Oleh. Risna Ummu Zoya
Muslimahtimes.com–Jagat media sosial beberapa waktu terakhir dihebohkan oleh beredarnya video seorang guru SMK di Jambi yang menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah siswanya. Peristiwa ini sontak menuai keprihatinan publik dan memantik perdebatan luas tentang wajah pendidikan saat ini. Berdasarkan keterangan guru yang bersangkutan, insiden tersebut bermula dari proses belajar mengajar di kelas. Saat itu ia menegur seorang siswa yang dinilai bersikap tidak pantas. Namun teguran tersebut justru dibalas dengan ucapan keras dan teriakan bernada kasar di hadapan guru dan siswa lain. Situasi pun memanas hingga berujung tindak kekerasan terhadap sang guru, dilansir (Detiknews.com, 17/01/2026).
Di sisi lain, beredar pula versi yang disampaikan dari sudut pandang siswa. Dalam berbagai pemberitaan, disebutkan adanya keluhan murid bahwa guru tersebut kerap menggunakan kata-kata kasar, merendahkan siswa, bahkan melontarkan ucapan yang dinilai menghina orang tua. Gambaran ini menunjukkan bahwa konflik tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berakar pada relasi guru-murid yang sudah lama bermasalah. Secara lebih luas, situasi ini dapat dipahami sebagai bagian dari persoalan kekerasan di lingkungan sekolah, yang menurut analisis pendidikan, merupakan pelanggaran terhadap hak anak untuk mendapatkan pendidikan yang aman, bebas dari rasa takut dan kekerasan, sebagaimana dijamin oleh konstitusi dan Undang-Undang Perlindungan Anak.
Kasus guru dikeroyok murid bukanlah sekadar konflik personal atau luapan emosi sesaat. Peristiwa ini menunjukkan adanya krisis serius dalam dunia pendidikan. Relasi guru dan murid yang seharusnya dibangun di atas penghormatan dan keteladanan justru berubah menjadi hubungan yang penuh ketegangan, bahkan kekerasan. Disatu sisi, tindakan murid yang berkata kasar dan melakukan kekerasan mencerminkan hilangnya adab. Namun di sisi lain, perilaku guru yang merendahkan murid dengan kata-kata kasar juga bertentangan dengan nilai pendidikan itu sendiri. Padahal Islam secara tegas melarang sikap saling mencela dan memberi label buruk, sebagaimana firman Allah Swt.: “Dan janganlah kamu saling mencela dan memanggil dengan gelar-gelar yang buruk” (TQS. Al-Hujurat: 11). Ketika adab diabaikan oleh kedua belah pihak, konflik menjadi sulit dihindari. Inilah realitas pendidikan dalam sistem sekuler kapitalistik yang menjauhkan Islam dari landasan berpikir dan bertindak.
Islam memandang pendidikan bukan sekadar sarana mencetak manusia cerdas, melainkan proses membentuk manusia beradab. Rasulullah saw diutus bukan hanya membawa ilmu, tetapi menjadi teladan akhlak bagi umat manusia.Allah Swt memuji kepribadian beliau dalam firman-Nya: “Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung.” (TQS. Al-Qalam: 4). Dalam sistem pendidikan Islam, adab didahulukan sebelum ilmu. Murid dibina untuk memuliakan guru, sementara guru diwajibkan mendidik dengan kelembutan dan kasih sayang. Islam menegaskan bahwa sikap keras dan ucapan kasar bukanlah metode pendidikan efektif. Allah Swt berfirman: “Maka berkat rahmat Allah engkau berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.” (TQS. Ali Imran: 159). Guru dalam Islam adalah figur teladan, bukan sekadar penyampai materi. Keteladanan akhlak inilah yang melahirkan penghormatan sejati dari murid, bukan ketakutan atau kebencian.
Penyelesaian kasus kekerasan di sekolah tidak cukup hanya dengan pendekatan hukum atau mediasi sementara. Solusi mendasar harus menyentuh sistem pendidikan itu sendiri. Islam menawarkan solusi konprehensif dengan menjadikan akidah Islam sebagai landasan kurikulum dan pembinaan kepribadian. Negara memiliki tanggung jawab besar untuk menjaga amanah pendidikan ini. Allah Swt menegaskan: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanah kepada yang berhak menerimanya.” (TQS. An-Nisa: 58). Dengan sistem pendidikan Islam, guru dan murid ditempatkan dalam relasi yang saling memuliakan, terikat oleh keimanan dan ketakwaan kepada Allah Swt.
Kasus guru dikeroyok murid dan murid yang merasa dihina guru sejatinya adalah buah dari pendidikan sekuler yang kehilangan ruh Islam. Selama pendidikan dipisahkan dari akidah dan akhlak, konflik serupa akan terus berulang. Mengembalikan Islam sebagai landasan pendidikan adalah satu-satunya jalan untuk melahirkan generasi berilmu, beradab, dan bertakwa.
