Menjaga Keluarga dari Api Neraka

Spread the love

Oleh Kholda Najiyah

 

Ramadan tiba, maksiat sirna. Itu harapan umat Islam. Harapan keluarga-keluarga muslim. Maka, moment Ramadan hendaknya dimanfaatkan untuk memperkuat pertahanan keluarga. Memperkuat amal-amal saleh, memupuk ketaatan pada-Nya. Mencegah agar tidak tumbuh secuilpun bibit-bibit maksiat di dalamnya. Sebaliknya, meningkatkan derajat iman seluruh anggota keluarga. Bagaimana caranya?

 

  1. Menambah Amal Saleh

 

Menambah, berarti mengadakan yang belum dilakukan sebelumnya. Menambah amal saleh penting dalam rangka mengalahkan amal dosa. Ya, kita tidak pernah tahu, mungkin kerap melakukan dosa-dosa kecil. Nah, semua bentuk amal saleh mampu menghapus dosa-dosa kecil itu, baik amal wajib maupun sunah. Semakin banyak beramal saleh, semakin banyak pula peluang dosa yang terhapus. Misalnya, jika selama ini belum pernah berwakaf, keluarkanlah jika ada kelonggaran rezeki.  Jika selama ini belum pernah mengisi pengajian, bersedialah jika ada kesempatan, dll.

 

  1. Meningkatkan Amal Saleh

 

Meningkatkan, berarti menaikkan kualitas amal saleh yang selama ini telah dilakukan. Misalnya, berusaha menambah jumlah bacaan Alquran, menambah hafalan, menambah kajian,  menambah ibadan sunah, dst. Kesibukan dalam beramal saleh akan melalaikan dari beramal buruk. Karena, manusia itu kalau tidak sibuk dalam kebaikan, pasti dalam keburukan.

 

  1. Tegas Menasihati

 

Orangtua dan anak harus saling menasihati dalam kebaikan. Tidak boleh membiarkan kemaksiatan. Bahkan tidak boleh sekadar membiarkan kelalaian, meski belum terkategori maksiat; karena jika diabaikan bisa saja mengarah pada kemaksiatan.  Memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari mengerjakan yang mungkar. Misal, ayah harus tegas membangunkan anak untuk salat jamaah. “Perintahkanlah keluargamu untuk mengerjakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya.” (Thaha: 132). Ibu tegas melarang anak mengkonsumsi makanan yang tidak halal. Anak juga bisa jadi pengingat, misal mengingatkan ibunya yang tidak menutup aurat, membangunkan ayah yang ketiduran saat azan, dll.

 

  1. Memotivasi Sukses Akhirat

 

Seluruh anggota keluarga hendaknya saling memotivasi untuk meraih sukses akhirat. Bukan hanya fokus mewujudkan sukses dunia yang identik dengan materi semata, lebih penting memfasilitasi kesuksesan untuk masa depan hakiki. Misal, orangtua tidak pelit menyediakan fasilitas untuk kajian keislaman, sebagaimana tidak pelit mengeluarkan fasilitas penunjang hobi atau pendidikan formalnya.

Orangtua tidak pelit waktu membimbing anak-anaknya dengan materi keislaman, sebagaimana royal terhadap waktu untuk mencari nafkah. Orangtua wajib membersihkan rumah dari sarana-sarana berupa iman seperti video, film, musik, buku yang menyimpang, surat kabar, dan majalah yang merusak.

 

  1. Saling Pantau Aktivitas Keluarga

 

Setiap anggota keluarga hendaknya saling tahu aktivitas masing-masing, sehingga terjamin kebaikannya. Bahkan jika perlu mengenal lingkungan aktivitas masing-masing, lokasinya, teman-temannya, dll. Istri tahu persis di mana suaminya bekerja. Ayah tahu persis istrinya bergaul dengan siapa. Orangtua juga memantau anak-anaknya menghabiskan waktu di mana dan dengan siapa. Semua dilandasi rasa saling percaya, bukan karena curiga. Jadi harus ada kedekatan dalam keluarga. Harmonis satu sama lain. Ada komunikasi dan keterbukaan. Saling berbagi dan saling memahami.

 

  1. Memecahkan Persoalan Bersama

 

Keluarga adalah tempat terpercaya untuk mencurahkan segala persoalan. Tempat untuk memikul beban bersama, suka dan duka. Keluarga bukan tempat untuk bersenang-senang semata, juga harus siap menghadapi badai duka.

Jika anak ada masalah, orangtua wajib tahu dan membantu menyelesaikannya sesuai Islam. Baik masalah fisik maupun mental. Jika istri ada masalah, suami tidak boleh cuek. Jika suami ada masalah, istri ikut mencarikan jalan keluar. Dengan demikian tercegah untuk mengambil jalan pintas, apalagi jalan yang salah dan diharamkan.

 

  1. Membimbing Keluarga untuk Bertaubat

 

Taubat dan istighfar untuk menghapuskan dosa, menyesalinya, berketetapan hati untuk tidak mengulanginya, dan mengembalikan hak-hak orang lain jika ada. Firman Allah: ‘Wahai Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu’.” (At-Tahrim: 8). Semoga dengan langkah ini, bertambahlah iman kita dan jauh dari maksiat.(kholda)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *