Takwa “Buah Manis” Ramadhan

 

Oleh: Minah, S.Pd.I

Ramadhan dengan segenap kemuliaannya sudah berada dipenghujung. Bagi kita yang memahami indahnya bulan Ramadhan, tentu akan merasa sangat bersedih, betapa hari-hari puasa seakan cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin kita memulai, tak terasa, sekarang sudah berada dipenghujung bulan ramadhan. Tentu sebentar lagi pula, Ramadhan dengan segenap keindahan, keberkahan, dan kemuliaannya akan meninggalkan kita. Bila umur kita panjang, tahun depan atau 11 bulan lagi kita baru akan bertemu lagi dengan bulan Ramadhan.

 

Setiap Muslim pasti mengetahui bahwa takwa adalah buah manis yang harus diraih dari proses puasa yang dilakukan sebulan penuh selama Ramadhan. Namun, mengapa puasa Ramadhan seolah tidak memberikan pengaruh apa-apa kepada mereka? Mengapa usai Ramadhan mereka tidak terlahir menjadi pribadi yang baru, yakni pribadi yang benar-benar bertakwa sebagai buah dari puasa Ramadhan?

 

Tentu, dari Ramadhan ke Ramadhan berikutnya, setiap Muslim merindukan kehidupan yang lebih baik dari sebelumnya; kehidupan yang dinamis di bawah sebuah sistem yang sahih, yang bisa menenteramkan jiwa, memuaskan akal dan sesuai dengan fitrah manusia; kehidupan yang dipimpin oleh orang-orang salih, berpandangan jauh ke depan dan visi keumatannya lebih menonjol daripada visi dan kepentingan nafsu pribadinya. Semua itu landasannya adalah takwa. Takwalah yang menjadikan manusia meraih derajat paling mulia di sisi Allah SWT.

 

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang paling bertakwa (QS al-Hujurat [49]: 13).

 

Takwa pula yang menjadi buah manis dari ibadah puasa selama Ramadhan. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana puasa itu diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (QS al-Baqarah [2]: 183).

 

Jika umat ini mengerjakan ibadah puasa dengan benar (sesuai dengan tuntunan Alquran dan as-Sunnah) dan ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah SWT, belajar memahami ibadah yang dilakukan untuk menjadikan dan membentuk jiwa seorang Muslim, tunduk pada segala aturan (syariah) dan tuntunan yang dibawa Rasulullah saw. Pasti hikmah takwa itu akan dapat terwujud.

 

Jika kita sukses menjalankan ramadhan maka akan berbuah takwa. Takwa dengan melaksanakan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-laranganNya. Sehingga, jika ramadhan telah usai , kita semakin beriman dan bertaqwa. Menjadikan syariah Islam untuk mengatur kehidupan manusia. Senantiasa tunduk dan taat kepada Allah.

 

Oleh karena itu, Jadikanlah ramadhan sebagai momentum kita untuk membawa perubahan kearah yang lebih baik, semakin bertakwa kepada Allah, menjalankan seluruh aturan Allah. Tunduk, taat dan patuh kepadaNya. Semangat untuk mengkaji Islam. Semangat untuk menyuarakan Islam. Dan semangat untuk menjadi pembela Islam. Allahuakbar!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *