Syuhada yang Dibalut Sehelai Burdah

Oleh : Ratu Rianti
Pemuda ini tampan dan perlente, biasa hidup mewah, tapi kemudian rela meninggalkan kemewahan yang ada demi cintanya pada Allah dan RasulNYA, Ia duta Islam pertama, saat wafatnya ia hanya dibalut sehelai burdah, Semoga Allah selalu merahmatinya … aamiin.
Ia adalah pemuda Quraisy yang terkemuka, ahli sejarah dan para perawi melukiskan sosoknya  dengan kalimat “Seorang warga kota Mekah yang mempunyai nama paling harum”.
Lahir dari keluarga kaya, nasabnya Mus’ab bin Umair bin Hasyim bin Abdul Manaf bin Abdul Dar bin Qushy bin Kilab Al-Abdari Al-Quraisy.
Ibunya adalah Khunas binti Malik, wanita yang berkepribadian kuat, sangat disegani bahkan ditakuti, ia begitu memanjakan Mush’ab, seluruh kebutuhannya terpenuhi, hidup dalam kesenangan dan bergelimang kemewahan, sampai-sampai jika ia bangun tidur makanan sudah tersedia dihadapannya, kemudian ia juga menjadi buah-bibir para gadis.
Dalam kitab Asad Al-Ghambah, Ibnu Katsir menyatakan “Mush’ab adalah pemuda yang tampan dan rapi penampilannya, kedua orang tuanya sangat menyayanginya, ibunya adalah seorang wanita yang sangat kaya. Sandal Mush’ab adalah sandal Al-Hadrami, pakaiannya merupakan pakaian terbaik dan dia adalah orang mekah yang paling harum sehingga semerbak aroma parfumnya meninggalkan jejak di jalan yang ia lewati”.(Al-Jabir 2014:19).
Rasul SAW bersabda : “Aku tidak pernah melihat seorangpun di Makah yang lebih rapih rambutnya, paling bagus pakaiannya, dan paling banyak diberi kenikmatan selain dari Mush’ab bin Umair”. HR.Hakim
Mush’ab lahir tahun 585 M, hidup di lingkungan jahiliyah, penyembah berhala dan peminum khamar. Allah beri cahaya keimanan padanya, hingga mampu membedakan agama yang lurus dan agama yang menyimpang, maka kemudian ia bertekat memeluk Islam, iapun mendatangi Nabi SAW di rumah Al Arqom dan kemudian masuk Islam.
Ia masih menyembunyikan keislamannya, tapi kemudian Utsmani bin thalhah melihat Mush’ab memasuki rumah Arqom dan iapun melihat mush’ab sholat seperti Muhammad SAW, maka kemudian ia mengabarkan apa yang ia ketahui dan lihat itu pada ibunda Mush’ab.
Setelah mengetahui berita itu ibunya sangat marah, ibunya kemudian memenjarakannya sekian lama, sampai Mush’ab mendengar kaum muslimin hijrah ke Habsyi, iapun ingin hijrah seperti sahabat-sahabtnya, dan kemudian ia mencari cara untuk bisa keluar dari penjara ibunya, iapun berhasil dan kemudian hijrah ke Habsyi dan berkumpul dengan kaum muhajirin disana.
Sahabatnya pertama kali bertemu mush’ab dan melihat penampilan Mush’ab, membuat para sahabat menundukkan kepala dan memejamkan mata, sebagian ada yang manangis, mereka melihat Mush’ab dengan jubah usang yang bertambal-tambal, mereka masih belum lupa ketika Mush’ah belum masuk Islam, pakaiannya berwarna warni seperti bunga di taman dan aromanya harum.
Rasul SAW, menatapnya penuh cinta kasih sambil terseyum, seraya bersabda :
“Dahulu saya lihat Mus’ab ini tak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orang tuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Allah dan RasulNYA”.
Begitulah Mush’ab meninggalkan kemewahan dan kesenangan dunia demi keimanannya, akidah inilah yang membuatnya berubah menjadi manusia yang dihormati, penuh wibawa dan disegani. Kemudian Rasul SAW, mengutusnya ke Madinah, Mush’ab memikul amanah yang sangat berat, berbekal karunia dari Allah berupa pikiran yang cerdas, kejujuran dan kesungguhan hati, ia berhasil menakhlukkan hati penduduk Madinah. Sebelumnya kaum muslimin disana tak lebih dari sebelas orang. Tetapi kemudian banyak yang masuk Islam.
