Tentang Cinta dan Derita

Spread the love

Oleh Hana Annisa Afriliani

 

#MuslimahTimes — Malam ini sama seperti malam-malam yang lainnya. Dia bersolek di depan cermin untuk melukis wajahnya. Aneka peralatan make up berjejer di atas meja riasnya. Dipandangnya pantulan wajahnya di cermin, tampak mulai berkerut di sekitar mata. Dia menghela nafas, menyadari betul bahwa kerasnya hidup yang harus dia jalani rupanya membuat wajahnya 5 tahun terlihat lebih tua dari usianya.

Kemudian dia mulai memoles wajahnya dengan fondation, dilanjutkan dengan bedak padat. Tak ketinggalan blus on pink terang dia sapukan dari pelipis hingga pipinya. Selanjutnya eyeliner dan bulu mata palsu cukup membuat matanya terlihat jauh lebih besar dari aslinya. Dan Lipstik merah menyala membuatnya terlihat mempesona. Ia pun tersenyum melihat hasil karyanya di cermin.

“ Ibu cantik sekali…” suara gadis kecil mengagetkannya.

“ Terima kasih Nak.” katanya sambil memeluk gadis kecil berambut ikal itu.

“ Ibu berangkat kerja dulu ya…” ungkapnya. Gadis kecil itu mengangguk kecil sambil memegangi perutnya yang berbunyi. Lapar.

“ oh iya Nak, ibu punya roti untuk kamu, ini ambil, kamu makan ini dulu ya. Nanti sepulang kerja ibu belikan kamu makanan..” kata dia sambil menyerahkan sebungkus roti coklat dari dalam tasnya. Gadis kecil itu mengambil roti dari tangan ibunya lalu menyantapnya dengan lahap. Terlihat sekali bahwa ia sangat kelaparan. Sampai-sampai ia tak menyadari bahwa air mata ibunya mengalir tak tertahan, meratapi nasibnya, meratapi hidupnya

###

Dia berlari meniti hari, mengejar kehidupan. Menerobos pekat malam demi segenggam rupiah. Ia sungguh tak peduli dengan cara apa ia mendapatkannya, yang ia tahu adalah bahwa ia dapat terus bertahan hidup dan menyekolahkan anaknya satu-satunya. Gadis mungil itu adalah satu-satunya alasan mengapa ia tetap bertahan hidup.

“Ibu hati-hati ya…” ucapan gadis kecil berusia 5 tahun kerap menjadi pengantar saat kepergiannya. Sudah setahun dia meninggalkan anaknya seorang diri di rumah setiap malam saat ia harus pergi bekerja. Awalnya tentu saja ia khawatir, tapi akhirnya menjadi terbiasa. Toh, sang anak pun tidak keberatan ibunya pergi.

Namanya Tania, dia gadis kecil yang sejak lahir tak pernah mengenal ayahnya. Ibunya pun tak mengenal ayahnya. Tania adalah korban kebiadaban lelaki yang tak mampu menahan syahwatnya yang liar. Ya, Tania adalah anak hasil pemerkosaan. Namun Tania tetaplah anak yang tak berdosa, ia tetaplah karunia dari Tuhan. Maka ibunya tak pernah berniat membunuhnya sejak ia tumbuh di rahimnya. Meski sesak selalu terasa di setiap harinya karena hujatan tetangganya. Tak hanya itu, keluarganya sendiri ikut menghujatnya, mereka tak percaya ia diperkosa. Sebaliknya keluarganya menuding ia hamil karena salah bergaul, puncaknya dia diusir dari rumah karena tak ingin nama baik keluarga terus ternoda.

Tania, Ya hanya Tania yang terus menemani harinya hingga saat ini. Hanya Tania yang membuatnya merasa berharga meski berlumur dosa. Tania hanyalah gadis kecil yang mencintainya dengan tulus,tanpa pernah ia tahu bahwa ibunya telah menjual tubuhnya kepada siapa saja yang mampu memberinya rupiah.

Dia sungguh tahu bahwa Allah pasti murka atas pilihan hidupnya. Tapi tak ada yang mampu membantunya untuk keluar dari pekerjaan itu, tak ada yang mampu ia lakukan. Ia tak ingin hidup menggelandang seperti saat keluarganya mengusirnya. Tak tega rasanya melihat Tania sakit-sakitan karena terpapar virus jalanan. Harapan satu-satunya untuk tetap bertahan hidup adalah dengan pekerjaan itu.

Pekerjaan yang sebenarnya ia sendiri jijik melakukannya. Namun dari mana ia menyambung hidup kalau bukan dari pekerjaan itu? Perih hatinya kian menganga saat terbayang sudah berapa banyak ia menumpuk dosa. Kakinya terus melangkah gontai menuju rumahnya, azan subuh terdengar sayup-sayup. Make up nya sudah luntur dan wangi parfumnya sudah hilang. Namun wajahnya mengembangkan senyum atas sebungkus nasi lengkap dengan lauk pauknya untuk Tania.

“Duhai Allah, mengapa lelaki itu menumpahkan syahwat kepada gadis baik-baik sepertiku? Dan mengapa tak ada yang menghukum lelaki itu? Padahal perbuatan bejadnya telah mengukir derita seumur hidupku. Mengapa pula keluargaku membenciku atas apa yang tak pernah kulakukan? Mengapa pula penguasa negeri ini tak satupun yang menyentuh deritaku lalu menarik tanganku keluar dari ruanh gelap ini? Tidakkah ada cinta di hati mereka untuk rakyat jelata sepertiku? Ataukah mereka terlalu sibuk mencari jalan bagaimana cara untuk memperkaya diri?” dia menangis sejadi-jadinya di akhir pengaduannya. Mukena putihnya basah oleh air mata duka. Tiba-tiba senyum mengembang ia paksakan menghiasi wajahnya saat Tania memeluk lehernya dari belakang sambil mengatakan “Aku sayang ibu…”

Tiba-tiba Kalimat Tania mengalirkan energi kepadanya. Membuatnya yakin untuk keluar dari ruang gelap yang menjadikannya hina di mata Rabbnya. Sungguh ia lelah harus terus bergulat dengan rasa bersalahnya. Ya, dia yakin hidupnya dan Tania akan terus berjalan karena dia punya Allah Sang Pemilik Cinta. Dia punya Tania yang tak pernah melepaskan genggamannya. Maka, esok adalah hari baru bagi hidupnya.

 

========================================

Sumber Foto : Deherba

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *