Operasi Plastik : Budaya Pengundang Murka Allah

Oleh Dewi Sartika, S.Pd

Tenaga Kesehatan di Jakarta Pusat
Siapa yang tidak mengenal Korean Wave saat ini? Korean Wave adalah sebuah fenomena besar di mana budaya Korea Selatan berkembang begitu pesat dan tersebar ke publik dunia sejak tahun
1990-an. Tersebarnya Korean Wave atau yang biasa disebut juga dengan Hallyu tidak terlepas dari efek globalisasi dan dibantu oleh berbagai media massa seperti internet, facebook, twitter,
instagram dan youtube.

Mayoritas penggemar Korean Wave berasal dari usia remaja, namun tidak bisa dipungkiri Korean Wave juga menjangkiti usia dewasa yang dapat ditemukan di Negara seperti Cina,
Thailand, Indonesia dan Amerika Serikat. Untuk usia remaja penggemar Korean Wave lebih menyukai budaya K-pop atau Korean Pop yang merupakan aliran musik yang dipopulerkan oleh
idols group yang terbagi menjadi boyband dan gilrband. Untuk usia dewasa budaya yang lebih digemari adalah K-Drama atau Korean Drama yang merupakan drama dengan berbagai jenis alur cerita menarik dan didukung dengan jajaran aktor dan aktris yang rupawan . K-Drama
sanggup membuat sebagian orang rela untuk begadang hanya untuk menyelesaikan drama
tersebut.

Korean Wave ternyata tidak hanya membuat orang-orang menjadi terpesona dengan segala sesuatu yang berhubungan dengan K-pop dan K-Drama. Namun, Korean Wave mampu menarik minat masyarakat dunia untuk datang langsung ke Korea Selatan agar dapat menyaksikan langsung keindahan Negeri Gingseng tersebut. Yang lebih mengejutkan, ternyata keingingan
wisatawan asing untuk pergi melancong ke Negeri yang dipimpin oleh Moon Jae-In tidak hanya untuk menikmati keindahan alamnya saja, namun tidak jarang para turis ini ingin mencicipi salah satu budaya Korea Selatan yaitu Operasi Plastik.

Korea Selatan adalah Negara yang sangat memperhatikan tentang keindahan fisik dan penampilan. Maka tidak heran, jika operasi plastik adalah yang lumrah bagi masyarakat disana, Bahkan operasi plastik sudah menjadi budaya yang mengakar. Berdasarkan data, satu banding lima wanita di Seoul telah melakukan operasi plastik dan berdasarkan polling yang dilakukan
oleh BBC ditemukan bahwa 50% lebih prosedur tersebut dilakukan oleh wanita di usia 20-an.

Kaum Pria pun tidak ketinggalan dalam budaya ini dengan menjadi 15% bagian dari maraknya operasi plastik tersebut.
Tingginya minat operasi plastik di Korea Selatan tidak terlepas dari pola pikir masyarakat yang beranggapan bahwa kesuksesan dan kebahagiaan akan didapat dengan memiliki wajah yang
tepat. Mahalnya biaya untuk tindakan operasi plastik pun bukan penghalang bagi mereka yang mengidam-idamkan wajah sempurna. Perlu diketahui, bahwa kisaran biaya operasi plastik di Korea Selatan berkisar pada harga 15 juta-120 juta rupiah. Harga yang sangat fantastis untuk sebuah tindakan yang mengundang murka Allah. No Pain No Beauty, mungkin kata-kata inilah
yang dipegang kuat oleh masyarakat Korea Selatan, tidak peduli betapa menyakitkan dan mahalnya prosedur tersebut asal dapat terlihat rupawan. Kenyataan yang miris yang tetap
menjadi idaman.

Operasi plastik adalah hal yang umum dan bukanlah hal yang tabu di negeri para Idols. Bahkan para orangtua di sana sudah menyiapkan investasi untuk putera-puterinya menjalankan operasi
plastik. Hal ini sungguh mengkhawatirkan, karena secara tidak langsung para orangtua sendiri lah yang menginginkan dan membiayai prosedur menyakitkan tersebut. Operasi plastik juga bisa menjadi indikator bahwa mayoritas penduduk Korea Selatan tidak memiliki self-esteem terhadap fisik dan penampilan diri mereka sendiri. Mereka rela untuk mengubah wajah dengan prosedur yang begitu menyakitkan hanya untuk kehidupan dunia semata.
Hal ini sangat bertentangan dengan konsep Islam yang tidak pernah menilai individu hanya lewat penampilan semata, karena Allah hanya membedakan hamba-Nya berdasarkan kadar taqwa dan amalan, bukan fisik yang akan dimakan usia. Sesuai dengan hadits yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada rupa dan harta kalian. Namun yang Allah lihat adalah hati dan amalan kalian” HR. Muslim no. 2564.
Ketidak puasaan dengan penampilan yang dirasakan oleh warga Korea Selatan tidak lepas dari tingginya kasus bullying di Negara ini. Kasus bullying paling tinggi terjadi pada lingkup sekolah.

