Oleh. Annisa Puji Pangestu
Muslimahtimes.com–Halo Guys apa kabar? Siapa yang disini ngerasa sendiri, bimbang, takut? Sini sini kita ngumpul, buat kamu yang suka bingung kemana tujuanmu, siapa diri kamu sebenarnya, untuk apa kamu dikirim ke dunia, apa yang sebenarnya kamu kejar saat ini, kita sama. Kadang kita jenuh sama isi pikiran yang berisik ini namun, kamu harus sadar saat ini kita memang ada di fase “mencari”. Mencari jati diri dan tujuan hidup tepatnya, di zaman penuh notifikasi ini kita banyak disibukkan oleh berbagai informasi yang melimpah. So, mungkin ini juga buat kamu makin berpikir tentang makna hidupmu sebenarnya, mulai dari mana aku berasal, untuk siapa aku hidup, sampai setelah hidup ini mungkinkah ada kehidupan lain atau aku hanya berakhir kembali menjadi tanah atau abu.
Di fase ini kita mulai mempertanyakan “Siapa saya? Apa yang benar? Apa yang benar benar harus diyakini?” lalu pertanyaan eksistensial ini muncul lebih dalam lagi dan bahkan keyakinan yang kita pelajari dulu atau yang kita terima dari orang tua kita mulai dipertanyakan. “Benarkah ini yang paling benar atau masih ada yang lebih sempurna dari ini?” dari sini kita mulai berpikir lebih dalam dan kritis mungkinkah aku dapat menemukan agama atau ajaran yang lebih sempurna dari ini, apakah agama yang kuanut ini hanya warisan yang harus aku ikuti atau memang ini yang harus diyakini? mengapa semua agama juga mengklaim kebenaran agamanya masing masing?
Sampai mungkin kita menerima istilah agnostik di telinga kita atau pernah membaca sebuah artikel tentang itu. Agnostik adalah sebuah istilah yang banyak diperbincangkan generasi muda saat ini yang diartikan sebagai anggapan bahwa keberadaan tuhan tidak diketahui secara pasti atau dibuktikan secara nyata dan keimanan hanyalah anggapan. Dan menurutku orang orang yang menganut paham agnostik sedang berada dalam buntunya jalan pemikiran, karena pada posisi itu akupun pernah merasakannya, Dimana saat itu aku juga ikut mempertanyakan bukti atas keyakinanku. Apakah itu salah? Tidak Guys kalau kita nggak tersesat terlalu jauh, niatnya mau cari kebenaran tapi malah terjebak opini yang menyesatkan itu yang salah. Karena ketika kita mempertanyakan tentang hidup, alam semesta, manusia serta hubungan ketiganya dengan sesuatu yang ada sebelum kehidupan dan setelahnya itu disebut kebangkitan berpikir dan bangkitnya pemikiran ini diperlukan perubahan yang mendasar dan menyuluruh terhadap pemikiran kita supaya terbentuk pemahaman yang benar alias tidak keliru karena dari pemikiran dan pemahamanlah yang menentukan pola perilaku kita di kehidupan ini.
Dan pertanyaan pertanyaan tersebut akan terjawab jika manusia diberikan pemikiran menyeluruh dan sempurna apa yang ada dibalik ketiga unsur utama tadi [manusia, hidup, alam semesta] kenapa ketiga unsur ini? karena unsur ini merupakan hal yang sangat mendasar, jika hal ini dapat teruraikan maka akan terurai juga hal lainnya karena ketiga unsur ini adalah masalah pokok dari segala problematika yang ada loh guys. Tapi perlu diingat pemecahan ini akan bernilai benar jika sesuai dengan fitrah manusia, memuaskan akal kita dan tentunya menentramkan hati.
Sayangnya orang yang menganut paham agnostik belum bisa memecahkan masalah pokok ini. So, karena kita sebagai manusia memiliki akal yang terbatas akhirnya mereka menyebut bahwa keberadaan tuhan itu belum pasti karena buntunya jalan pemikiran tadi, mereka meyakini bahwa segala apapun harus dapat di indra oleh manusia begitupun dengan Tuhan padahal kalau kita analogikan angin itu juga nyata dan keberadaannya dapat dirasakan walaupun kita gak melihatnya kan. Begitupun dengan Tuhan, that’s simple guys.
Tapi, balik lagi kalau alasan ini belum memuaskan akal, kita bakal bedah lagi nih. Kalau dalam Islam, Islam telah menuntaskan problematika pokok ini dan pastinya dipecahkan sesuai fitrah manusia, memuaskan akal, serta memberikan ketenangan jiwa dan dari pemecahan ini lahirlah akidah, maka dari itu Islam dibangun atas satu dasar yaitu akidah. Akidah menjelaskan bahwa dibalik alam semesta, manusia, dan hidup terdapat pencipta [Al-Khaliq] yang telah menciptakan ketiganya. Pencipta adalah yang menciptakan sesuatu dari yang tidak ada menjadi ada dan bersifat wajibul wujud [wajib adanya] karena kalau enggak berarti ia tidak mampu menjadi pencipta. Karena pencipta itu bukanlah makhluk maka ia harus memastikan bahwa dirinya bukan makhluk dan pasti mutlak adanya karena segala sesuatu pasti akan bersandar padanya dan ia tidak besandar pada apapun, inget itu ya Guys.
