Menjadi Orangtua Pembelajar

Spread the love

 

EL Fitrianty, penulis buku anak Islami

 

Anda hanya diminta menyediakan waktu bersama anak. Jika Anda menyediakannya, sungguh anak-anak mendekati, orangtua akan merasakan kesejukan, ketenangan, keriangan dan anak benar-benar menjadi cahaya mata (qurrotu ‘aini) dan bukan pengganggu orangtua. (Abah  dalam buku “Sudahkan Aku Jadi Orangtua Shaleh?”)

 

Anak adalah cermin bagi orangtuanya. Kalau anak salah berbuat sesuatu, jangan langsung menyalahkan anak. Kita sebagai orangtua perlu menyadari bahwa kesalahan-kesalahan yang dilakukan anak-anak kita tidak murni kesalahan mereka sendiri, tapi ada andil kita yang –bisa jadi- salah atau belum sempurna dalam mendidik mereka. Kita sebagai orangtua hendaknya  mau berpikir dan meresapi apapun kejadian yang menimpa anak dan keluarga kita. Insya Allah, ada ibrah dan pelajaran bagi kita sehingga harapannya bisa menjadi orang-orang yang kualitasnya lebih baik dari hari ke hari. Kita perlu belajar menjadi orangtua yang selalu openminded dan mau belajar.

Openminded dalam arti terbuka pemikirannya untuk menerima masukan, saran dan kritik yang membangun dari orang lain. Kita manusia biasa. Ada peluang besar berbuat salah. Kalau diingatkan orang lain, ya legowo (menerima dengan lapang dada), merenungi apa yang sebenarnya terjadi. Jadi tidak grusa-grusu dalam bertindak sehingga terkesan emosional, mengedepankan ego dan baqa’ kita terlebih dulu.

Menjadi orangtua yang mau belajar? That’s good! Karena belajar itu long lasting, dari sejak buaian hingga liang lahat. Jadi tidak ada kata terlambat dalam hal belajar. Kapan pun, termasuk saat kita sudah mendapatkan predikat sebagai orangtua. Dengan bekal openminded dan mau belajar, akan kita dapatkan ilmu yang sangat berguna untuk membangun keluarga saleh. Bukankah itu cita-cita kita semua?

Menjadi orangtua pembelajar itu pilihan. Tidak semua orangtua mengambil kesempatan emas tersebut. Ada orangtua yang menutup diri dan cenderung merasa paling benar dan paling berilmu. Akhirnya, jika ada yang memberi masukan atau saran, akan diabaikan. Padahal emas itu berharga bukan? Siapa yang tak mau diberi emas (yang jalannya halal, tentunya)? Jadi mengambil kesempatan untuk menjadi orangtua pembelajar itu sungguh kerugian yang besar.

Menjadi orangtua pembelajar adalah bekal berharga untuk anak-anak kita. Pada eranya nanti, anak-anak kita akan mendapati zamannya semakin keras tantangan dan hambatannya. Maka menyiapkan ilmu anak-anak kita sedari mungkin adalah modal mereka untuk menapaki jalan mereka di kemudian hari.

Ayo bersama-sama menjadi orangtua pembelajar. Yang tak malu mengais ilmu dari siapapun juga. Ada potongan puisi Abah Ihsan yang berjudul “Katanya, Anak Adalah Anugerah” sebagai berikut:

Orangtua Biasa, Memberitahu;

Orangtua Baik, Menjelaskan;

Orangtua Bijak, Meneladani;

Orangtua Cerdas, Menginspirasi.

 

Jadi, mau memilih menjadi orangtua yang seperti apa, itu pilihan kita.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *