
Oleh. Mariyam Sundari
(Jurnalis Ideologis, Kontributor Muslimahtimes.com)
Muslimahtimes.com–Rasulullah Saw, tercinta bersabda, disebutkan dalam sahih Muslim, kitab iman hadis bahwa, “Kapan pun engkau melihat sesuatu yang salah, yang terbaik adalah jika engkau bisa menghentikannya dengan tangan. Maka, hentikanlah dengan tanganmu. Jika engkau tidak bisa menghentikannya dengan tanganmu, maka hentikanlah dengan lidahmu. Jika engkau tidak bisa menghentikannya dengan lidahmu, hal yang paling minimal yang dapat engkau lakukan adalah mengutuknya dengan hatimu. Dan itulah serendah-rendahnya keimanan”.
Dari hadis ini menjelaskan, bahwa ketika melihat sesuatu yang salah, maka ada kewajiban bagi setiap muslim untuk menyampaikan pesan dakwah kebenaran. Hal ini juga sudah difirmankan oleh Allah Swt, dalam Al-Qur’an yang artinya: “Demi masa sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, dan menasihati supaya menaati kebenaran dan menasihati supaya menetapi kesabaran” (QS. Al-Ashr: 1-3)
Oleh karenanya, bagi manusia mana pun yang ingin masuk ke dalam surga minimal dibutuhkan empat hal menurut Al-Qur’an surat Al-Ashr. Yaitu: iman, amal salih, menasihati orang lain dalam kebenaran, dan juga menasihati orang lain supaya bersabar.
Termasuk Imam Syafii, semoga Allah Swt, merahmatinya pernah berkata, “Jika hanya surat Al-Ashr ini yang diwahyukan, maka akan mencukupi sebagai petunjuk untuk umat manusia.” Jadi surat Al-Ashr ini mempunyai kekuatan secara menyeluruh (powerfull).
Kalaupun, ada seorang muslim yang sangat baik, yang melakukan shalat lima waktu dalam sehari, telah berhaji bahkan berkali-kali, puasa ramadan, juga berzakat. Tapi, jika tidak berdakwah, tidak menyampaikan pesan Islam terhadap orang yang berbuat salah. Maka, menurut surat Al-Ashr tidak akan bisa masuk ke dalam surga. Meskipun begitu hanya berdakwah saja tidaklah cukup, jadi keempatnya itu sama pentingnya.
Namun, jika Allah Swt, ingin mengampuni kemudian memasukkan seseorang ke dalam surga meskipun orang tersebut tidak berdakwah, maka itu merupakan hak prerogatif Allah, asalkan tidak berlaku syirik. Karena Allah Swt, berfirman yang artinya: “Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu), dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki” (QS. An-nisa: 116)
Jadi dakwah bukan hanya tugas bagi para ulama, habib, kiai, ataupun ustaz saja. Melainkan, seluruh umat muslim yang telah memenuhi beberapa kriteria untuk menyandang kewajiban dari Allah (mukalaf). Apalagi dalam sistem kapitalis saat ini, muslim tidak hanya berkewajiban berdakwah terhadap non-muslim saja, tetapi yang dihadapi adalah dari kalangan muslim itu sendiri yang banyak dipengaruhi oleh derasnya pemikiran kufur yang menjauhkan dari kebenaran yang hak.
Walaupun berdakwah berat adanya, namun itulah tujuan hidup ini yang sebenarnya. Senantiasa menjadi hamba Allah yang patuh serta taat perintah-Nya termasuk sigap menyampaikan pesan dakwah. Bagaimana caranya? Tidak lain, menyuruh umat manusia untuk menyembah hanya kepada Allah Swt, semata (baca QS. Ali-imran: 64). Dan juga menjadikan hanya aturan Allah sajalah yang patut diterapkan dalam ranah kehidupan manusia.
Termasuk yang paling utama bagi muslim adalah menyampaikan kebenaran kepada penguasa zalim yang ada di dalam negeri ini. Pernyataan ini telah disampaikan oleh Rasulullah saw, tercinta di dalam hadisnya yang diceritakan Abu Said Al Khudri yaitu, “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kebenaran (berkata baik) di hadapan penguasa yang zalim.” (HR Abu Daud).
Oleh sebab itu, tunggu apalagi berdakwahlah selagi hayat masih dikandung badan. Untuk menegakkan aturan Allah Swt, yang hak, dengan menerapkan aturan Islam secara kafah di dalam kehidupan di bawah naungan Khilafah. Dengan tujuan untuk memperoleh pahala dan berjumpa dengan Allah kelak di surga-Nya, InsyaAllah.[]