
Oleh. Kholda Najiyah
Muslimahtimes.com–Perempuan memiliki peran dan tugas khusus, sebagaimana laki-laki juga diberi peran dan tugas tersendiri. Keduanya harus saling bekerjasama dan saling mendukung dalam kebaikan. Tidak menjadikan salah satu pihak sebagai pesaing atau bahkan musuh bagi yang lainnya. Terlebih jika keduanya kemudian menikah dan hidup bersama, memulai persahabatan untuk saling mendukung.
Allah Swt berfirman dalam Surat At-Taubah ayat 71 yang artinya: “Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar…”
Tentunya, tidak ada larangan bagi perempuan untuk saling mendukung dengan sesamanya. Ada rambu-rambunya, yaitu selama apa yang kita dukung itu bukan pelanggaran hukum syarat’. Nah, berikut ini bentuk-bentuk dukungan yang bisa diterapkan, baik oleh laki-laki maupun perempuan:
- Bersama-sama Mengembangkan Diri
Baik laki-laki maupun perempuan punya potensi yang harus digali. Masing-masing punya kelebihan yang bisa dioptimalkan, serta kekurangan yang bisa diminimalkan. Dengan saling berbagi ilmu, pengalaman, dan peluang, kita dapat membantu untuk tumbuh dan berkembang bersama.
Ini akan meningkatkan value diri, sehingga menjadi manusia yang lebih baik dari sebelumnya. Jika potensi yang luar biasa ini dimanfaatkan, niscaya nasib diri juga akan berubah menuju kondisi lebih baik.
- Saling Menasihati dalam Kebaikan
Hubungan sosial meniscayakan saling menasihati. Mengajak pada kebaikan. Menghindarkan diri dan hawa nafsu yang menyesatkan. Ini butuh saling pengertian antara dua belah pihak, agar pada saatnya tidak kecewa. Artinya, pihak yang menasihati bisa melakukannya tanpa rasa takut, sedangkan pihak yang dinasihati, legowo menerima dengan hati senang. Tentu saja, nasihat terbaik adalah dalam rangka mengajak kepada keterikatan pada hukum syara’ alias berdakwah.
- Saling Menguatkan Saat Diuji Cobaan
Tidak selamanya hidup ini lancar seperti jalan tol. Sebaliknya, pasti penuh dinamika, baik berupa ujian ringan maupun berat. Baik membebani fisik maupun mental. Penting untuk saling menguatkan satu sama lain. Saling berempati, berbagi beban, mendengarkan secara sungguh-sungguh dan memberikan dukungan emosional, dapat membantu meringankan beban. Memotivasi untuk bangkit kembali dari keterpurukan.
Itulah gunanya persahabatan, baik antarperempuan, antarlaki-laki maupun laki-laki dan perempuan dalam ikatan nikah. Persahabatan yang erat dan hangat, dalam ikatan syariat, yang dapat menentramkan dan mewujudkan kebahagiaan.
- Menahan Diri dari Kritik Destruktif
Jangan bermudah-mudah melakukan kritik, jika bukan karena terkait hal yang yang mendesak, penting dan menyangkut kebenaran. Itupun harus berhati-hati cara menyampaikannya. Jangan sampai menyakiti hati, karena mengkritik fisik. Misal melakukan body shaming, yaitu mengkritik bentuk tubuh atau penampilan fisik.
Jangan pula menggunjingkan di belakang. Dilarang memfitnah yang merusak reputasi pihak lain. Mengghibah dan berlaku munafik, seperti lain di bibir lain di hati. Apalagi bersahabat yang ternyata pamrih. Membantu seolah tidak berharap imbalan, padahal jika tidak diberi, menikam dari belakang.
- Tidak Merasa Tersaingi, tapi Termotivasi
Baik perempuan maupun laki-laki, tidak perlu membanding-bandingkan dirinya dengan teman-temannya. Capaian masing-masing orang itu berbeda dan layak dihargai, selama tidak melanggar syariat Islam. Jangan bermental kepiting, yaitu iri pada capaian orang lain. Sebaliknya, jika ada yang sukses, jadikan sebagai movitasi dan inspirasi untuk meniru kesuksesannya. Sebab, semua jenis kesuksesan itu dibangun atas kerja keras dan kesabaran.(*)