Remaja Neo-Jahiliyah VS Remaja Islam Kaffah

 

Oleh Hana Annisa Afriliani,S.S

Penulis Buku

Hari gini bukan hal yang aneh kalau remaja terjerembab ke dalam pergaulan bebas tanpa batas. Saking bebasnya, sampai-sampai lupa akan akhirat. Sibuk memenuhi kesenangan dunia, namun lupa berbekal untuk akhirat.

 

Di dalam kehidupan yang tidak menjadikan Islam sebagai aturan hidup kayak sekarang ini, wajar jika remaja ikut terkontaminasi virus liberal. Akhirnya pemikiran dan perilakunya mirip orang-orang jahiliyah sebelum Islam datang. Bedanya, saat ini kita hidup di zaman modern yang Islam sudah turun dengan sempurna. Makanya mereka yang masih bertingkahlaku ‘semau gue’, syariat ditabrak, maksiat disikat, layak disebut sebagai remaja neo-jahiliyah.

 

Ketelanjangan dianggap HAM.  Menyerahkan keperawanan kepada yang dicinta juga HAM. Mabuk miras, narkoba, tawuran menjadi budaya yang seolah gak bisa dilepaskan dari kehidupan remaja zaman now. Lalu dimana syariat? Islam cuma sekadar pajangan di KTP. Sementara dalam kesehariannya istiqomah menuhankan akal dan nafsu. Naudzubillah… Sungguh itulah potret buram remaja zaman now yang tak bisa kita pungkiri adanya.

 

“Mumpung masih muda, nyantai aja keleus! Hidup gak usah dibikin ribed!” celetukan demikian sering terdengar dari lisan remaja. Namun, patutkah kita membenarkan yang demikian? semestinya kita merenungi sabda Rasulullah saw bahwa kelak di hari akhir kita akan ditanyai tentang usia muda kita, untuk apa kita habiskan? Untuk beramal shalih kah? Atau sebaliknya, dengan sederet kemaksiatan tanpa jeda?

 

Rasulullah saw bersabda:

“Rabbmu kagum dengan pemuda yang tidak memiliki shobwah (condong pada kemaksiatan).” [HR. Ahmad]

 

Islam adalah jalan keselamatan. Islam bukan cuma agama ritual, tapi sistem kehidupan. Mau hidup bahagia? Jalanin aja semua aturan Islam alias kaffah dalam berislam. Insyallah kehidupan kita akan diliputi ketenangan dan keberkahan. Apalagi buat para remaja, berislam kaffah akan membuat hidup kita lebih terarah dan penuh makna. Tak mudah galau.

 

Lihat lah contoh-contoh remaja Islam kaffah di masa lalu. Ada Muhamad Al-Fatih yang sangat fenomenal. Di usianya yang baru 21 tahun, ia menjadi panglima perang dan mampu menakhlukkan Konstantinopel menjadi bagian dari Daulah Khilafah Islamiyah. Ada juga Mush’ab bin Umair yang menjadi duta Islam Madinah saat usianya baru 23tahun. Ada pula Usamah bin Zaid yang diangkat oleh Nabi Saw sebagai komandan pasukan kaum Muslimin menyerbu wilayah Syam (saat itu merupakan wilayah Romawi) dalam usia 18 tahun. Selain itu ada Abdullah bin Mas’ud, seorang sahabat yang terkenal sangat mahir dengan al-Quran, memeluk Islam berusia kira-kira 18 tahun. Bahkan dengan berani ia berdiri di depan ka’bah sambil melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran. Sebagai konsekuensinya, ia pulang dalam keadaan penuh luka karena dipukuli oleh sekelompok orang-orang kafir Quraisy.

 

Itulah sosok-sosok remaja Islam kaffah. Berkarakter. Sungguh hanya remaja Islam kaffah lah yang akan menjadi pemenang dalam menghadapi derasnya ujian zaman. Sebab remaja Islam Kaffah menjadikan Allah sebagai tumpuan. Iman berkobar di dada. Dan ketakwaan tergenggam erat di tangan.

 

Ingatlah dear, bahwa dunia adalah tempat persinggahan sementara. Akhirat lah kehidupan yang sesungguhnya. Dan nasib kehidupan akhirat kita kelak ditentukan oleh kehidupan dunia kita hari ini. So, jangan pernah sia-siakan waktu kita  di dunia yang sebentar ini ya dear…berlombalah dalam kebaikan, berupayalah dengan segenap daya untuk menjadi remaja yang dinanti jannah, remaja Islam kaffah.

 

Imam Syafii mengatakan : Sungguh pemuda itu distandarisasi dari kualitas ilmu dan ketakwaannya. Jika keduanya tidak melekat pada struktur kepribadiannya. Ia tidak layak disebut pemuda. Pemuda hari ini adalah pemimpin di masa depan (syubbanul yaum rijalul ghod).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *