Oleh. Kholda Najiyah
Muslimahtimes.com–Mewujudkan anak sehat, bukan hanya urusan perut, tapi juga kebijakan politik, pendidikan dan kesejahteraan.
*
Juan Alberto Margkes Sanbein (7) meringis kesakitan. Bengkak di kaki dan pantat, semakin mengganggu aktivitas. Ia kesulitan menaiki tangga atau berjalan menanjak. Anak kelas 2 SD ini didiagnosa tumor dan juga stunting. Juan disarankan menggunakan stocking pada kedua kakinya agar bengkak tidak bertambah. Saat tidur, posisi kakinya pun harus lebih tinggi.
Juan mengalami keluhan sejak 6 tahun lalu alias saat masih bayi, lalu semakin membesar seiring pertumbuhannya. Anak yang orang tuanya telah bercerai itu, tinggal bersama pamannya di Desa Manamas, Nusa Tenggara Timur (Pos-Kupang, 9/1/26). Keterbatasan ekonomi, membuat Juan harus menanggung derita.
Juan hanyalah satu dari jutaan anak-anak Indonesia yang mengalami gangguan kesehatan. Tak hanya kekurangan gizi, anak-anak kini menghadapi masalah obesitas atau kelebihan berat badan. Angka stunting sendiri, mencapai 19,8 persen atau setara 4.482.340 balita pada 2024.
Di sisi lain, angka obesitas anak juga meningkat. Menurut data dari Kemenkes (SSGI 2022), di kelompok usia 5–12 tahun, sekitar 10,8% anak mengalami kelebihan berat badan (gemuk). Hal yang sama juga terjadi di tingkat global. Diperkirakan, 206 juta anak dan remaja berusia 5-19 tahun, hidup dengan obesitas pada 2025, dan 254 juta pada tahun 2030 (data BRIN).
Bahkan, menurut data Unicef, tahun 2025 menjadi titik balik bersejarah. Untuk pertama kalinya, obesitas anak-anak dan remaja berusia 5–19 tahun melampaui prevalensi kekurangan berat badan (9,4% berbanding 9,2%). Hal ini sangat mengkhawatirkan karena obesitas sulit untuk diatasi dan memiliki risiko lebih besar terhadap kondisi kesehatan yang serius (Unicef.org)
Dampak Buruk Jangka Panjang
Baik stunting maupun obesitas pada anak, merupakan masalah kesehatan yang mengkhawatirkan. Mengingat, efeknya bisa berdampak buruk pada tumbuh kembang anak, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Anak yang kurang gizi, akan terhambat pertumbuhan fisiknya (tubuh pendek/kuntet) dan perkembangan otak. Meliputi penurunan kemampuan kognitif/IQ, imunitas lemah, rentan penyakit tidak menular (diabetes, jantung), serta rendahnya produktivitas ekonomi di masa depan.
Sedangkan anak obesitas, memicu diabetes tipe 2, tekanan darah tinggi, hingga gangguan pernapasan saat tidur. Lebih dari itu, obesitas juga dapat mengganggu perkembangan tulang dan sendi karena beban tubuh yang berlebihan. Dari sisi psikologis, anak kerap menjadi korban perundungan atau merasa rendah diri. Akhirnya memengaruhi kesehatan mental serta prestasi belajar.
Sayangnya, masyarakat masih belum memahaminya sebagai alarm tanda bahaya. Sebagian masih merasa gengsi dan malu diberi bantuan, saat anaknya didiagnosa stunting. Akhirnya malah menarik diri dari pertolongan medis. Sementara pada kasus obersitas, para orang dewasa masih beranggapan bahwa anak yang gemuk itu sehat dan lucu. Padahal tidak benar.
Tantangan Keluarga
Lingkungan keluarga memegang peranan penting dalam pencegahan stunting dan obesitas. Orang tua perlu bekerja keras dan berjuang untuk mencukupi gizi anaknya, dengan pola makan yang sehat, seimbang dan bergizi. Tantangan pertama adalah biaya. Masyarakat kelas menengah ke bawah dengan pendapatan minim, tidak sanggup mencukupi gizi anaknya. Alih-alih memikirkan gizi, bisa makan setiap hari saja sudah syukur.
Para ibu terutama, harus putar otak mengelola keuangan yang minim, di tengah mahalnya harga bahan pangan. Terpaksa, ibu memilih makanan yang terjangkau saja. Kadang tidak bisa memberikan menu lengkap, juga tidak bervariasi. Harusnya menyediakan menu protein hewani, sayur dan buah segar. Nyatanya, cuma sanggup membeli mi instan untuk mengusir rasa lapar.
Tantangan kedua adalah mindset atau pola pikir. Masyarakat dengan tingkat pendidikan dan literasi yang minim, tidak teredukasi dengan baik tentang pentingnya pola makan sehat. Pengetahuan tentang bahan pangan minim. Kepedulian terhadap gizi anak juga kurang. Sehingga, tidak sensitif terhadap jenis asupan apa saja yang dikonsumsi anak.
Pandangan seperti, makan yang penting enak, tanpa berhitung kadar kalorinya. Mencari menu yang sedang viral. Atau ungkapan seperti “makan itu tidak usah pilih-pilih, selama halal dan tidak berlebihan, makan saja.” Padahal, kadar berlebihannya seperti apa, tidak dicermati. Lalu halal tapi tidak thoyib, tetap tidak sehat.
Orang tua mewariskan budaya makan ini. Apa yang dibeli, dimasak dan disajikan di meja makan, akan ditiru anggota keluarga. Makanan apa yang diperkenalkan kepada anak-anak sejak dini, itulah yang melekat sampai dewasa. Menyediakan bekal sehat dari rumah, mengurangi jajanan tidak bergizi, serta membatasi konsumsi gula, dapat memberikan dampak besar terhadap kesehatan anak.
Tantangan ketiga adalah selera. Ada orang tua yang sudah teredukasi dan berusaha menyajikan menu bergizi pada anak-anak, namun menyerah pada tipe anak yang pemilih. Apalagi jika anak melakukan gerakan tutup mulut. Inlah tugas berat orang tua, khususnya ibu.
Tantangan keempat adalah aktivitas fisik yang tidak seimbang. Anak-anak masa kini jarang bermain di luar ruangan. Durasinya kurang lama. Sebaliknya, lebih sering menghabiskan waktu di depan layar. Sementara ruangan di rumah juga sempit, sehingga tidak bebas berkegiatan seru. Ini menyebabkan energi tidak terbakar optimal, sehingga menumpuk menjadi lemak.
Orang tua harus bisa mengajak anak lebih aktif. Misalnya main bola, bersepeda, berenang, atau jalan kaki bersama. Aktivitas sederhana ini bukan hanya menyehatkan tubuh, tetapi juga mempererat ikatan emosional dalam keluarga.
Iklim Pangan yang Kapitalis
Tantangan keempat yang paling berat, berasal dari luar keluarga, yaitu iklim dunia pangan yang kapitalis. Industri makan cepat saji dengan proses pengolahan tinggi, menghadirkan aneka produk kemasan instan beragam rasa. Jutaan anak-anak kita dikepung camilan asin dan manis, serta minuman bersoda dan berpengawet. Pengusaha tidak peduli apakah membahayakan atau tidak, yang penting profit.
Disadari atau tidak, keberadaan produk-produk itu telah mengubah gaya hidup masyarakat. Dari konsumsi bahan alami, berubah menjadi konsumsi bahan UPF (ultra processing food). Sehingga, ada fenomena bahwa di kalangan masyarakat berduit, anak-anaknya obesitas karena kelebihan konsumsi, sementara di kalangan masyarakat miskin anaknya stunting karena kurang nutrisi.
Padahal, tubuh anak tidak membutuhkan makanan kemasan sama sekali. Camilan itu bukan makanan utama. Anak membutuhkan gizi seimbang yang mencakup sayuran, buah-buahan, protein, dan karbohidrat kompleks. Adanya gerakan untuk kembali ke bahan alami atau real food, kini mulai marak. Namun, masih sangat kecil pengaruhnya. Apalagi tanpa dukungan dari negara sebagai pemilik kebijakan.
Tugas Pemerintah
Pemerintah memang tidak tinggal diam. Upaya memperkuat strategi promotif dan preventif melalui sejumlah program dilakukan. Antara lain Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang telah menjangkau lebih dari 51 juta penduduk. Lalu edukasi perilaku hidup sehat seperti, serta rencana penerapan cukai minuman berpemanis dalam kemasan (MBDK). Dan tentu saja, program unggulan berupa pembagian Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang terus menuai kontroversi.
Namun, upaya itu masih jauh dari akar masalah. Sebab, stunting dan obesitas bukan sekadar masalah makanan, tapi juga kebijakan politik. Mencakup, pertama, kebijakan soal jaminan kesejahteraan rakyat, sehingga para orang tua memiliki kemampuan untuk mengakses komoditi pangan bergizi. Orang tua mampu membelanjakan uangnya untuk asupan terbaik bagi anak-anaknya.
Kedua, kebijakan di bidang pendidikan. Sediakan pendidikan gratis sampai perguruan tinggi, agar bisa melahirkan anak-anak terdidik, sehingga kelak menjadi orang tua yang terdidik pula. Lalu, masukkan kurikulum yang mengedukasi tentang kesehatan pangan. Ini lebih penting daripada sekadar diberi makanan. Jangan sampai anak-anak penuh di perut, tapi kosong di akal.
Ketiga, mengendalikan industri pangan yang membahayakan masyarakat. Produk instan dan UPF harus dibuat standar yang ketat, agar tetap terjamin keamanan dan kesehatannya bagi masyarakat. Perketat perizinan, agar tidak ada produk tanpa nutrisi atau bisa dibilang produk ‘sampah’ yang dijual demi rupiah. Lakukan pengawasan berkala pada industri-industri makanan, agar tidak kecolongan hingga lolos bahan-bahan berbahaya.
Keempat, layanan kesehatan yang memadai bagi anak-anak penderita stunting dan obesitas, agar mendapat penanganan maksimal. Sampai mereka sembuh, tumbuh normal dan menjadi anak yang bebas dari rasa malu. Tentu, ini juga membutuhkan tekanan dari masyarakat, agar benar-benar menjadi perhatian pemerintah.
Ingat, setiap anak yang lahir di dunia ini, berhak hidup sehat. Mereka berhak tumbuh dan berkembang normal sesuai usianya. Berhak mendapatkan asupan makanan bergizi yang terbaik. Ini bukan hanya tanggung jawab orang tuanya, tapi juga negara. Meskipun, caranya bukan sekadar bagi-bagi makanan bergizi, tapi ciptakan iklim pangan yang sehat. Wujudkan masyarakat yang terdidik dan sejahtera. Itu kuncinya.(*)
