Terkaparnya Rupiah Memicu Defisit Rumah Tangga

Spread the love

Oleh: Arin RM, S.Si

(Member TSC, Frelance Author)

 

#MuslimahTimes –– Posisi rupiah di hadapan dolar Amerika kembali melemah hingga menembus angkaRp 15.029 pada hari Rabu, 5 September 2018 (tribunnews.com). Menguatnya dolar atas rupiah ini tentu memberikan efek bagi perekonomian Indonesia. Banyak pakar yang menyampaikan akan hal ini. Di antaranya Said Didu, mantan Staf Khusus Menteri ESDM yang juga pengamat BUMN, memberi tanggapan terkait melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Melalui laman Twitter-nya, @saididu, Rabu (5/9/2018) ia menuliskan: “1) utang pemerintah akan naik, 2) beban fiskal/APBN naik, 3) Sebagian besar harga-harga produk akan naik, 4) utang dan pembayaran utang BUMN dan swasta akan naik, 5) ada beberapa sektor ekonomi yang untung sementara,”

Di antara lima efek yang disampaikan, poin ke-3, yakni sebagian besar harga-harga produk akan naik merupakan dampak yang paling cepat bersentuhan dengan rakyat kecil. Di lapangan, meskipun tidak serentak pasti ada kenaikan harga kebutuhan masyarakat. Artinya biaya hidup sehari-hari akan ikut melambung seiring naiknya barang. Bagi mereka yang pendapatannya besar, tentu tidak masalah, sebab mereka hanya tinggal mengutak-atik rasio penerimaan dan pengeluaran keuangan rumah tangganya. Namun bagi yang tidak berpenghasilan tetap, maka kenaikan harga akan menjadi sesuatu yang memberatkan. Terlebih bagi kalangan yang tak punya pekerjaan, maka kenaikan harga barang sama dengan menjauhkan mereka dari mimpi kesejahteraan.

Apabila peningkatan beban ekonomi ini dibarengi dengan kenaikan jumlah pendapatan, tentunya masih berimbang, namun apabila tidak seperti itu maka akan ada istilah defisit rumah tangga, yang tidak menutup kemungkinan bisa menjadikan status ekonomi rumah tangga pada level miskin. Pada kebanyakan rumah tangga kebutuhan pokok untuk makan masih dapat terpenuhi, namun kebutuhan papan layak, sandang, kesehatan, pendidikan, keamanan belum tentu dapat tertunaikan dengan optimal. Dari sinilah muncul wacana kesejahteraan semakin terhambat tatkala kebutuhan kian meningkat.

TNP2K (Tim Nasional Penanganan dan Penanggulangan Kemiskinan) pernah merilis bahwa indicator kesejahteraan rakyat nasional meliputi masalah kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar. Kesejahteraan tercapai bila 4 indikator yang disebutkan sudah rendah angkanya. Namun tanpa perlu didetaili angkanya, kondisi nyata dilapangan berbicara sebaliknya.  Dengan penelusuran yang cermat, sejatinya akan dapat disimpulkan bahwa dalam kondisi perekonomian berlagu kapitalisme seperti ini kesejahteraan tidak mudah dicapai.

Berbeda dengan sistem ekonomi berbasis Islam. Sebagai agama yang paripurna, Islam memiliki aturan komprehensif bagi individu, jamaah, dan negara dalam mewujudkan kesejahteraan. Termasuk di dalamnya menyelamatkan defisit rumah tangga. Islam memberikan tugas yang berbeda kepada individu, negara dan jamaah agar mereka berperan dalam upaya mewujudkan kesejahteraan. Setiap Muslim didorong untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada pada dirinya —tubuh, akal, waktu dan usia— yang merupakan anugerah Allah SWT. Setiap individu didorong agar menggunakan kaidah kausalitas untuk mewujudkan kesejahteraannya. Agar tercukupi kebutuhannya, setiap lelaki dewasa diwajibkan bekerja. Setiap orang wajib memperhatikan siapa saja keluarga dan kerabatnya yang menjadi tanggungannya. Negara dapat melakukan intervensi ketika ada seseorang yang terlantar, padahal ada anggota keluarganya yang berada.

Islam menentukan negara adalah pihak yang berperan besar dalam mewujudkan kesejahteraan; di samping individu dan masyarakat. Salah satu upaya negara menstabilkan ekonomi adalah dengan menjaga mata uangnya. Islam menggunakan mata uang berbasis emas dan perak, bukan uang kertas. Mata uang  ini memiliki kelebihan berupa setaranya nilai intrinsik dengan nominalnya, dan juga kestabilan moneter karena tidak dapat dicetak semaunya dan sebanyak apapun layaknya uang kertas.

Sementara itu, sistem mata uang kertas biasa rentan terhadap krisis. Sebab, nilai mata uang di suatu negara terkait dengan nilai mata uang negara lain, termasuk sangat dipengaruhi kondisi politik dan ekonomi negara lain. Seperti halnya mata uang Indeonesia yang terkait dengan Amerika. Keterkaitan ini juga bisa dibaca sebagai ketundukan Indonesia akibat menerapka nkapitalisme dalam sistem ekonominya. Dan selama ketundukan ini masih berlangsung, maka ancaman rupiah terkapar masih terus membayang. Krisis ekonomi pun mungkin terus menghantui. Oleh karenanya bayangan terkaparnya mata uang dan hantu krisis ini sejatinya harus diakhiri. Dan mau tidak mau, sistem ekonomi Islamlah yang punya konsep tandingannya.

Ekonomi Islam dengan sistem emas dan perak mempunyai kurs yang stabil antar negara. Standar emas-perak akan mengurangi masalah perdagangan internasional akibat ketidakstabilan kurs mata uang. Pasalnya, nilai mata uang negara ditentukan oleh nilai emas dan perak itu sendiri, tidak bergantung pada kekuatan ekonomi dan politik suatu negara. Sistem emas dan perak juga akan memelihara kekayaan emas dan perak yang dimiliki oleh setiap negara. Jadi, emas dan perak tidak akan lari dari satu negeri ke negeri lain.Termasuk pengerukan semacam Freeport saat ini.

Dan untuk kembali pada ekonomi Islam ini diperlukan keberanian untuk menghilangkan beragam regulasi yang menghalangi pemilikan mata uang utama dunia yang stabil tanpa campur tangan dunia internasional untuk menaikturunkannya. Mata uang yang stabil menjadikan ekonomi stabil, dan harapannya harga kebutuhan pun ikut stabil sehingga defisit rumah tangga pun tidak lagi dikenal. Namun apa mungkin jika negeri ini masih berada di bawah kendali kapitalis dunia?

Maka sudah saatnya ada upaya dan usaha untuk mewujudkan negara berdaulat total yang berbasis Islam. Sebab hanya dengan kedaulatan Islam yang mandirilah sistem moneter berbasis emas dan perak bisa dilaksanakan.

 

==================================

Sumber Foto : Serambi Indonesia

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *