitas Revowriter)

 

#MuslimahTimes — Pemilu, hajatan lima tahunan ini akan kembali digelar tahun 2019.  Diantara sekian juta penduduk Indonesia yang terdaftar sebagai pemilih tetap. Pemilih pemula menjadi  incaran para caleg dan capres.

Bukan tanpa alasan. Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang dilansir dalam pemilu.com menunjukkan jumlah pemilih pemula pemilu 2014 yang berusia 17 sampai 20 tahun sekitar 14 juta orang. Sedangkan yang berusia 20 sampai 30 tahun sekitar 45,6 juta jiwa.Pada pemilu 2004, jumlah pemilih pemula mencapai sekitar 27 juta dari 147 juta pemilih. Pada pemilu 2009 sekitar 36 juta pemilih dari 171 juta pemilih. Kemudian data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2010 penduduk berusia 15-19 tahun sebanyak 20.871.086 orang, dan usia 20-24 tahun sebanyak 19.878.417 orang. Jika dijumlahkan mencapai 40.749.503 orang. Pada Pemilu mendatang ini, jumlah pemuda yang mempunyai hak pilih bisa mencapai 40 sampai 42 persen.

Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo,pun angkat suara terkait pemilih pemula ini. Mendagri menyatakan terdapat 5 ribu anak yang pas berusia 17 tahun saat Pilpres 2019. Ia mengimbau para pemilih pemula itu untuk proaktif dan angan golput dengan ikut memberikan hak suaranya (detik.com).

Berbagai upaya dilakukan pemerintah untuk menggalang partisipasi generasi muda yang nanti akan  menjadi pemilih pemula. Diantaranya Dispendukcapil mulai fokus melakukan perekaman e-KTP untuk pemilih pemula. Kemendagri melakukan terobosan dengan menyusun  cerita dalam bentuk komik. Komik itu akan memuat konten terkait pentingnya penggunaan hak suara pemuda bagi nasib Indonesia.

 

// Salah Kaprah Politik Literacy //

Ada keresahan dan kekhawatiran tersendiri bagi beberapa kalangan yang masih memiliki idealisme. Bagi mereka pemilih pemula dan pemuda tidak selayaknya apatis.  Hemat mereka, Jumlah yang begitu besar akan menentukan nasib demokrasi ke depan. Citra demokrasi akan menjadi elok bila pemilih pemula dapat berpartisipasi dengan sehat dan baik. Sebaliknya, wajah demokrasi akan tercoreng bila pemilih pemula terpasung dalam lingkaran mobilitasi partai politik berbayar.

Hingga solusi yang ditawarkan tak lain adalah penggalakan ‘politik literacy’ atau bahasa sederhananya ‘melek’ politik. Lewat iklan layanan masyarakat sampai seminar-seminar pra pemilu, pelajar dan mahasiswa dilibatkan aktif. Harapannya agar pemuda tidak lagi memandang ‘politik itu kotor’, tidak golput dan menggunakan hak pilihnya secara sadar untuk  memilih wakil dan pemimpin yang tepat.

Namun, kita tentu tak boleh menyalahkan sepenuhnya keapatisan pemuda ini. Sebab pada faktanya, demokrasi di Indonesia melahirkan kehidupan perpolitikan yang jauh dari kata bersih alias kotor dan menjijikkan. Korupsi merajalela di tubuh elit politik, dari yang paling rendah hingga pucuk penegak hukum, Mahkamah konstitusi. Boleh jadi keapatisan pemuda muncul dari sini. Mereka muak dengan janji-janji para caleg dan capres yang tak jua terealisasi.

Mari buka lagi lembaran sejarah pemilu Indonesia, sudah kesekian kali Indonesia menggelar pesta demokrasi. Akan tetapi, selalu saja pemilu hanya berujung pilu. Penguasa yang terpilih tidak benar-benar melaksanakan amanah rakyat. Biaya jutaan hingga milyaran yang dikeluarkan saat kampanye, mutlak harus kembali ke kantong mereka.

 

// Menjadi Pemuda ‘Melek’ Politik //

Politik dalam islam secara lughah dimaknai  ‘pemeliharaan atau pengurusan’. Makna ini sungguh jauh berbeda dengan  politik ala kapitalis yang menekankan pada usaha meraih kekuasaan.  Adapun maksud siyasah menurut istilah/syara’ adalah ri’ayah asy-syu’un al-ummah dakhiliyyan wa kharijiyan (mengatur/memelihara urusan umat sama ada dalam atau luar negeri) [Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani, Muqaddimah ad-Dustur]. Pengertian ini diambil dari beberapa hadis di mana Rasulullah saw menggunakan lafaz ‘siyasah’ untuk menunjukkan maksud pengurusan/pemeliharaan urusan umat, antaranya hadis riwayat Bukhari dan Muslim.

Mengacu pada defenisi ini maka politik adalah urusan seluruh lapisan masyarakat tak terkecuali bagi pemuda.  berpolitik adalah perkara mulia. Jauh dari ketamakan duniawi. Mengurusi kepentingan umat dan behukum pada aturan Ilahi hingga kesejahteraan diraih.

Tak berlebihan kiranya Ir. Soekarno dalam sebuah pidatonya yang sangat terkenal “Berikan kepadaku seribu orang tua maka akan kucabut semeru dari akarnya, tetapi berikan kepadaku sepuluh orang pemuda maka akan kuguncangkan dunia”, Bung Karno jelas  tidak sedang  menghina kalangan orang tua. Namun, baginya pemuda adalah  simbol kekuatan. Garda terdepan dalam memajukan bangsa ini.

Pemuda tak selayaknya hanya menjadi penyumbang suara terbanyak dalam pemilu. Dan setelah pesta usai,  kembali bungkam, tak bersuara. Maka menjadi sebuah keharusan, pemuda melek politik. Tentu melek yang sesungguhnya bukan sekadar ikut-ikutan.  Melek politik yang sesunggguhnya adalah mengembalikan pengaturan urusan masyarakat pada As-Syari’ yaitu Allah ‘azza wa jalla melalui penerapan Islam Kaffah.

 

 

=========================

Sumber Foto : KNPI Semarang

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *