Oleh. Kholda Najiyah
Muslimahtimes.com–Belakangan ini viral ungkapan: “semua akan pret pada waktunya.” Istilah gaul yang merujuk pada sesuatu yang awalnya tampak begitu ideal, ujung-ujungnya terbongkar juga bahwa realita sebenarnya tidak seindah itu. Misal, tampak sepasang suami istri yang mesra di ruang publik, ternyata ujungnya bercerai juga. Atau selebgram yang postingan hidupnya begitu indah, ternyata di dunia nyata menjadi korban KDRT pasangannya.
Nah, dalam konteks menjadi ibu rumah tangga, banyak yang ingin menerapkan konsep ideal, namun terbentur segala keterbatasan. Sebelum menikah punya angan-angan begini dan begitu, setelah menikah ternyata kondisi berbeda 180 derajat. Sulit menerapkan teori ideal. Inilah yang memicu “pret pada waktunya”, lantaran kenyataan tak sesuai harapan. Apa saja hal-hal ideal yang sulit diterapkan ibu di masa kini?
- Janji Tidak Marah-marah, Nyatanya Emosi Juga
Sebelum menikah, bertekad akan menerapkan gentle parenting atau pola asuh yang lembut. Jangan lagi menerapkan parenting ala VOC, untuk memutus rantai trauma. Ingin rasanya bernada lembut, dengan intonasi datar dan tetap tenang, saat menghadapi anak tantrum. Nyatanya? Menghadapi anak dengan segala jenis emosinya, membuat ibu kehilangan kesabaran.
Sudah menahan diri, pada akhirnya pertahanan jebol juga. Terpancinglah emosi. Menyesal, minta maaf ke anak, janji tidak akan marah-marah lagi. Tapi, setiap anak melakukan hal yang tidak sesuai harapan, siklus emosi ibu pun berulang. Sungguh ujian kesabaran yang tidak ada ujungnya. Sabar, ya, Bu!
- Ingin Menerapkan Pola Makan Sehat, Nyatanya Junk Food Juga
Sebelum menikah, bertekad akan mengenalkan anak-anak dengan pola makan sehat. Janji memberikan asupan yang bergizi dan seimbang. Namun apa daya, ada ibu-ibu yang secara ekonomi kurang beruntung. Uang nafkah tak memadai, boro-boro bisa memberi makanan bergizi. Bisa makan saja sudah bersyukur. Yang penting anak kenyang, tanpa bisa menyajikan menu yang ideal.
Belum lagi ibu-ibu yang diuji dengan anak-anak yang picky eater alias pemilih makanan. Misal, sayur tidak doyan, ikan tidak suka. Bahkan yang masih balita, melakukan gerakan tutup mulut (GTM) alias tidak mau makan. Akhirnya, demi membujuk anak agar mau apa saja, makanan-makanan yang kurang baik pun jadi alternatif. Seperti cemilan, nugget, sosis, mi instan atau junk food lainnya. Maafkan ibu, Nak!
- Bertekad Tidak akan Memberi Gadget pada Anak, Nyatanya Dikasih Juga
Di era digital ini, tantangan tersulit ibu adalah berhadapan dengan rengekan anak. Ibu ingin menuntaskan amanah dengan segera. Untuk itu butuh fokus dan kalau bisa tanpa gangguan anak. Seperti memasak, menyuapi, menyetrika dan bahkan duduk di majelis ilmu alias kajian. Saat anak banyak tingkah, terkadang gadget terpaksa menjadi alat penenang. Yah, pertahanan ibu sering jebol menghadapi situasi seperti ini. Bukankah begitu?
Memang, tontonan untuk anak sudah dipilihkan sesuai usianya. Namun, menjadikan gadget sebagai senjata untuk menenangkan anak, tentu punya dampak jangka panjang yang kurang baik. Misal, tertanam di benak anak, gadget itu sangat berharga, hingga untuk mengaksesnya disyaratkan mau nurut, duduk dan diam. Ibu bukannya tidak sadar akan hal itu. Tapi hal itu terus terulang lagi dengan alasan itulah yang paling praktis demi menjaga kewarasan ibu. Dilematis, bukan?
- Melarang Anak Jajan, Nyatanya Jajan Juga
Sebelum menikah, ibu rajin mengumpulkan resep cemilan sehat. Bertekad akan memasak sendiri untuk keluarga, sehingga terjamin kesehatannya. Tidak akan mengizinkan anak jajan di pinggir jalan. Kalau perlu bekal dari rumah. Nyatanya, boro-boro sempat mengeksekusi resep. Bahan-bahan untuk membuat cemilan tersebut, jauh dari jangkauan dompet ibu. Selain itu, ibu sangat sibuk, sehingga tidak punya waktu untuk masak cemilan. Maklum, anak bukan cuma satu.
Kerjaan ibu juga banyak. Bukan cuma masak, nyapu, nyuci dan ngepel.
Ada rutinitas lain di era digital, seperti scrolling, up date status, membuat konten, memantau informasi yang viral, dan interaksi di status orang. Ah, banyak sekali alasan ibu ini. Akhirnya, jajan anak dibelilah dari abang-abang. Atau, digiring sajalah anak-anak ke minimarket. Tinggal pilih tanpa ribet. Duh, kapan ibu berubah?
- Tekad Memiliki Banyak Anak, Nyatanya Tak Sanggup
Sebelum melahirkan, banyak calon ibu yang ingin punya banyak anak. Hal ini karena mengikuti Sunah Rasulullah SAW yang bangga dengan banyaknya umat. Setelah melahirkan, ternyata tak sedikit yang kewalahan. Usai persalinan, mengalami baby blues syndrom dan bahkan berlanjut postpartum depression. Mengurus satu bayi sendiri, ternyata repot sekali. Tak hanya lelah fisik, juga lelah mental.
Tak hanya itu. Kelahiran bayi, juga diikuti kecemasan di benak ibu. Tak lagi memikirkan eksistensi dirinya, yang dipikirkan adalah bisakah nanti mencukupi kebutuhan anaknya, memberikan kamar yang nyaman, menyekolahkan di sekolah terbaik dan seterusnya. Meski kebahagiaan membuncah dengan kelahiran buah hati, kenyataan kerap menghalangi tekad ibu. Kondisi mental, ekonomi dan kerepotan, menyurutkan tekad dan memilih realistis.
Nah, kalian nomor berapa saja? Apakah ada yang mau menambahkan? Yang jelas, begitulah sulitnya menjadi ibu di peradaban sekuler kapitalisme yang serba tidak ideal ini. Semoga para ibu kuat dan tetap istiqomah untuk memperjuangkan tekadnya, agar tidak pret pada waktunya.(*)