Di Madinah ia tingggal di rumah As’ad bin Zararah, bersama As’ad ia mendatangi kabilah-kabilah, rumah-rumah dan tempat-tempat pertemuan untuk membacakan ayat-ayat Allah, suatu hari ia nyaris celaka, tiba-tiba disergap Usaid bin Hudlair kepala suku kabilah Abdul Asyhal di Madinah. Usaid mengancam Mush’ab dengan sebuah tombak pendek tapi kemudian Mush’ab meminta Usaid untuk duduk dan mendengarkan perkataannya “Kenapa anda tidak duduk mendengarkan dulu? Seandainya anda menyukainya nanti, anda dapat menerimanya. Sebaliknya jika tidak, kami akan menghentikan apa yang anda tidak sukai itu”.
Kemudian Mush’ab membacakan ayat-ayat Al Qur’an dan menjelaskan dakwah yang di bawa oleh Muhammad SAW bin Abdulah, dan kemudian dada Usaidpun mulai terbuka dan bercahaya kemudian iapun masuk islam.
Begitulah Mush’ab mencapai keberhasilan yang gemilang, hingga berdiri Daulah Islam, yang dipimpin oleh Rasul Muhammad SAW.
Mush’abpun selalu menyertai Rasul SAW dalam perangnya, ketika sedang berkecamuk perang Uhud, kaum musyrik kalah namun pasukan pemanah kaum muslimin melanggar perintah Rasul SAW, mereka meninggalkan celah-celah bukit, hingga kaum musyrik kembali menyerang kaum muslimin, pasukan kaum muslimpun kacau balau.
Mush’ab bin Umair, menyadari suasana gawat dan genting ini, lalu ia acungkan benderanya tinggi-tinggi, iapun bertakbir sekeras-kerasnya untuk menarik perhatian kaum musyrikin agar mereka tidak mendekati Rasulullah SAW, Mush’ab bertempur laksana pasukan besar, walau ia seorang diri.
Berkata Ibnu Sa’ad : “Diceritakan kepada kami oleh Ibrahim bin Muhammad bin Syurahbil al ‘Abdari dari ayahnya ia berkata “Mish’ab bin Umair adalah pembawa bendera di perang Uhud, Tatkala barisan kaum muslimin pecah, Mush’ab bertahan pada kedudukannya. Datanglah musuh berkuda, Ibnu Qumainah namanya, lalu menebas tangannya hingga putus, sementara Mush’ab mengucapkan “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, yang sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul”. Maka dipegangnya bendara dengan tangan kirinya sambil membungkuk melindunginya. Musuhpun menebas tangan kirinya itu hingga putus pula, Mush’ab membungkuk kearah bendera, lalu dengan kedua pangkal lengan merahnya kedada sambil mengucapkan “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul” Lalu orang berkuda itu menyerangnya ketiga kali dengan tombak, dan menusukkannya hingga tombak itupun patah. Mush’abpun gugur dan bendera jatuh”.
Demi cintanya pada Rasul SAW ia tak memperdulikan dirinya sendiri, dan ucapannya “Muhammad itu tiada lain hanyalah seorang Rasul, dan sebelumnya telah didahului oleh beberapa Rasul” kemudian dikukuhkan sebagai wahyu dan menjadi ayat dalam Al Qur’an.
Rasul SAW dan para sahabat mendatangi medan pertempuran, untuk menyampaikan salam perpisahan kepada para Syuhada, sampailah ditempat terbaringnya Mush’ab bin Umair, Rasul SAW menangis sampai airmatanya bercucuran.
Berkata Khabbah ibnul ‘aurrar : “ Kami hijrah dijalan Allah bersama Rasululllah SAW, dengan mengharap keridhaanNYA , hingga sudah pastilah pahala disisi Allah,. Diantara kami ada yang telah berlalu sebelum menikmati pahalanya di dunia ini sedikitpun juga. Diantaranya ialah Mush’ab bin Umair yang tewas di perang Uhud. Tak sehelai kainpun yang menutupinya selain sehelai burdah. Andainya ditaruh dikepalanya, terbukalah kedua kakinya. Maka Sabda Rasulullah SAW : “Tutuplah ke bagian kepalanya, dan kakinya tutupilah dengan rumput idzhir”.
Kemudian dengan memandangi burdah yang digunakan untuk kain tutupnya, Rasulullah SAW  bersabda :  “Ketika di Mekah dulu, tak seorangpun aku lihat yang lebih halus pakaiannya dan lebih rapih rambutnya dari padamu. Tetapi sekarang ini, dengan rambutmu yang kusut masai, hanya dibalut sehelai burdah”.
Wahai Mush’ab cukup bagimu ar Rahaman …
Namamu harum semerbak dalam kehidupan …
Salam atasmu wahai Mush’ab …
*Sumber buku Karakteristik 60 Sahabt Rasululluh SAW

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *