Senarai Petang

Spread the love

 

by Eva Liana

 

Mata perempuan setengah baya itu berkaca-kaca, saat mengisahkan duka kematian putra satu-satunya.

“Baru dua puluh tahun usianya,” urai ibu itu di depanku.

Petang itu aku sedang menikmati es kopi susu di warung sederhana miliknya. Tepat di pinggir jalan A.Yani, Banjarmasin. Jalan provinsi yang tembus menuju kota kabupaten, Kandangan, tempat tinggalku.

Matahari pukul 3 siang sedang terik-teriknya menyengat kulit. Membuat mukaku panas dan berminyak. Di sebelah suamiku duduk pula seorang pensiunan polisi yang mengaku telah berusia 70 tahun. Heboh menceritakan pengalamannya saat ditempatkan di Aceh untuk menumpas gerombolan GAM tahun 1999.

Tak lama kemudian, seorang pria muda berkumis tipis, mengenakan jaket hitam, datang membawa buku tebal dan pulpen. Buku dibuka tepat di depan ibu pemilik warung.
Ibu tua berkerudung lusuh yang minta dipanggil “Mama Rama” itu, bergegas mengambil beberapa helai rupiah merah hati. Menyerahkannya dengan pasrah pada si pria muda.

“Yah, inilah nasib. Yang kata orang sudah jatuh tertimpa tangga. Anak lelaki kesayangan baru saja meninggal, sudah ditagih hutang bertumpuk. Kalau tak kuat iman, bisa stress dan masuk rumahsakit jiwa aku, Bu,” keluhnya padaku.

Pria muda berjaket hanya tersenyum miris sambil menuliskan jumlah uang yang diterimanya dalam buku yang ternyata penuh dengan lipatan nota.

“Dia ini petugas koperasi, Bu. Tempatku berhutang. Nasib mujur mungkin belum berpihak ke saya. Warung ini ramai. Sehari bisa dapat seratus dua ratus ribu keuntungan. Tapi karena habis bayar hutang, gali lubang tutup lubang, akhirnya jadi begini,” ungkapnya sambil menunjuk ke pria muda yang hanya mampu menunduk. Agaknya pria itu pun prihatin akan nasib si ibu. Namun apalah daya, ia hanya seorang petugas penagih cicilan koperasi.

“Biarlah orang bicara macam-macam. Saya dibilangin boroslah, tak bisa berhematlah, inilah itulah. Warung selalu ramai, tapi kenapa kelihatan kayak orang miskin. Hidup susaah melulu. Mana tau mereka derita yang saya hadapi. Kalaulah tak ada hutang riba ini, mungkin sudah banyak gelang dan cincin emas di tangan saya.”
Aku hanya manggut-manggut. Mata kutujukan padanya. Sesekali mengiyakan, memancing semangatnya untuk berkisah.

Es kopi kuaduk pelan agar tak mengendap. Kuisap perlahan lewat sedotan. Uhukk, aku tersedak oleh ampasnya. Lidah terasa lengket karena es kopi terlalu manis. Kutambahkan air putih hingga mencapai bibir gelas, agar rasa manisnya bisa ditoleransi lidah.

“Ada juga ibu-ibu yang rajin ke majelis, menegur. Katanya riba itu haram. Mana mereka ngerti, Bu? Andai ada jalan lain, tentu takkan kuambil solusi haram itu. Mereka hanya pandai mengeluarkan dalil, ini haram itu haram, tanpa berusaha memahami keterpaksaanku. Bagaimana lagi aku harus berpikir? Suami meninggal saat putraku masih dalam kandungan. Dan sekarang, putra yang kugadang-gadang sebagai tumpuan harapan, meninggal di usia dua puluh tahun. Baruuu saja, Bu. dua minggu lalu. Minggu depan manyalawi hari.” Mata Mama Rama memerah.

