Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2025
  • November
  • 17
  • Kejamnya Bullying Mengubah Korban Menjadi Pelaku

Kejamnya Bullying Mengubah Korban Menjadi Pelaku

Editor Muslimah Times 17/11/2025
WhatsApp Image 2025-11-17 at 20.34.17
Spread the love

Oleh. Asha Tridayana

Muslimahtimes.com–Maraknya kasus bullying semakin meresahkan masyarakat. Siapa saja bisa menjadi korban bullying baik anak-anak, remaja bahkan orang dewasa. Tidak memandang status sosial, pekerjaan dan gender. Biasanya mereka yang menjadi korban terlihat lemah, mudah diperdaya, lebih sering sendirian, pemurung dan lain sebagainya. Namun, pada titik tertentu korban dapat meluapkan kemarahan atau penderitaannya selama dibully dengan berbagai cara seperti melukai diri sendiri yang dapat berujung pada bunuh diri atau melakukan pembalasan kepada pelaku bullying dengan kejahatan lain. Karena faktanya memang bullying ini telah merusak fisik dan mental korban apalagi jika terjadi berulang kali dan berkepanjangan.

Seperti yang terjadi di salah satu pondok pesantren di Aceh Besar, seorang santri dibawah umur nekat membakar asrama saat dini hari dengan alasan sakit hati sering mengalami bullying dari teman-temannya. Hal ini disampaikan oleh Kapolresta Banda Aceh, Kombes Pol Joko Heri Purwono. Kini pelaku mendapatkan penanganan sesuai Sistem Peradilan Pidana Anak (SPPA) dan selama penyidikan ditempatkan di LPKA Banda Aceh (m.kumparan.com 07/11/25). Tidak hanya di Aceh, di Jakarta Utara tepatnya di SMAN 72 Kelapa Gading terjadi ledakan pada Jumat (7/11) saat salat Jumat berlangsung. Menurut saksi salah seorang siswa menduga pelaku merupakan korban bullying. Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyatakan bahwa terduga pelaku masih menjalani operasi pasca ledakan dan sedang didalami identitas dan lingkungannya (www.cnnindonesia.com 08/11/25).

Begitu besar dampak bullying, nampak dari yang awalnya sebagai korban bisa berubah menjadi pelaku kejahatan lantaran membalaskan sakit hatinya. Akibat dari tekanan sosial yang begitu berat baik ejekan, pelecehan dan pengucilan bahkan serangan fisik yang dilakukan para pelaku bullying. Hal ini menunjukkan bahwa kasus bullying telah merusak mental dan perilaku seseorang sehingga seharusnya mendapatkan tindakan khusus dari pihak berwenang agar dapat tertangani dan tidak semakin parah.

Apalagi kasus bullying telah mewabah di berbagai daerah menjadi bukti bahwa bullying merupakan masalah sistemik dalam pendidikan. Terdapat kekeliruan dalam pola dan metode pengajaran saat ini yang akhirnya melahirkan generasi dengan gangguan perilaku. Ditambah lagi adanya media sosial yang memiliki pengaruh besar dan memperparah aksi bullying hingga tindakan menyakiti orang lain dijadikan candaan. Telah terjadi krisis adab yang semestinya menjadi landasan dalam pendidikan. Tidak lagi peduli dengan dampak dari setiap perbuatan asalkan senang dan terpuaskan apapun dilakukan.

Termasuk para korban bullying juga terdampak paparan media sosial dan menjadikannya rujukan. Mereka tidak berpikir panjang dalam melakukan aksi yang membahayakan nyawa orang lain demi melampiaskan kemarahan dan dendam kepada pelaku perundungan. Hingga mereka pun menjadi pelaku kejahatan dan terancam hukuman pidana. Sungguh ironis, bullying benar-benar menunjukkan kegagalan sistem pendidikan dalam negara yang menganut sistem sekuler kapitalistik.

Begitulah fakta saat pendidikan yang semestinya menjadi tempat menuntut ilmu justru berfokus pada materi dan mengagungkan kebebasan. Tidak sedikit sekolah maupun pondok pesantren lebih sibuk memperbanyak siswa atau santri daripada membina dengan sebaik-baiknya. Tidak memiliki tujuan dan arah pendidikan yang jelas apalagi upaya membentuk kepribadian Islam malah menjauhkan generasi dari pemahaman Islam yang sebenarnya.

Tidak mengherankan, sistem sekuler kapitalistik yang disebarkan Barat ke negeri-negeri muslim yang salah satunya negeri ini memang bertujuan menghancurkan Islam dan kaum muslim. Oleh karena itu, sudah semestinya sebagai kaum muslim segera sadar dan melakukan perubahan karena selama sistem kufur yang diemban maka persoalan demi persoalan akan terus bermunculan. Tidak ada solusi yang bisa menuntaskan kecuali menggantinya dengan sistem shohih Islam satu-satunya Islam yang berasal dari Allah swt.

Di dalam Islam, pendidikan bertujuan membentuk kepribadian Islam pada setiap individu. Proses pendidikannya pun tidak sekadar transfer ilmu tetapi terdapat pembinaan intensif yang memastikan ilmu yang diperoleh dapat dipahami secara utuh dan diamalkan sesuai hukum syarak. Terbentuklah pola pikir dan pola sikap Islami yang tidak hanya mencari nilai materi tetapi juga nilai maknawi dan nilai ruhiyah. Sehingga dalam menyikapi setiap masalah hidup akan menjadikan hukum syarak sebagai landasan dan tidak mudah tersulut hawa nafsu. Di samping itu juga memahami tujuan dan akibat dari setiap perbuatannya.

Tentu pendidikan semacam ini tidak berdasarkan sekuler kapitalis melainkan menjadikan akidah Islam sebagai pondasi dalam kurikulum dan adab sebagai dasar pendidikan. Islam benar-benar mencetak generasi yang memahami perannya dalam hidup dan senantiasa terikat dengan hukum syarak. Hal ini terjadi karena negara bertanggung jawab secara penuh menjamin kelangsungan hidup rakytanya termasuk dalam pendidikan. Negara memahami perannya sebagai level tertinggi yang semestinya mensuasanakan lingkungan masyarakat dengan adanya pembinaan moral dan perlindungan dari kezaliman sosial seperti bullying. Maka dari itu, adanya negara yang menerapkan Islam kaffah di segala aspek kehidupan menjadi urgensitas yang harus terus diperjuangkan.

Wallahu’alam bishowab

Continue Reading

Previous: Sudan Membara, Konflik Berbasis Eksploitasi Sumber Daya Alam
Next: Darurat Bullying terhadap Remaja, di Mana Peran Negara?

Related Stories

The Polluter Pays Principle, Rekonstruksi Gaza Bukan Agenda Tulus Board of Peace WhatsApp Image 2026-02-11 at 10.39.00

The Polluter Pays Principle, Rekonstruksi Gaza Bukan Agenda Tulus Board of Peace

11/02/2026
Nasib Sekolah dan Pesantren Pascabencana: Menagih Tanggung Jawab Negara WhatsApp Image 2026-02-03 at 22.11.09

Nasib Sekolah dan Pesantren Pascabencana: Menagih Tanggung Jawab Negara

03/02/2026
Normalisasi Istri Tidak Bekerja WhatsApp Image 2025-12-01 at 20.59.48

Normalisasi Istri Tidak Bekerja

01/12/2025

Recent Posts

  • Ramadan: Refleksi Ketundukan Totalitas kepada Allah
  • Bergabung dengan BoP, Pengkhianatan terhadap Palestina
  • Tragedi Pendidikan dan Kemiskinan Akibat Kegagalan Negara
  • Sistem Islam Melindungi Generasi dari Ketragisan
  • Harapan Rakyat Hanyut, Seiring Bencana yang Berlanjut

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Ramadan: Refleksi Ketundukan Totalitas kepada Allah WhatsApp Image 2026-02-17 at 11.43.17

Ramadan: Refleksi Ketundukan Totalitas kepada Allah

17/02/2026
Bergabung dengan BoP, Pengkhianatan terhadap Palestina WhatsApp Image 2026-02-17 at 10.54.46

Bergabung dengan BoP, Pengkhianatan terhadap Palestina

17/02/2026
Tragedi Pendidikan dan Kemiskinan Akibat Kegagalan Negara WhatsApp Image 2026-02-17 at 10.35.36

Tragedi Pendidikan dan Kemiskinan Akibat Kegagalan Negara

17/02/2026
Sistem Islam Melindungi Generasi dari Ketragisan WhatsApp Image 2026-02-17 at 10.23.59

Sistem Islam Melindungi Generasi dari Ketragisan

17/02/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.