Ketika Raja Juseon Melek Politik
Oleh. Rut Sri Wahyuningsih
(Institute Literasi dan Peradaban)
Muslimahtimes – Hati sebetulnya masih terasa perih, mengingat surat edaran yang diserahkan si sulung dari sekolahnya. Isinya tentang pengunduran jadwal belajar daringnya menjadi pukul 10.00-15.00 wib, alasannya menggelikan, karena anak-anak banyak yang bangun siang. Kenapa budaya bangun siang justru digalakkan, rasanya masa pandemi Covid-19 pun tak layak dijadikan alasan. Sebab sudah banyak yang dituduhkan kepada microorganisme imoet itu, diantaranya penyebab resesi ekonomi, buruknya pendidikan dan lain sebagainya. Sungguh malang nasibnya “Messenger Allah” dijadikan bulan-bulanan oleh manusia yang seharusnya banyak-banyak muhasabah.
Hadits Imam Ath-Thabrani dan Al-Bazzar R. Huma, Rasulullah Saw bersabda : ”Bangunlah pagi hari untuk mencari rezeki dan kebutuhan-kebutuhanmu. Sesungguhnya pada pagi hari terdapat barokah dan keberuntungan.” Lantas bagaimana dengan makna hadis tersebut? Bukankah menjadikan pengunduran jam belajar menjadi aturan yang harus ditaati sama saja dengan menyuruh anak-anak kita tak mengharapkan barokah dan keberuntungan dari Allah s
Swt, Zat yang setiap saat kita perintahkah kepada anak-anak untuk disembah? Pendidikan hari ini memang sering menimbulkan pertentangan. Di sisi lain orangtua ingin anak juga belajar kemandirian dan keahlian hidup, namun justru sekolah hanya membebani dengan sejumlah kewajiban capaian akademik yang bahkan di era pandemi begitu mudah dicari anak melalui tayangan youtube, google, ruang guru dan lain-lain.
Dalam surat edaran di atas yang lebih mengejutkan adalah himbauan setengah mengancam kepada anak-anak untuk tidak mengikuti demo Omnibus Law yang beberapa hari ini terjadi di berbagai wilayah. Titik. Tanpa penjelasan berimbang mengapa orang harus berdemo dan apa yang hendak dicapai saat orang berdemo. Mengapa sampai terjadi rusuh padahal mengeluarkan pendapat di negeri ini dilindungi Undang-undang?
Namun itulah, represifnya pemerintah hingga himbauan untuk pelajar cepat direspon oleh pemerintah daerah dan berikutnya lembaga pendidikan,yang mana tugasnya adalah mendidik. Faktanya, himbauan di atas diikuti dengan ancaman, jika tetap melakukannya akan dikeluarkan dari sekolah dan dikembalikan kepada orangtua masing-masing.
Wakapolres Metro Tangerang Kota, AKBP Yudisthira bahkan mengancam akan memblacklist pelajar yang ketahuan ikut demo dari pengurusan SKCK (Surat Keterangan Catatan Kepolisian), artinya lagi jika taka da surat itu anak kita terancam tidak bisa mendapat pekerjaan. Kejam bukan? Faktanya sekarang banyak sarjana yang dokumennya lengkap juga masih jadi pengangguran apalagi pelajar. Artinya pemerintah belum becus menyediakan lapangan pekerjaan namun sudah main ancam.
Ancaman tak masuk akal bukanlah metode pendidikan yang baik. Sebab dampaknya sangat fatal ketika penguasa berusaha memadamkan semangat idealisme jiwa muda bahkan mengkerdilkan intektualitas generasi penerus bangsa. Bukankah lebih baik mengedukasi pelajar dengan makna pendidikan yang sahih dan berimbang? Sebab mereka bakal menjalani kerasnya hidup dan berjuang tanpa kita lagi orangtuanya. Maka wajib memberikan pendidikan politik sejak dini, terutama Islam juga menganjurkan.
Allah Swt berfirman, “Siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi, (seperti) kuda-kuda yang ditambat untuk berperang. (Dengan persiapan itu) kalian menggetarkan musuh Allah, musuh kalian dan orang-orang selain mereka yang kalian tidak ketahui, sedangkan Allah mengetahui mereka. Apa saja yang kalian nafkahkan di jalan Allah niscaya akan dibalas dengan cukup dan kalian tidak akan dianiaya (dirugikan).” (QS al-Anfal [8]: 60).
Politik tidak bisa dilepaskan dari Islam dan umatnya. Kepala negara memiliki kewajiban berpolitik dalam rangka melayani urusan umat di segala aspek kehidupan. Ia dikatakan adil apabila paham politik yang shahih dan berimbang. Dalam Islampun dikenal aktivitas muhasabah lil hukam ( koreksi kepada penguasa), tujuannya agar penguasa tidak melenceng dari kebijakannya dan mencegah kezaliman. Jika begini, jadi teringat drama Korea yang rilis di tahun 2012 berjudul “The Moon Embracing The Sun”. dalam salah satu scenenya, diceritakan raja Lee Hwon sedang menunjukkan aula dimana ia biasa menerima kunjungan dari negara asing dan sekaligus tempat pertemuannya dengan para menterinya kepada calon istrinya, seorang putri bangsawan bernama Heo Yeon Woo yang baru saja selamat dari pergolakan politik di kerajaan Juseon. Dengan tegas sang raja berkata bahwa diruangan inilah aku memutuskan berbagai perkara untuk rakyatku. Tak ada ketidakadilan dan kezaliman dari semua yang kuputuskan karena berdasarkan kebenaran.
Seorang pemimpin memang harus paham dengan apa ia akan memimpin negaranya. Jika tidak maka akan muncul pertentangan tak berkesudahan di antara rakyat dan penguasanya. Jika cerita fiksi saja memiliki dasar untuk menceritakan sebuag kebaikan dan keadilan, apalagi dengan Islam yang 1300 tahun telah diterapkan. Tentu sebagai sebuah sistem, Islam adalah sarana berpolitik yang sempurna, sebab landasannya adalah wahyu Allah Swt. Sehingga segala kebijakan penguasa landasannya jelas dan menentramkan. Bisa jadi inilah saatnya bebenah? Wallahu a,lam bish showab.