Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2025
  • August
  • 30
  • Women Support Women, Jargon Membabi Buta

Women Support Women, Jargon Membabi Buta

Editor Muslimah Times 30/08/2025
WhatsApp Image 2025-08-27 at 19.50.02
Spread the love

Oleh. Kholda Najiyah

Muslimahtimes.com–Seorang perempuan bergaul bebas, lalu hamil. Perempuan se-Indonesia diminta mengasihani, tanpa menghakimi. Berkembang doktrin, sebagai sesama perempuan, maka harus women support women. Dilarang melabeli, diajak berempati. Dia hanyalah korban kejahatan laki-laki. Simpati mengalir, follower membanjir.

Meskipun komentar terbanyak di podcast tentangnya menyebut bahwa “Kita boleh berempati, tapi tidak untuk menormalisasi hamil di luar nikahnya;” akan tetapi, bermunculan pula narasi yang membela. Menurut mereka, hamil di luar nikah sebagai pilihan sadar perempuan itu sendiri, harus dihargai. Bahkan keputusannya untuk tidak menikahi laki-laki yang menghamilinya, dinilai pilihan hebat. Astaghfirullah.

Bangunan moral tentu saja akan runtuh, jika perilaku amoral tidak boleh dikritik, tapi malah dibela. Batas antara benar dan salah pun hilang. Perbuatan mana yang pantas dibela dan mana yang tidak, menjadi kabur. Hakikat kebenaran pun menjadi nisbi dan tidak ada maknanya, jika sesuatu yang salah tidak boleh dibilang salah. Alih-alih mendapatkan sanksi sosial, hal ini bisa menginspirasi perempuan lain untuk tidak takut melakukan hal yang sama. Na’udzubillah.

Cara Pandang Feminis

Perempuan hari ini, tanpa sadar sudah tercuci otaknya oleh pemahaman liberal ala sekuler, yaitu yang memisahkan agama dari kehidupan. Standar dosa atau pahala, baik atau buruk dan moral atau amoral, bukan berbasis agama tapi gender. Seolah, jika seseorang itu berkelamin perempuan, maka dia serba benar. Misal, ketika dia sendiri yang memilih melakukan dosa, tetap saja dibela.

Inilah cara pandang Feminisme yang membabi-buta membela perempuan. Mereka meyakini bahwa tubuh perempuan adalah hak perempuan itu sendiri. Apapun yang dilakukannya, selama tidak ada paksaan dari siapapun, dialah perempuan hebat. Mandiri dan merdeka.

Tubuh perempuan tidak boleh dikendalikan oleh siapapun, kecuali dirinya sendiri. Mau nikah atau zina, mau hamil atau tidak, selama perempuan itu memilih sendiri keputusannya, harus didukung dan dibela. Itulah simbol perempuan yang merdeka dari sistem patriarki.

Jika di kemudian hari dia menanggung risiko atas perbuatannya, yang kebetulan melibatkan laki-laki, maka perempuan diposisikan hanyalah sebagai korban. Kalau mau menuding sang pendosa, arahkan telunjuk itu ke laki-laki. Jangan perempuannya yang dicap nakal, tapi laki-laki yang harus diberi label amoral.

Padahal, sejak kapan pelaku pacaran atas dasar keinginannya sendiri adalah korban? Sejak kapan zina atas pilihan suka-suka adalah korban? Agama mana pun tidak mengizinkan zina dan menilainya sebagai perbuatan amoral. Keharamannya sudah sangat gamblang. Pelakunya tidak pandang jenis kelamin, baik laki-laki maupun perempuan, sama-sama bersalah. Sama-sama dosa.

Bias Gender

Women support women adalah jargon tentang solidaritas sesama perempuan, agar saling mendukung satu sama lain. Sesama perempuan harusnya saling membela, bukan malah menjatuhkan. Standar mengenai apa yang dibela, bukan berbasis agama tapi gender. Baik dan buruk, halal dan haram, maksiat atau bukan, tidak lagi penting. Yang jelas, jika seseorang itu berkelamin perempuan, maka dia harus dibela oleh sesamanya. Akibatnya, jargon ini sering dipakai secara membabi buta. Dukungan bukan hanya pada perempuan berprestasi, bahkan para perempuan yang wanprestasi.

Para pengusung jargon yang juga penggiat kesetaraan gender akan berlindung di balik larangan victim blamimg pada korban. Artinya, seorang perempuan yang sedang dirundung masalah, dia adalah korban. Jangan disalahkan dan dihakimi. Misal, perempuan yang hamil di luar nikah dengan pacarnya, maka dia adalah korban. Salahkan saja yang menghamili.

Akibat buruk selanjutnya, terjadi bias gender dalam menyikapi kebenaran. Sesuatu yang salah, dimaklumi dan diterima, hanya karena dia berjenis kelamin perempuan. Rancu pula dalam mendudukkan persoalan, karena seseorang yang melakukan dosa dan maksiat atas pilihannya sendiri secara sadar, ditempatkan sebagai korban, padahal pelaku.

Inilah jika dukungan didasarkan pada jenis kelamin. Gender menjadi alat ukur kebenaran dan moral seseorang. Perempuan tidak boleh disalahkan dan dihakimi. Padahal, di sistem hidup yang buruk ini, perempuan nakal itu nyata adanya, sebagaimana juga berserakan para laki-laki bejat. Dua-duanya tentu tidak layak untuk didukung, tapi seharusnya diberi sanksi sosial.

Sistem Julid

Women support women menjadi jargon yang dibutuhkan para perempuan yang hidup di peradaban kapitalis sekuler, karena sistem hidup ini tidak memberikan dukungan terbaik. Bahkan, tak sedikit kaum perempuan yang memiliki sifat buruk kepada sesamanya. Mereka justru bersaing dan saling menjatuhkan.

Lihat saja, di kehidupan nyata, banyak perempuan yang julid. Tidak bisa membela sesamanya. Mereka tidak menghargai pilihan perempuan lain. Saling membandingkan. Mengkritik pedas dan menjatuhkan. Tidak suka melihat perempuan lain maju. Bukannya bangga atas capaian prestasi seorang perempuan, yang ada rasa iri, dengki dan hasad.

Contoh kasus, jika ada seorang perempuan yang punya karier cemerlang, rekan kerjanya ternyata menggunjing di belakang. Dituding hanya mengandalkan kecantikan atau modal menjilat atasan. Sebaliknya, jika ada seorang perempuan yang memilih menjadi ibu rumah tangga, dihujat, “sayang sekolah tinggi, tapi tidak bekerja.”

Walhasil, di kehidupan ini, para perempuan tidak kehabisan bahan perdebatan. Mereka punya sudut pandang yang saling bertolak belakang. Akhirnya saling menjatuhkan, karena merasa pendapatnya yang paling benar. Banyak perempuan yang lain di bibir, lain di hati. Lain di depan, lain di belakang. Sebagian kerap menggunaka topeng kepalsuan, seolah mendukung, padahal menikung. Di depan manis, di belakang sinis.

Inilah topik-topik yang terus diperdebatkan oleh para wanita, yang katanya harus women support women. Mereka berdebat soal mana yang lebih hebat: wanita mandiri vs bergantung suami, wanita karier vs ibu rumah tangga, melahirkan normal vs caesar, homeschooling vs sekolah formal.

Mereka juga berdebat tentang sebaiknya memasak sendiri atau membeli matang. Antara anak boleh jajan vs membawa bekal, pakai skin care vs air wudhu, vaksin vs antivaksin, pengobatan medis vs herbal, punya pembantu vs kerjakan sendiri, bertahan dalam pernikahan demi anak vs bercerai dengan dalih juga demi anak.

Hal itu terjadi, karena rendahnya pola pikir dan kurangnya literasi. Selain itu, mereka tidak memiliki standar yang jelas, mana yang penting dan tidak penting untuk diperdebatkan. Berbeda dengan standar Islam yang sangat jelas dan tegas. Jika terkait yang yang mubah, perempuan tidak seharusnya memperdebatkan hal tersebut. Tidak perlu menjatuhkan satu sama lain. Tidak perlu mengkritik pedas dan komentar negatif. Tahan diri dan jangan julid, iri dan dengki.

Tetapi untuk perkara yang sudah jelas antara taat vs maksiat, dan antara haram vs halal, maka yang kita dukung adalah yang sesuai dengan ajaran agama. Kita dukung yang benar, bukan mendukung karena dia perempuan.

Women Support Islam

Women support Islam, itulah jargon yang seharusnya kita sampaikan pada para perempuan. Mengajak mereka untuk membela dan mendukung perjuangan Islam, agar bisa diterapkan mengganti sistem sekuler kapitalis. Kenapa? Karena Islamlah satu-satunya agama yang memberikan support penuh kepada kaum perempuan, juga laki-laki. Islam mewujudkan keadilan untuk semua, tanpa memandang gender.

Khusus untuk kaum perempuan, Islam memiliki seperangkat dukungan untuk membela dan melindungi mereka. Antara lain, aurat perempuan ditutup, kebutuhan perempuan dicukupi dengan nafkah dan keamanannya dilindungi wali, ditempatkan di kehidupan khususnya, dijaga kehormatannya dan dijamin perannya.

Islam melarang perempuan bepergian tanpa izin. Jika bersafar akan ditemani mahramnya. Dilarang menikahkan dirinya sendiri, berkhalwat dan berzina, agar selamat dari bencana sosial. Kalau dia menikah dan menjadi ibu, dimuliakan anak dan menantu. Diperintahkan kepada laki-laki yang menjadi wali perempuan untuk memenuhi kebutuhannya.

Tak hanya itu, negara menyediakan sarana dan fasilitas untuk kemajuan perempuan dalam segala hal. Seperti pendidikan, kecakapan hidup dan keterampilan. Dengan begitu, perempuan akan cerdas, berdaya dan berkontribusi positif untuk bangsa. Mereka tidak julid pada sesama, tetapi jika memang ada yang perlu diluruskan, tak segan untuk meluruskan.

Demikianlah, hanya Islam yang membebaskan perempuan dari keburukan dan kemerosotan akhlak dan menghantarkannya kepada kemuliaan dan ketinggian harkat dan martabatnya. Mendukung perempuan, berarti mengajaknya ke jalan kebenaran. Itulah dukungan terbaik bagi sesama perempuan, yaitu mengajaknya untuk terikat pada aturan Allah Swt.(*)

Continue Reading

Previous: Marak Generasi Rusak, Produk Sistem Kapitalisme
Next: Menyorot Tunjangan Fantastis DPR, Gaji Serius Kerja Bercanda

Related Stories

Rakyat Didekap Kezaliman, Sistem Islam adalah Jawaban WhatsApp Image 2025-08-30 at 22.08.45

Rakyat Didekap Kezaliman, Sistem Islam adalah Jawaban

30/08/2025
Menyorot Tunjangan Fantastis DPR, Gaji Serius Kerja Bercanda WhatsApp Image 2025-08-30 at 21.38.02

Menyorot Tunjangan Fantastis DPR, Gaji Serius Kerja Bercanda

30/08/2025
Marak Generasi Rusak, Produk Sistem Kapitalisme WhatsApp Image 2025-08-26 at 13.15.40

Marak Generasi Rusak, Produk Sistem Kapitalisme

26/08/2025

Recent Posts

  • Rakyat Didekap Kezaliman, Sistem Islam adalah Jawaban
  • Menyorot Tunjangan Fantastis DPR, Gaji Serius Kerja Bercanda
  • Women Support Women, Jargon Membabi Buta
  • Perempuan Saling Dukung Mengembangkan Diri
  • Sisi Lain Tarif Dagang Amerika-Indonesia

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Rakyat Didekap Kezaliman, Sistem Islam adalah Jawaban WhatsApp Image 2025-08-30 at 22.08.45

Rakyat Didekap Kezaliman, Sistem Islam adalah Jawaban

30/08/2025
Menyorot Tunjangan Fantastis DPR, Gaji Serius Kerja Bercanda WhatsApp Image 2025-08-30 at 21.38.02

Menyorot Tunjangan Fantastis DPR, Gaji Serius Kerja Bercanda

30/08/2025
Women Support Women, Jargon Membabi Buta WhatsApp Image 2025-08-27 at 19.50.02

Women Support Women, Jargon Membabi Buta

30/08/2025
Perempuan Saling Dukung Mengembangkan Diri WhatsApp Image 2025-08-27 at 19.54.40

Perempuan Saling Dukung Mengembangkan Diri

30/08/2025
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.