Oleh. VieDihardjo
Muslimahtimes.com–Keputusan pemerintah bergabung dengan Board of Peace (BOP) yang digagas Trump masih menjadi pro kontra yang semakin meluas, bahkan terkesan politis, pro pemerintah bagi yang mendukung dan anti pemerintah bagi yang kontra dan memberi kritik. Board of Peace bekerja dalam standar ganda, atas nama kemanusiaan, stabilisasi kawasan, hingga penegakan hukum internasional, namun itu semua sejatinya penjajahan yang dilakukan oleh negara-negara besar.
Hari ini, tidak ada yang bisa membongkar kebohongan Board of Peace kecuali Gaza. Serangan tanpa henti Israel menyasar kawasan pemukiman dan kamp pengungsian di Khan Younis pada 31 Januari 2026, 31 korban syahid, termasuk 6 anak-anak bahkan usai Israel bergabung dengan BOP.
Gaza, Standar Ganda yang Telanjang
Sejak genosida Gaza pada Oktober 2023, jumlah korban meninggal sebanyak 71.271 jiwa terbanyak anak-anak dan 171.233 orang terluka (www.idntimes.com 4/1/2026). Israel yang bergabung dalam BOP namun terus membombardir Gaza menunjukkan sebuah fakta pahit, tidak ada netralitas dalam menghentikan penjajahan. Israel adalah sekutu Amerika, penggagas BOP sekaligus penjaga kepentingan Amerika di Timur Tengah. BOP menyerukan perdamaian dan rekonstruksi Gaza tetapi tidak menghentikan bombardir Israel, artinya berpihak pada penjajah.
Ketika anak-anak dibunuh, pemukiman dihancurkan, wilayah diblokade, sarana umum dirusak tidak dibicarakan dalam BOP, tetapi justru membuat rencana investasi atas nama rekonstruksi. BOP justru menarasikan perlawanan rakyat Gaza terhadap perdamaian dan rencana rekonstruksi sebagai pengganggu bagi proses yang dianggap solusi itu. BOP tidak mengutuk agresi Israel, justru mengutuk perlawanan rakyat Gaza dan Amerika menghentikan resolusi perdamaian di meja veto.
BOP Perdamaian Versi Barat, Diamlah agar Penjajah Aman
BOP mendefinisikan perdamaian dari kepentingan bukan keadilan. Bahkan perdamaian bisa digunakan sebagai alat kolonialisme baru. Tatanan dunia kapitalistik yang menjunjung tinggi kepentingan penguasaan sumberdaya alam dan letak geografis strategis sehingga memastikan aliran sumberdaya, jalur perdagangan dan pengaruh geopolitik ‘stabil’, maka keadaan dianggap damai, meskipun faktanya terjadi penjajahan. Jika genosida masih terus berlangsung, pendudukan wilayah masih terjadi sementara upaya perdamaian macam BOP dan lembaga lain dibuat tetapi dibungkam oleh resolusi yang tumpul karena terus dilanggar oleh Israel, veto yang terus digunakan oleh Amerika dan narasi yang dibiaskan memihak Israel, alih-alih menuju perdamaian dan pembebasan Gaza, BOP menjadi gaya penjajahan baru, memastikan tidak ada perlawanan berarti terhadap kolonialisme gaya baru.
Palestina Butuh Dibebaskan
Palestina membutuhkan pembebasan, yang terjadi bukan perang tetapi tanah yang dirampas, penduduk ditembaki, sarana umum dihancurkan, ini agresi dan pendudukan yang disengaja dan dipelihara, karena itu pembebasan Palestina tidak bisa menggantungkan pada upaya perdamaian ala Barat, termasuk BOP. Solusi membebaskan Palestina tidak bisa melalui meja perundingan tetapi mengusir Israel dari Gaza, Palestina. Sebagaimana Allah berfirman,
وَٱقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُم مِّنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ
“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu…” (Qs.Al Baqarah ayat 191).
Potensi negeri-negeri muslim sangat besar, dari sumberdaya alam, sumberdaya ekonomi dan kekuatan militer serta pasukan, jika disatukan untuk mengusir zionis Israel dari bumi Palestina bukanlah hal sulit. Sayangnya, institusi yang mampu menggerakkan kekuatan negeri-negeri muslim telah diruntuhkan, yaitu Khilafah. Khilafah bertanggungjawab atas keselamatan kaum muslimin, sebagaimana Rasulullah SAW bersabda, “Imam atau Khalifah adalah perisai”. Imam Nawawi rahimahullah memaknai bahwa Imam (Khalifah) itu seperti pelindung. Sebabnya, Ia menghalangi musuh untuk menyakiti kaum muslimin serta melindungi kemuliaan Islam.
Bukti penjagaan itu diantaranya adalah keteguhan Sultan Abdul Hamid II menolak tawaran Theodore Herzl, tokoh Zionis yang menawarkan harta dalam jumlah yang sangat besar agar Yahudi diberi hak atas tanah Palestina. Jawaban Beliau yang legendaris adalah “Aku tidak akan menyerahkan walau sejengkal tanah itu! Ia bukan milikku. Ia adalah milik umat Islam!”
Sejarah pembebasan Palestina bukan sejarah diplomasi dan perundingan. Palestina dibebaskan dari kekuasaan Bizantum yang menekan oleh Khalifah Umar ibn Khattab pada 637M melalui perjanjian damai, yaitu Piagam Umar. Pemimpin kota, Patriarch Sofronius menyatakan hanya akan menyerahkan kunci kota secara langsung pada Khalifah kaum muslimin. Piagam Umar berisi jaminan keamanan dan perlindungan warga.
Pada abad ke-11 Yerusalem kembali direbut oleh tentara salib dan dibebaskan kembali oleh panglima Shalahuddin Al Ayyubi pada 1187M dengan kemenangan di peristiwa Hattin. Shalahuddin Al Ayyubi memberikan amnesti bagi penduduk, perlindungan bagi warga sipil, pemulihan hak beribadah bagi semua. Dijaga oleh Khilafah hingga runtuhnya Khilafah Utsmaniyyah, kini Palestina kembali dijajah oleh Zionis, dan tugas para pemimpin dan kaum muslimin membebaskannya dengan dipimpin oleh satu kepemimpinan global yang menyatukan kekuatan negeri-negeri muslim untuk melawan dan mengusir Zionis Israel dari bumi Palestina, institusi itu adalah Khilafah’ala minhajin nubuwwah.
Wallahu’alam bisshowab