Kubiarkan beliau meluahkan duka yang menyayat dada. Agar sesaknya tak seberapa mengganjal. Lagipula apalah dayaku menolongnya. Aku cuma musafir yang sedang mengurus proses cetak bukuku. Melakukan perjalanan empat jam dari Kandangan ke Banjarmasin. Dan saat ini, sedang menempuh perjalanan pulang kembali ke Kandangan.
Paling tidak, aku sanggup memasang telinga dan mata, menerima curahan hati seorang ibu yang baru saja kematian putranya.

“Biji mata sibiran tulangku, memang sempat jadi anak wala gara-gara berteman dengan preman pasar. Pernah mengonsumsi narkoba dan miras. Sering pulang malam. Bolos sekolah berkali-kali sejak SMP. Selepas SMP, lulus tes masuk di SMK jurusan otomotif.
Bangga sekali aku, Bu. Semua kebutuhan sekolahnya kupenuhi. Kuajak ke pasar beli baju, sepatu, kaos kaki dan buku baru. Tidak tahunya, baru dua bulan sekolah, dia sudah bosan dan berhenti. Kada kawa ditunjul-tunjul lagi. Trus nganggur di rumah, berteman tidak karuan lagi. Habis harta saya ngongkosin dia. Sampai dua buah sepeda motor terjual gara-gara kecanduan obat. Setahun kemudian, dia mau sekolah lagi. Di SMA Bina Banua. Kupikir insyaf. Tidak tahunya, sekolah di sini pun tak sampai dua bulan juga.

“Malasnya terulang.”
Percakapan kami tersela oleh kedatangan pengunjung lain. Dua orang lelaki, yang nampaknya bertujuan seperti kami, sama-sama singgah dari menempuh perjalanan jauh.
Mereka memesan dua porsi nasi kuning dan dua gelas teh es.

Gigiku menggerukup, mengunyah kerupuk. Lalu menyeruput es kopi susuku. Langsat seperempat kilo sudah duluan amblas ke rongga perutku. Entahlah apa pola makan begini sehat. Yang penting enak di lidah adem di perut. Plus mengobati rasa kantuk, supaya tidak ketiduran di kendaraan. Kasian juga suamiku kalau harus menopang tubuhku yang sering diejeknya bagai garfield. Ejekan sayang, sih. Mengingat berat badanku semenjak mulai aktif menekuni passion menulis, merangkak naik.
Usai melayani dua pengunjung tadi, si ibu kembali duduk di depanku. Belum puas mungkin karena tak tuntas cerita. Ia lanjutkan curhat dengan mata merah, menampakkan sembilu luka.

“Walau begitu, aku tetap menyayanginya. Batatamba kemana-mana. Minta banyu ke tuan guru di Sekumpul. mintakan doa juga ke majelis guru di Kertak Hanyar. Tiap habis sholat lima waktu, aku berdoa untuk putraku ini.

Semoga Allah tunjukkan hidayah, dan dia jadi anak yang sholeh. Sungguh Ya Allah, meski ada rasa kecewa, tapi aku ridho, ridho dunia akhirat padanya.”
Hatiku tergetar. Ingat putraku sendiri yang jarang kujenguk di pesantren. Hampir menetes airmata ini. Namun kutahan-tahan. Memilih menyemai rindu berkuah airmata di dalam hati.

Nampaknya, aku tak setangguh dan sehebat ibu ini dalam menyayangi. Walaupun doa kami sama untuk anak. Namun kadang emosi mendominasi diri jika menghadapi tingkah polah anakku yang kuanggap tak paham kondisi orangtua.

“Alhamdulillah, dua tahun lalu, ia menunjukkan tanda-tanda bertobat. Mulai rajin ke majelis. Bahkan khatam Quran sampai dua kali.” Ada binar bangga dalam sinar matanya. “Kemudian dia bilang mau kerja. Kumodali buka usaha bengkel. Baru dua bulan mengelola bengkel, penghasilan pertamanya sudah bisa dipakai untuk beli hape baru.” Ia nampak terharu. “Anakku itu, semenjak tobat, makin lengket denganku. Tiap hari kusediakan teh dan wadai kesukaannya. Kalo malam, kami suka ngobrol, lalu dia tidur di ketiakku. Kayak anak kecil.” Ia setengah tertawa, mengenang putranya, dengan airmata mengembun. Tatapannya menerawang kosong ke jalan raya di depan warung.

“Meninggalnya karena apa, Bu? Sakit atau kecelakaan?” tanyaku, seraya mengaduk sisa es kopi susu tanpa sadar. Sehingga ampasnya terangkat dan tercampur kembali.

“Sakit paru-paru, Bu. Udah bolak-balik rumah sakit. Terakhir, kelihatan seger jadi boleh pulang dan dirawat di rumah. Siapa sangka, sepulang dari rumah sakit, malamnya drop.” Kali ini airmatanya benar-benar menetes.

“Kata tetangga-tetangga di sini, aku ini lebay. Dua hari sebelum kematian anakku, ada kawanku juga kematian putranya akibat kecelakaan. Sangat mendadak. Ia juga syok dan depresi sepertiku. Mereka bandingkan aku dengannya. Komentar mereka, aku seharusnya bersyukur karena masih sempat merawat anak dan menyaksikan proses sekaratnya. Sedangkan dia, tak sempat apa-apa. Tapi ….” Mama Rama mengusap airmatanya. “Bedalah aku dengannya. Aku tak punya sesiapa, selain anakku itu. Sedangkan dia punya suami, anak-anak yang lain, dan cucu-cucu. Artinya, sesedih-sedihnya, masih ada keluarga di sekitar dia. Sedang aku? Kini sebatang kara.”
Aku memandang iba. Terus fokus menghadapkan mukaku padanya. Mencoba berempati. Sementara jam tanganku telah berputar ke angka empat. Azan Ashar baru saja berlalu. Artinya, aku sudah satu jam duduk di sini.

Suamiku memberi isyarat mengajak pulang. Kakek pensiunan masih berbuncah-buncah merangkai kisah.
Kami berdua dilanda rasa tak nyaman yang sama untuk memutus pembicaraan. Akan tetapi, jika tak undur diri, kami bisa kemalaman di jalan.

Terpaksa kuakhiri pembicaraan. Kusalami Mama Rama, mengalirkan empati lewat jabat erat.
“Doakan aku, ya, Bu …,” pintanya sendu.
“Iya, Bu. Semoga Allah memberikan kesabaran dan limpahan rizki agar segera lunas hutang-hutang ibu. Semoga dimampukan untuk ikhlas menerima kehilangan.”

“Nggih, Bu. Rasanya lebih sakit kehilangan anak ketimbang kehilangan suami. Apalagi ditambah lilitan hutang ini.” Ia sedikit bersedu.
Aku termangu tak berdaya. Apa mau dikata? Inginnya bersedekah. Akan tetapi, jangankan membantu dana, uang di kantong kami pun hanya cukup untuk bayar makan minum dan beli bensin menuju pulang. Tabunganku juga sudah ludes untuk biaya cetak buku.

Ya Allah, tolonglah ibu ini. Dan mohon ampuni kami, yang hanya mampu membantu dengan doa. Semoga kelak, dengan izin-Mu, kami mampu menolong lebih dari sekadar doa. Aamiin. Semoga pula, pertolongan Allah segera menyapa para pengemban dakwah yang istiqomah berjuang demi perubahan sistem. Dari keburukan menuju kebaikan. Dari gelap menuju cahaya. Mengangkat siapapun yang sedang terjerat lumpur penderitaan, menuju kesejahteraan dan kemuliaan hakiki.
Batinku bersenarai di petang yang berisik oleh deru mobil dan kendaraan yang melaju mendahului sepeda motor butut suami.
***
Eva Liana, Ibu Rumah Tangga, Novelis, tinggal di Kandangan, Kal-Sel.
Kamus Bahasa Banjar:
Menyelawi = menyelamati 25 hari kematian
Wala = nakal
Kada kawa ditunjuk-tunjul = tidak bisa didorong-dorong = gagal dimotivasi
Batatamba = minta bantuan/berobat
Banyu = air

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *