
Oleh. Uqy-Chan
(Komunitas Ngobrol Opini)
Muslimahtimes.com– Siapa pun dan di mana pun tak ada orang tua yang ingin anaknya dikenal sebagai anak nakal, suka tawuran, membunuh, membacok, dan sejenisnya. Setiap orang tua sudah pasti menginginkan anaknya menjadi anak yang baik, saleh, memiliki empati, berbakti pada orang tua, dan yang pasti sukses dalam sekolah dan kariernya. Namun, di tengah arus sistem kapitalisme ini, menemukan anak yang diidamkan orang tua sangatlah susah bahkan jarang ditemukan, hanya bisa dihitung jari. Sebab mereka telah terbentuk dengan model gaya hidup yang jauh dari visi hidup. Mereka hidup dengan penuh ketergantungan pada dunia, mengejar materi demi gengsi, yang semua itu jauh dari cita-cita generasi yang sesungguhnya.
Dalam laman sumeks.co (8/1/2023), sekelompok remaja di Palembang melakukan aksi tawuran di Lorong Ramayana Kelurahan Kalidoni, Palembang dini hari 00.30 WIB. Delapan buah senjata tajam, tiga unit sepeda motor diamankan polisi. Mereka adalah MB (17), Ra (18), RP (21), dan MR (21). Adapun di Jombang Jawa Timur, polisi meringkus 13 pesilat yang membuat onar dengan merusak bangunan, sepeda motor dan mengeroyok warga. Lima pesilat ditetapkan sebagai tersangka pengeroyokan. Kasat Reskrim Polres Jombang AKP Giadi Nugraha mengatakan keonaran itu bermula ketika sebuah perguruan silat menggelar pembaiatan warga baru di Mojoagung. (dtk.id/NhAUCQ, 8/1/2023)
Dan tentunya masih banyak kejadian serupa yang belum terungkap.
Minim Visi Akibat Sekularisme
Potret kenakalan remaja memang membuat hati miris dan teriris. Kasus remaja dengan tingkat kenakalan yang sudah tak terbendung sangat mengkhawatirkan. Kian hari kian bertambah parah seolah tak dapat disembuhkan. Merosotnya moral dan perilaku telah menggerogoti jiwa generasi hari ini. Sifat pemarah, ingin menang sendiri, ingin seperti jagoan, nongkrong di jalanan, adu mulut berakhir cekcok, main bacok, main tendang, main paksa, dan bahkan dengan cara-cara di luar nalar bisa dilakukan tanpa memikirkan bahaya sedikitpun. Sedemikian parahnya hingga mereka yang lugu bisa menjadi liar oleh derasnya arus pergaulan kapitalistik sekuler menyeret generasi hingga berani melakukan tindakan berbahaya tak peduli nyawa.
Fenomena ini menunjukkan betapa buruknya potret generasi saat ini. Kian jauh dari suasana iman dan aman. Di mana-mana remaja lebih banyak ikut-ikutan tren gaya pergaulan yang bisa dibilang minim visi. Tak tahu arah tujuan hidup. Dengan kata lain minim pemahaman agama yaitu tentang visi hidup tentang siapa yang menciptakannya, untuk apa ia diciptakan, dan kemana ia akan kembali. Betapa minimnya pemahaman visi hidup ini, wajar pola pikir dan pola jiwanya tanpa arah dan tanpa tujuan. Bebas melakukan apapun demi kepentingan sesaat. Tak peduli dilarang agama atau tidak yang penting bebas dan senang.
Selain kemerosotan akhlak, kemerosotan berpikir telah menggerogoti pola pikir generasi. Berpikir instan cepat kelar tak perlu usaha keras yang penting dapat. Mengandalkan emosi di depan tanpa berpikir dahulu sebelum bertindak, tak perlu jauh berpikir yang penting untung ketimbang rugi. Sedikit berkorban lebih banyak mengeluh, ketimbang syukur. Melakukan aktivitas nirmanfaat bahkan cenderung merugikan orang lain. Yang pasti berpikir individual semata untuk kepentingannya sendiri. Alhasil, mereka seperti terbiasa berpikir demikian ditambah pola pendidikan bentukan sekuler hari ini menghasilkan pola pikir sesat dan tak terarah.
Hal ini menandakan problem generasi yang sudah sangat parah, genting dan darurat, perlu tindakan yang tepat untuk menyelesaikan mulai dari akarnya. Sebab penyelesaian tanpa dari akarnya maka hanya bersifat tambal sulam. Akan muncul kembali problema sebelumnya kemudian tumbuh subur kembali. Demikianlah yang terjadi saat ini, tanpa penyelesaian yang benar dari akar masalahnya problem generasi akan terus bermunculan. Ini semua akibat dari penerapan aturan Kapitalistik Sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan. Wajar ia tak mengenal siapa Tuhannya sementara tujuan hidup hanya untuk meraih materi, bebas tanpa aturan.
Kembali pada Islam Kaffah
Demikian memilukannya melihat potret generasi yang minim visi, sibuk mengejar duniawi dan eksistensi serta harga diri. Namun yang tampak adalah potret bobroknya pola pikir dan pola jiwa generasi hari ini. Setiap hari tak luput dari pemberitaan media tentang kondisi remaja yang kian parah. Sudah terlalu banyak memakan korban akibat bengisnya sistem kapitalistik sekuler mengubah cara pandang remaja secara perlahan tapi pasti. Namun kondisi ini akan semakin parah lagi bila negara juga tak memiliki visi penyelamat generasi dari bahaya yang mengancam akidahnya. Maka, jadilah generasi yang mengikuti ke mana arus bertiup serta air yang mengalir. Padahal Allah Swt menciptakan manusia tidaklah secara main-main. Allah Swt. berfirman dalam QS. Al Mukminun 115 :
أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَٰكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لَا تُرْجَعُونَ
“Maka apakah kamu mengira bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”.
Untuk itulah Islam hadir sebagai agama sekaligus memiliki aturan yang di dalamnya memiliki konsep hidup yang sempurna mulai dari problem A hingga Z. Dalam konteks generasi, Islam memiliki visi hidup yang mulia dan juga metode yang sesuai dalam menghadapi masalah generasi sekaligus penerapannya untuk menyelamatkannya. Sejatinya, keterpurukan generasi hari ini memang mereka jauh dari pemahaman agama Islam yang benar. Ditambah gempuran deras sekularisme yang dalam memahami agama hanya sebatas ibadah ritual sementara tak mampu atasi pergaulan remaja yang bebas ini dengan akidahnya. Sementara itu negara pun menerapkan sistem yang berasaskan sekuler ini, sehingga wajar jika penyakit ini muncul dari sistem yang sudah cacat dan mandul sejak lahirnya. Maka, perlu kembali pada sistem yang sempurna, yaitu Islam kaffah.
Islam sangat relevan diterapkan di berbagai lini dan dimanapun berada bukan hanya untuk kalangan tertentu dan generasi tertentu. Generasi saat ini memerlukan visi hidup sesuai dengan fitrahnya yaitu akidah Islam. Akidah terdiri dari keimanan yang merupakan fondasi sekaligus solusi dalam menjalani kehidupannya. Dengan akidah Islam akan mampu memahami konsep hidup sebenarnya yaitu hidup untuk menggapai rida Allah. Hidup untuk ibadah dan matinya kembali pada Allah. Tak hanya itu Islam merupakan ideologi yang memiliki seperangkat aturan di dalamnya berupa syariat Islam yang harus diterapkan oleh negara. Dengan demikian akan terwujud suasana keimanan di antara sesama muslim. Bukan seperti saat ini justru jauh dari suasana keimanan. Maka, solusi apa pun yang ditempuh untuk menyelamatkan generasi bila jauh dari keimanan, maka sangatlah mustahil terobati.
Maka harus ada upaya dari negara untuk mengembalikannya menjadi suasana penuh keimanan, yaitu membuang dahulu penyakit yang dilahirkan dari sistem sekuler dan liberal ini, tidak boleh tidak jika ingin sembuh. Dengan kata lain agar generasi terlahir baik dan mulia maka penyakitnya harus dibuang dan kembali pada pemahaman Islam kaffah untuk diterapkan dalam kehidupan secara menyeluruh. Dengan mengajak keluarga, masyarakat, dan negara bersama-sama untuk meninggalkan sistem jahiliyah kapitalistik sekuler yang hanya menghancurkan sendi-sendi kehidupan keluarga muslim, yaitu mengkaji Islam kaffah sebagai solusi permasalahan kehidupan. Hal itu merupakan jalan satu-satunya agar dapat mencetak generasi muslim yang beriman dan bertakwa serta dapat memimpin dunia.
Wallahu a’lam bisshowab.