Terus apa bukti adanya pencipta yang menciptakan? Gini Guys, segala sesuatu yang dapat dijangkau oleh akal itu ada tiga unsur yaitu manusia, alam semesta, dan hidup. Ketiga unsur ini sifatnya terbatas, lemah, dan saling membutuhkan. Contohnya manusia, manusia terbatas sifatnya karena cuma bisa tumbuh dan berkembang pada batas waktunya aja atau kita sering bilang sampai umurnya, gak adakan manusia yang hidupnya abadi? Makanya disini manusia dibilang punya sifat yang terbatas. Begitu juga dengan hidup kalau kita saksikan hidup atau kehidupan itu bisa berakhir pada individunya. Contohnya kita melihat tumbuhan yang tumbuh dan berkembang dengan segar artinya tumbuhan itu hidup namun, ketika kita melihat tumbuhan itu sudah menguning dan layu kita dapat menyimpulkan bahwa tumbuhan tersebut sudah mati. Itu menandakan bahwa hidup juga terbatas. Begitu halnya dengan alam semesta atau himpunan benda benda langit yang setiap bendanya memiliki keterbatasan. Nah dari sini karena kita dapat menyimpulkan bahwa segala sesuatu yang memiliki keterbatasan itu pasti diciptakan. Maka dari itu, pencipta pastilah tidak memiliki keterbatasan atau bersifat azali [tidak berawal dan berkhir].
Terus bagaimana cara kita mengetahui keberadaanya? Kalau aku kasih tiga kemungkinan pasti kamu udah bisa jawab. Pertama, ia diciptakan oleh sesuatu yang lain. Kedua ia menciptakan dirinya sendiri. Ketiga ia bersifat azali [tidak berawal dan berakhir] dan wajibul wujud. Pernyataan pertama pasti gak mungkinlah ya guys dan gak bisa diterima oleh akal kita, kalau pernyataan kedua itu juga salah karena kalau kita cermati, jika pencipta menciptakan dirinya sendiri artinya ia sebagai makhluk dan pencipta secara bersamaan dan itu juga tidak dapat diterima akal. Maka pernyaatan tigalah yang paling benar bahwa pencipta itu bersifat azali dan wajibul wujud. Dialah Allah Swt. Siapa pun yang memiliki akal akan mampu membuktikannya dengan adanya benda benda yang mampu diindra seperti benda benda langit misalnya, kita tahu bahwa benda benda tersebut memiliki keterbatasan dan segala sesuatu yang ada adalah makhluk dan pasti terdapat pencipta yang menciptakan. Maka dari itu kita hanya perlu mengalihkan perhatian kita pada benda benda yang ada di alam semesta, fenomena alam dan fenomena hidup yang terjadi atau meneliti salah satu bagian dari manusia itu sendiri, dari sini akan kita dapati bukti nyata dan keyakinan bahwa adanya pencipta.
Maka dari itu, Islam menyeru agar keimanan berlandaskan dengan akal dan bukti yang nyata bukan hanya sekedar perasaan yang timbul karena naluri tapi benar benar lahir dari proses berpikir menyeluruh dengan selalu meneliti, memerhatikan serta memakai akalnya secara mutlak dalam beriman kepada Allah. Ajakan ini digunakan untuk mencari petunjuk akan keberadaan Al Khaliq dan ini telah disebutkan ratusan kali dalam Al-Quran supaya manusia memakai potensi akalnya dalam berpikir agar imannya benar benar muncul dari akal disertai dengan adanya bukti. Karena melalui pengamatan dan perenungan akan sampai pada keyakinan adanya pencipta.
Perlu diingat juga walaupun kita diwajibkan memakai seratus persen akal kita dalam beriman, ingat juga bahwa akal kita memiliki keterbatasan dan tidak mungkin kita menjangkau sesuatu diluar batas kemampuan Indera dan akal kita ya. Jadi melihat kenyataan ini maka kita harus mengingat bahwa akal kita tidak akan mampu memahami zat Allah dan hakikat-Nya, karena Allah Swt berada diluar ketiga unsur pokok manusia, hidup, alam semesta] yang bisa kita jangkau dengan akal. Jadi, buat kamu yang masih mencari cari keberadaan tuhan dan menganggap bahwa tuhan belum dapat dibuktikan, sekarang sudah terbukti ya bahwa keberadaanya nyata dan sesuai dengan akal kita, tapi zatnya Allah tidak akan bisa kita indra karena itu diluar kemampuan akal kita. Seperti kita akan tetap percaya bahwa angin itu ada walaupun kita tidak dapat melihat wujudnya.
