
Oleh: Anita Ummu Taqillah (Komunitas Menulis Setajam Pena)
Muslimahtimes.com – Penyerangan terhadap Palestina oleh Israel, di masa kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu terus terjadi. Bulan Ramadan hingga Idulfitri lalu justru menambah pilu. Sebab, untuk beribadah dan menyambut kemenangan, mereka harus berhadapan dengan senjata, hingga ratusan korban pun berjatuhan. Kini, Benjamin Netanyahu telah lengser dari jabatannya, dan digantikan oleh Naftali Bennett. Lalu, bagaimana nasib Palestina ke depannya?
Sebagaimana dikabarkan, Perdana Menteri (PM) Israel, Benjamin Netanyahu dan rezimnya yang sudah berkuasa 12 tahun, resmi berakhir setelah Knesset atau Parlemen dengan suara 60:59 menyetujui pemerintahan baru. Ia digulingkan setelah pemimpin oposisi Yair Lapid dan pemimpin ultra-nasionalis Naftali Bennett membentuk koalisi untuk membentuk pemerintahan baru (sindonews.com, 14/6/2021).
//Siapa pun Pemimpinnya, Israel Musuh yang Nyata//
Reaksi dunia atas pergantian Perdana Menteri Israel tentu berbeda-beda. Namun hal ini menunjukkan bagaimana nasib Palestina ke depannya. Terutama jika kita melihat reaksi dan komentar dari negara adidaya dan sekutunya, maka akan tergambar jelas bagaimana cara Bannett memimpin Israel.
Dilansir dari sindonews.com (14/6/2021), Presiden AS Joe Bidden menyatakan bahwa Amerika Serikat tetap berkomitmen untuk tetap teguh dalam mendukung keamanan Israel dan memperkuat semua aspek dengan hubungan yang erat. Bidden menambahkan, jika Israel tidak memiliki teman yang lebih baik daripada Amerika Serikat. Senada dengan AS, Kanselir Jerman Angela Merkel, dan Kanselir Austria Sebastian Kurz juga menyatakan dukungannya. Angela menyampaikan jika Jerman dan Israel memiliki persahabatan yang unik dan berharap untuk tetap bekerjasama. Sedangkan Austria berkomitmen bahwa Israel sebagai negara Yahudi dan akan terus berada di sisi Israel.
Begitu pula dengan negara sekutu mereka seperti Inggris dan Kanada. Menteri luar negeri Inggris Dominic Raab berharap untuk melanjutkan kerja sama keamanan, perdagangan dan perubahan iklim Inggris-Israel, serta bekerja sama untuk mengamankan perdamaian. Perdana Menteri Kanada Justin Trudeau juga menyampaikan keinginannya untuk tetap bekerjasama dengan Israel dan memperkuat hubungan perdagangan bilateral.
Namun, reaksi berbeda muncul dari Palestina. Kantor Presiden Otoritas Palestina (PA), Mahmoud Abbas, melalui juru bicaranya Nabil Abu Rudeineh mengatakan bahwa perubahan pemerintahan Israel adalah urusan internal Israel. Sedangkan tuntutan Palestina tetap sama, dan yang diinginkan adalah negara Palestina di perbatasan 1967 dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya.
Sedangkan juru bicara Hamas Fawzi Barhoum bersikeras bahwa tidak peduli warna pemerintahan baru Israel, dan tetap menganggap Israel menjadi entitas kolonial yang harus diperangi. Tak salah lagi, siapapun pemimpin Israel, tidak akan memberi pengaruh baik bagi Palestina. Sebab, di balik Israel telah berdiri para pendukungnya. Apalagi AS sebagai negara adidaya di dunia, mempunyai kendali dan kuasa atas Israel dan negara-negara sekutunya.
Maka, dengan bergantinya Perdana Menteri Israel, nasib masa depan Palestina akan tetap sama. Keinginan untuk menguasai Palestina akan tetap dijalankan, meski harus dengan melakukan penyerangan kepada warga Palestina. Selamanya, Israel tetap musuh yang nyata bagi kaum muslimin.
Sudah kita ketahui bersama, meskipun beragam perjanjian dan gencatan senjata sudah dilakukan, solusi dua negara juga sudah dihadirkan, namun faktanya mereka selalu mengingkari janji. Hal ini membuktikan firman Allah ta’ala dalam al Qur’an surat Al Baqarah ayat 84 yang artinya: “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): Kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhi) sedang kamu mempersaksikannya”.
//Solusi Islam untuk Palestina//
Dalam pandangan Islam, Israel adalah termasuk “kafir harbi fi’lan”, yang mana merupakan musuh Allah, Rasulullah, juga kaum muslimin seluruhnya. Sebab kafir ini dengan terang-terangan memusuhi Islam, juga ringan tangan menumpahkan darah kaum muslimin, baik melakukan pembunuhan, pembantaian, penyikasaan, penyerangan atau tindakan kejam lainnya yang berujung penderitaan kaum muslimin atau bahkan hingga berakhir pada kematian.
Maka, tindakan tegas terhadap kafir ini adalah dengan memerangi mereka. Sehingga tidak cukup dengan kecaman, perjanjian-perjanjian atau kemerdekaan atas Palestina. Sebab, selama Israel masih mempunyai kekuatan, maka selamanya akan terus menyerang dan mengikari apa yang sudah mereka setujui sebelumnya. Apalagi ada AS dan para sekutunya yang siap memberi dukungan juga untuk keamanan Israel.
Sungguh, kekejaman mereka hanya bisa dilawan dengan pasukan yang tangguh yang dikirim oleh negara yang memahami dan menerapkan Islam secara menyeluruh. Negara yang mempunyai kemandirian hakiki, salah satunya dalam hal militer, sehingga tidak akan disetir oleh asing. Dengan demikian, insyaallah perdamaian Palestina akan terwujud. Bahkan tidak hanya Palestina tetapi juga seluruh negeri-negeri kaum muslimin di dunia. Wallahua’lam bishowab.