Di negara ini pelajar yang memiliki penampilan buruk akan menjadi santapan empuk bagi pelaku bullying. Pada tahun 2012 terjadi kasus bullying yang mengakibatkan anak laki-laki berusia 13 tahun bernama Seung Min meninggal akibat bunuh diri dengan cara melompat dari apartemennya di lantai 7. Dari surat yang di tulis olehnya sebelum meninggal, ia menceritakan
bagaimana perilaku yang didapatnya saat disekolah. Ia dipukuli, dibakar dengan menggunakan korek api, diikat dengan kabel listrik dan sebagainya.
Hal ini yang menjadi salah satu sebab mengapa tindakan operasi plastik begitu popular, karena dengan memiliki wajah yang cantik atau tampan kemungkinan untuk mendapat perilaku yang
tidak menyenangkan dapat diminimalisir, kesempatan untuk bersosialisasi akan tinggi begitupun
dengan peluang mendapatkan pekerjaan.

Meskipun operasi plastik menjadi sebuah hal yang biasa di Korea Selatan, ternyata masih ada segelintir pihak yang menentang keras tindakan tersebut. Salah satunya adalah Kepala Asia
Institute, Emanuel Pastreich yang menyatakan bahwa masyarakat Korea telah terdistorsi oleh kesibukan bedah kosmetik, yang telah bergeser ke titik objektifikasi bahwa perempuan hanya
dilihat sebagai objek yang harus menjalani bedah demi terlihat sempurna. Perempuan dibuat
menjadi objek komersial dan komodifikasi. Hal tersebut lebih lanjut dijelaskan bahwa sangat asing dengan budaya tradisional Korea.

Beliau juga menambahkan bahwa budaya tradisioanal korea seharusnya lebih menekankan
karakteristik individu yang berperilaku terpuji, berbakti, dan perhatian terhadap keluarga dan komunitas. Tapi semua itu telah tergantikan dengan budaya obsesif seseorang yang menekankan
penampilan semata yang kian marak di Korea Selatan.

Di tengah perkembangan teknologi yang pesat menyebabkan informasi-informasi mengenai operasi plastik ini sampai ditelinga kaum Muslimin. Awalnya, operasi plastik adalah hal yang sangat tabu untuk dibicarakan, bahkan adalah suatu tindakan yang dianggap keji bagi seorang muslim untuk dilakukan karena berani mengubah ciptaan Allah.

Mirisnya, kian hari justru kian
banyak muslim saat ini yang beranggapan bahwa operasi plastik adalah hak individu, karena
mereka berpikir bahwa “urusan tubuh adalah urusan masing-masing”. Mereka lupa bahwa tubuh ini adalah milik Allah yang kelak di Yaumil Hisab akan dimintai pertanggung jawabannya
atas apa yang telah kita perbuat.
Hal ini tidak lepas dari keberhasilan ideologi sekulerisme yang meracuni pemikiran kaum Muslimin. Doktrin-doktrin yang gencar digemakan oleh penganut sekulerisme bahwa agama
hanya sekedar urusan ibadah saja, sementara masalah kehidupan adalah hal yang berbeda, sukses membuat kaum Muslimin menjadi merasa berhak mengubah ciptaan Allah demi kehidupan yang fana ini.
Padahal Allah telah memperingati kita bahwasanya hidup di dunia ini seperti fatamorgana,

”Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani. Kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhoan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. – Qs. Al-Hadid :20.

Maka sudah selayaknya budaya operasi plastik ini hendaknya dijadikan pelajaran bagi orang-orang berakal dan beriman bahwa operasi plastik sejatinya tidak sepenuhnya menyelesaikan
masalah tapi juga membawa masalah baru yang tidak kalah rumit. Mungkin bagi sebagian orang berpikir bahwa operasi plastik adalah keputusan individu dan bukan menjadi urusan publik, namun kita tidak menyadari bahwa dengan menyatakan diri untuk mendukung operasi plastik atau bahkan melakukan praktik tersebut telah membuat diri kita menjadi bagian dari komoditas yang menjadikan perempuan sebagai objek yang harus terlihat sempurna tanpa cela yang
menggadaikan keimanan hanya untuk kepuasan fisik dan duniawi semata.
Hal ini dapat berimbas pada ketidak puasan terhadap ciptaan Allah Subhanahu Wa ta’ala yang
bisa berujung mengubah ciptaan-Nya lewat operasi plastik. Sedangkan mengubah ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala lewat tindakan operasi plastik adalah tindakan haram yang hanya
diperbolehkan dengan alasan syar’i seperti operasi bibir sumbing, memperbaiki patah tulang karena kecelakaan, membuka penyumbatan anus dan lainnya. Namun jika tujuan dari pengubahan ciptaan Allah Subhanahu wa ta’ala karena ingin terlihat lebih cantik, lebih muda
dan lainnya adalah jelas hal yang haram. Wallahu’alam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *