Wanita di Jurang Kapitalisme

Spread the love

 

by Kanti Rahmillah, M.Si

MuslimahTimes—Para pujangga tak pernah kehabisan kata, untuk menggambarkan sosok wanita. Bahkan, Islam telah mendudukan posisinya yang mulia, sebagai perhiasan dunia. Simbol kelembutan dalam kerasnya dunia. Tangannya mampu menghangatkan dinginnya malam. Kasih sayangnya mampu memadamkan amarah. Dialah wanita solehah penghuni dunia. Ketaatannya telah membuat para bidadari Surga cemburu padanya.

Namun, ide feminisme telah mencabut fitrah itu dari para wanita. Kesuciannya telah direnggut  ide kesetaraan. Memaksa para wanita keluar rumah, demi menunjukan eksistensinya. Ibu rumah tangga dipandang sebelah mata. Tak berguna, hanyà menambah beban keluarga. Ukuran produktif hanya disematkan pada wanita yang menghasilkan materi.

Seperti yang sedang dipropagandakan para pegiat gender di Hari Perempuan Internasional. Mereka mengkampanyekan ide kesetaraan. 8 Maret menjadi acara akbar tahunan mereka dalam menggaungkan ide sesat ini.

Tema ‘balance for better’ dipilih sebagai tema Hari Perempuan Internasional pada 2019 ini. Karena belum terjadinya keseimbangan atau kesetaraan dalam berbagai aspek kehidupan. Khususnya dalam dunia kerja, gap pay atau beda gaji masih terjadi antara pria dan wanita, di mana wanita dibayar lebih rendah dari pria. (detik.com, 08/03/2019)

Feminisme anak kandung Ideologi Kapitalisme

Begitupun sistem kapitalisme, telah memaksa para wanita menjadi buruh perusahaan raksasa. Demi menekan biaya produksi, biaya upah ditekan sedemikian rupa. Termasuk mempekerjakan wanita, yang upahnya di bawah pria. Lapangan pekerjaan seolah sempit untuk pria, lapang untuk wanita. Akhirnya, mereka berbondong-bondong menjadi pekerja. Meninggalkan anak dan suami mereka. Bekerja membanting tulang dan fitrah mereka. Tugas utama mendidik anak-anak, terbengkalai.

Seperti ingin menaikan derajat seorang wanita. Bekerja untuk kemandirian finansial. Agar terlepas dari ketergantungan, yang melemahkan posisi wanita. Padahal, wanita sedang dijadikan faktor produksi berharga murah. Menjadi sekrup-sekrup lajunya peradaban barat.

Bukan hanya itu, wanita pun menjadi target pasar produksi. Dipaksa keluar, agar kebutuhan bertambah besar. Jika kesehariannya di rumah, mereka tak butuh tas dan sepatu mewah. Jika tempat ia beraktivitas di rumah, mereka tak butuh fashion untuk melengkapi busananya. Namun, kaum hawa telah disuntik oleh peradaban busuk hari ini. Kini, Konsumtif adalah perilaku yang melekat padanya.

Hasilnya, generasi tak kenyang belaian lembut ibunya. Mereka tak mengenal kasih sayang yang tulus, dari dekapan wanita yang melahirkannya. Pendidikan, disubkontrakkan pada sebuah lembaga, yang hanya mengejar akademik semata. Wajar perilakunya tidak sesuai dengan tuntunan agama.

Imbasnya, kenakalan remaja merajalela. Akibat tak tersentuh aqidah di usia belia. Jangankan berbicara masa depan bangsa. Cita-cita menyongsong kehidupan yang bermartabat pun, mereka tak punya. Pikirannya dipenuhi dengan bagaimana memuaskan jasadiahnya. Bersenang-senang menikmati indahnya dunia. Tanpa tahu, tujuan hidup sebenarnya.

Negara telah kehilangan putra-putri berkualitas, yang akan memajukan bangsa. Tersisa pemuda yang menghamba pada harta dan kuasa. Inilah mereka, yang siap mengisi estafet kekuasaan negeri ini. Jadi, jangan berharap negeri ini terbebas dari belenggu problematika. Ketika jabatan dan harta menjadi motivasi utama dalam berkarya.

Semua itu, tak lepas dari peran wanita. Dan pandangan terhadap kedudukan wanita. Kapitalisme, telah menjadikan wanita, hanya sebagai faktor produksi murah. Kedudukannya tak lebih dari sekedar komoditas dan target pasar.

Peran dan Kedudukan Wanita dalam Islam

Lain halnya dengan Islam. Islam menetapkan kesejajaran derajat laki-laki dan wanita pada ketakwaan nya. Bukan pada perolehan materinya. Adapun peran dan fungsi yang berbeda antara laki-laki dan wanita. Bukanlah sebuah bentuk diskriminatif. Tapi sebuah bentuk kerjasama yang akan menghasilkan harmoni dalam kehidupan.

Sehingga wanita berdaya dalam Islam adalah dia yang mengoptimalkan fungsinya sebagai ummun wa rabbatul baiti. Bukan sebagai pencari nafkah. Karena bekerja untuk mencari nafkah adalah kewajiban kepala rumah tangga, suaminya. Jika keduanya, ibu dan bapaknya keluar rumah. Siapa yang akan mengelola rumah tangga? padahal rumah tangga adalah sebuah organisasi, yang harus di manaj pengaturannya. Wajar akhirnya, kita temukan fakta perceraian yang begitu tinggi hari ini, lantaran tak ada yang mau mengatur rumahnya.

Wanita pun adalah seorang ibu generasi (Ummu ajyal). Madrasah ula bagi anak-anaknya. Ibu nya lah yang mengasuh anak-anaknya dengan kelembutan dan kasih sayang. Bukan disubkontrakan pada baby sister. Hasilnya, anak-anak tumbuh dari lingkungan keluarga yang harmonis. Menjadi generasi cemerlang. Mengerti tujuan hidup, semata untuk beribadah kepada Allah. Amal soleh menjadi hiasan kesehariannya. Menjadi pribadi yang bermanfaat buat sekitar. Bercita-cita besar, yaitu membangun peradaban mulia.

Oleh karena itu, jika fungsi dan peran wanita dikembalikan pada fitrahnya. Akan tercipta peradaban yang agung. Karena Allah, sang pencipta, mengetahui benar apa yang telah diciptakanNya. Wanita dengan segala potensinya, akan melahirkan generasi yang siap mengisi peradaban mulia. Namun, peran dan fungsi wanita akan optimal jika syariat Islam diterapkan dalam bingkai Daulah Khilafah Islam. Karena dengan kebijakannya, Daulah akan mampu mengembalikan fitrah wanita.

[Mnh]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *