Oleh. Ni’matul Afiah Ummu Fatiya
Muslimahtimes.com–Betapa kisruhnya dunia pendidikan kita hari ini. Mulai dari kurikulum pendidikan yang tidak konsisten, sistem penerimaan siswa baru yang amburadul, output pendidikan yang ‘jeblok’, sampai perilaku oknum guru dan murid yang tidak mencerminkan kaum terdidik.
Seperti kasus yang masih banyak diperbincangkan saat ini, yang terjadi di SMK Negeri 3 Tanjung Jabung Timur, Jambi. Seorang guru bernama Agus Saputra, terekam kamera sedang adu jotos dengan siswanya. Video yang memuat aksi mereka tersebut viral di media sosial.
Peristiwa yang berawal dari seorang murid menegur guru dengan tidak hormat, kemudian guru membalas dengan melontarkan kata-kata yang dianggap oleh murid sebagai bentuk penghinaan. Dari kejadian itu, akhirnya Agus Saputra melaporkan kejadian itu ke Polda Jambi sebagai penganiayaan. (Detiknews, 17-1-2026).
Kasus guru Agus hanyalah satu contoh dari semrawutnya sistem pendidikan saat ini. Banyak kasus-kasus serupa yang menunjukkan buruknya relasi antara guru dan murid. Jelas, ini bukan hanya konflik personal atau emosi sesaat, melainkan sudah menyangkut konflik komunal dunia pendidikan.
Pendidikan dalam Bingkai Kapitalis
Guru, adalah sosok yang seharusnya dijadikan teladan, dihormati dan dimuliakan. Akan tetapi, kini guru dianggap seperti teman sepermainan yang yang tidak mengenal batasan. Sebaliknya, murid yang seharusnya bersikap sopan santun terhadap guru, kini justru banyak yang bersikap kasar, bahkan kurang ajar sampai mengkriminalisasi guru. Meskipun memang ada beberapa oknum guru yang berperilaku tidak mencerminkan statusnya sebagai guru yang patut digugu dan ditiru.
Inilah potret dunia pendidikan kita saat ini, penuh masalah, rumit seperti benang kusut yang sulit untuk diuraikan. Semua berpangkal dari diterapkanannya sistem kapitalis sekuler di negara ini. Sistem ini telah mengaduk-aduk falsafah pendidikan, membelokkan arah dan tujuan pendidikan.
Pendidikan saat ini hanya mengejar nilai akademik dan menjauhkan nilai-nilai agama. Pendidikan hanya mencetak murid yang pintar tapi niradab, melahirkan lulusan untuk memenuhi pesanan pasar. Tidak heran ketika banyak bermunculan berbagai kasus dunia pendidikan, termasuk konflik antar murid, serta konflik guru dengan murid. Fungsi guru hanya sebatas transfer ilmu pengetahuan tanpa campur tangan dalam pembentukan karakter murid. Murid menganggap belajar sebatas kegiatan formal demi mendapatkan ijazah sebagai syarat memperoleh pekerjaan di masa depan.
Pendidikan dalam Islam
Berbeda dengan Kapitalis, Islam memandang pendidikan sebagai sebuah proses yang penting dalam menjaga peradaban manusia. Islam sangat menjunjung tinggi adab. Dalam sebuah hadits, Rasulullah Saw bersabda:
إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ مَكَارِمَ الأَخْلاقِ
Artinya: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak mulia.” (HR. Al-Baihaqi).
Maka, hal pertama yang harus ditanamkan pada proses pengajaran adalah masalah akidah, menyangkut juga masalah adab. Baik adab terhadap Allah, terhadap sesama manusia termasuk guru dan orang tua, serta adab terhadap dirinya sendiri.
Adab Sebelum Ilmu
Dalam kitab Hilyatul Auliya karya Abu Nu’aim Ashfahani disebutkan: Imam Malik mengatakan bahwa para ulama belajar adab selama tiga puluh tahun sebelum mempelajari ilmu selama dua puluh lima tahun. Artinya, para ulama memahami pentingnya mendahulukan adab sebelum ilmu.
Hendaknya, seorang murid itu memuliakan guru, merendahkan diri dan tidak sombong di hadapan guru serta mengakui keutamaan guru. Sementara itu, seorang guru diwajibkan mendidik murid-muridnya dengan rasa cinta dan kasih sayang, berlaku lemah lembut serta penuh keakraban. Seorang guru juga tidak boleh mengeraskan suaranya melebihi kebutuhan.
Islam memandang guru bukan sekadar penyampai ilmu. Guru adalah sosok teladan. Guru adalah orang yang berilmu (ulama). Kedudukannya, oleh Rasulullah Saw disebut sebagai pewaris para nabi. Tentu saja yang diwariskan oleh nabi bukanlah harta atau kedudukan, melainkan ilmu. Guru atau ulama memiliki peran sebagai penjaga agama. Merekalah yang mengajarkan ilmu agama serta mengamalkannya. Melalui tangan-tangan para ulama lahirlah generasi emas penerus peradaban.
Kehadiran Negara
Negara juga memiliki peranan yang tidak kalah pentingnya dalam proses pendidikan generasi. Negara harus memastikan bahwa kurikulum pendidikan yang diterapkan berlandaskan akidah Islam. Setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk generasi yang berkepribadian Islam. Generasi yang memiliki pola sikap dan pola pikir Islam, sehingga muncul kesadaran untuk berkontribusi dalam memajukan peradaban Islam.
Ditanamkan juga dalam benak murid bahwa tujuan mereka belajar adalah dalam rangka mencari keberkahan ilmu dan diniatkan untuk menggapai ridho Allah semata. Bukan untuk mendapatkan ijazah dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar.
Khatimah
Sesungguhnya kisruhnya dunia pendidikan saat ini tidak terlepas dari diterapkanannya sistem kapitalis sekuler. Sistem yang telah menggurita, menancapkan ide-idenya yang rusak dalam setiap sendi kehidupan. Maka, menyelesaikan satu masalah bisa menimbulkan masalah yang lain, selama masih menggunakan sistem kapitalis sekuler ini. Bagaikan mengurai benang yang kusut, sangat rumit.
Maka solusinya hanya satu, campakkan sistem kapitalis sekuler yang rusak dan batil, ganti dengan sistem Islam yang sahih. Allah Swt. berfirman dalam Qur’an surat Al -An’am ayat 153:
وَأَنَّ هَٰذَا صِرَٰطِى مُسْتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّىٰكُم بِهِۦ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
Artinya: “Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu bertakwa.”
Wallahu a’lam.[]
