Mengukir Cinta di Hati Ananda

Spread the love

Oleh: Ulfa Ummu Fara

Muslimah Times— Siapa yang pernah mendapat label sebagai ibu pemarah oleh ananda? Diingat sebagai ibu pilih kasih. Membuat ananda merasa tersisih. Atau dianggap tidak sayang anak oleh buah hati sendiri? Sedih pastinya ya, Bunda. Terlebih setelah apa yang kita upayakan selama ini membutuhkan perjuangan jatuh bangun dalam mengasuhnya.

Namun, jangan patah arang. Jadikan ini sebagai pelecut diri untuk berbenah. Kita harus berubah. Kita perlu mencari solusi untuk mengakhiri kesalahpahaman ini. Mari kita cek kembali apakah kita sudah melakukan hal berikut ini untuk mengukir cinta di hati ananda?

Pertama. Hadir dan fokus membersamai tumbuh kembang ananda. Anak tidak hanya butuh raga kita dalam kesehariannya. Ia juga butuh teman yang hadir mengisi relung jiwa. Sudahkah kita mengupayakannya? Jangan sampai raga kita saja yang membersamainya. Duduk bersama ananda, tapi sibuk dengan dunia maya. Anak dibiarkan sendiri. Tanpa interaksi berarti. Tak terasa membuat ananda merasa tidak dihargai. Naudzubillah. Bunda pasti tahu rasa sakitnya di mana? Yups, di dalam jiwa ananda pastinya. Untuk menyembuhkannya butuh waktu lama.

Kedua. Bersabar dalam pengasuhan. Allah telah menjelaskan salah satu kedudukan anak dalam keuarga Muslim.

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Alla -lah pahala yang besar.” (QS. At-Taghabun [64] : 15)

Ayat di atas menjelaskan kehadiran anak adalah sebagai ujian atau cobaan bagi kedua orangtuanya. Ujian ini dapat berupa kesenangan ataupun kesusahan. Sangat wajar ketika ananda terkadang menguji kesabaran kedua orangtuanya. Keunikan dan kreatifitasnya tak jarang menjadi hal menantang bagi orangtua. Kesabaran pun terus ditempa. Maka, nikmati sebagai proses meningkatkan kualitas diri. Jangan lupa ada pahala yang tengah menanti. Maka bersabarlah Bunda. Ini tidak akan lama.

Ketiga. Mengelola emosi dan pikiran. Ini yang sering membuat kita mudah menancapkan luka di hati ananda. Tak heran bila ingatan mereka mengukir pribadi kita sebagai pemarah, galak, tidak punya kasih sayang. Bunda, mari kita kelola emosi. Jangan biarkan syaitan memenangkan pertarungan ini. Terapi diri dengan istighfar. Belajar menerima setiap keunikan anak. Belajar banyak memaafkan. Ikhtiar ini in syaa Allah membuat kita lebih tenang. Emosi terkendalikan. Jiwa Anak terselamatkan.

Keempat. Mengapresiasi setiap usaha anak. Seperti halnya kita, anak juga ingin dihargai. Memberikan apresiasi pada setiap usaha ananda akan membuatnya merasa disayangi. Dihargai. Dimengerti. Ia pun akan semakin termotivasi untuk belajar dan berusaha lebih baik lagi.

Kelima. Menjadi tempat ternyaman bagi ananda untuk mengungkapkan keinginan dan pemikirannya. Anak perlu tempat nyaman. Mendapatkan kasih sayang. Membagi keresahan. Berdiskusi menghadapi persoalan. Hati yang menenangkan. Motivasi menguatkan. Semua itu menjadi kebutuhan. Sudah semestinya semua ini kita upayakan. Agar kita menjadi orangtua yang dirindukan.

Keenam. Berdoalah. Doa adalah jembatan antara ikhtiar dan ketentuan Allah. Mohon pada Allah kemampuan untuk diri kita mengasuh dan mendidik ananda dengan cinta. Doakan pula kelembutan hati ananda agar pengasuhan berjalan membahagikan.

Mari, Ayah dan Bunda, Isi jiwa ananda dengan cinta. Ukir kenangan manis dalam benaknya. Yakinkan, bahwa ada cinta yang besar untuk ananda. Bersama ananda kita gapai cinta Sang Maha Pencinta. Allah azza wajalla.

[Fz]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *