Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • March
  • 11
  • Miskin Punya Anak adalah Kejahatan?

Miskin Punya Anak adalah Kejahatan?

Editor Muslimah Times 11/03/2026
WhatsApp Image 2026-03-11 at 10.54.28
Spread the love

Oleh. Kholda Najiyah

Muslimahtimes.com–Tragedi anak SD bunuh diri adalah simbol protes melawan kemiskinan ekstrem

*

Air mata Mama Reti (47) tak bisa terbendung. Surat perpisahan putra bungsunya, Yohanes (10), menusuk ulu hatinya. Sakit tapi tak berdarah. “Mama relakan saya pergi. Jangan menangis Mama. Tidak perlu Mama mencari atau merindukan saya.”

Anak SD yang baru kelas 4 di Kabupaten Ngada itu, kini absen untuk selama-lamanya. Ia menyerah atas kemiskinan ekstrem yang membelitnya, hingga tak sanggup membeli buku dan pena meski Rp10 ribu saja. Namanya akan dikenang, sebagai simbol perlawanan terhadap kemiskinan ekstrem.

Bagaimana tidak, dia tinggal di pondok kecil hanya bersama neneknya yang sudah berumur 80 tahun. Sementara ibunya mengasuh empat kakaknya. Sejak kepergian sang ayah, mereka berjuang sendiri mencukupi kebutuhan hidup. Dan, keluarga seperti ini di Indonesia jumlahnya jutaan.

Berdasar data BPS, kemiskinan ekstrem hingga Maret 2025 mencapai 0,85 persen atau 2,38 juta orang. Itu pun dengan standar miskin yang sudah sangat tidak manusiawi. Artinya, jumlah sebenarnya bisa jauh lebih besar, jika diukur dengan kelayakan hidup yang lebih tinggi.

Mengusik Empati

Ini tamparan keras penguasa, yang seharusnya bisa lebih memperhatikan kondisi rakyatnya yang sengsara. Pemerintah pusat hingga daerah, sampai unit terkecil di lingkungan RW-RT, mustinya punya data dan peka dengan keadaan warganya. Lalu, punya solusi praktis untuk membantu mereka, bukan sekadar statistik belaka.

Di sisi lain, tragedi ini juga mengusik jiwa sosial orang-orang kaya, yang sebagian kurang peka. Lebih bangga pamer kekayaan dan menghamburkan uang untuk barang mewah, daripada memberi beasiswa anak-anak miskin, misalnya. Dan yang paling jahat adalah lisan orang kaya yang menstigma orang-orang yang nyaris mati di bawah garis kemiskinan ini dengan label negatif seperti: miskin itu bodoh dan miskin itu malas.

Muncul pula ungkapan yang menjadi perdebatan sengit tentang standar keluarga: “Miskin banyak anak adalah kejahatan.” Apakah orang tua Yonahes yang telah menghantarkannya ke dunia adalah penjahat? Padahal mereka menikah secara sah dan diakui negara. Apakah keluarga ini miskin hanya karena pemalas dan bodoh?

Kegagalan Sistem

Lihatlah, Yohanes membuktikan, dia tidak seperti itu. Ia bangun pagi. Pergi sekolah. Belajar. Sungguh-sungguh ia ingin mewujudkan cita-cita. Seorang anak yang mungkin memendam mimpi besar. Tapi, dia bukan anak sultan. Ayahnya sudah lama meninggal, tak bisa lagi menjadi tumpuan. Kemiskinan itu bukan kehendak mereka, tapi keadaan.

Kemiskinan ekstrem seorang anak dan sebuah keluarga, bukanlah problem individu semata, tapi sistemik. Bukan sekadar kemalasan seseorang, tapi juga tertutupnya kesempatan untuk mengakses sumber daya ekonomi. Ini karena sistem hidup kapitalistik yang tidak adil.

Sebagai perbandingan, studi di Pulau Jawa pada 2019 menunjukkan bahwa meskipun memiliki pendidikan formal lebih rendah dibanding kelompok mampu, orang tua kelompok miskin, tetap peduli dengan masa depan dan pendidikan anaknya. Makanya ada fakta, ayah tukang becak tapi anaknya sarjana. Ayah sopir angkot, tapi anaknya bisa kuliah dan bahkan bekerja ke Amerika.

Jadi, kalau ada anak 10 tahun depresi berat sampai mengakhiri hidupnya, bukanlah kejahatan ibu yang melahirkannya. Kejam sekali pandangan seperti itu. Ingat, dalam situasi sosial yang timpang antara yang miskin dan kaya hari ini, pergaulan bisa melukai.

Anak sekecil itu, sudah lama memendam derita, akibat tidak bisa menampilkan identitas seperti kebanyakan teman sebayanya. Nah, buku dan pena bagi pelajar adalah identitas yang membuatnya percaya diri. Sarana agar diterima di lingkungan sosialnya, yaitu sekolah. Ah, mereka yang pernah miskin pasti tahu rasanya.

Manakala tak kunjung memiliki, jiwa rapuhnya sedih terlalu mendalam. Dia hanya bisa protes atas nasibnya dengan diam. Tak bisa demo membawa spanduk. Semakin lama, perasaan itu menenggelamkannya. Hingga dia memutuskan, melawan kemiskinan ekstrem dengan cara yang paling ekstrem: mengakhiri hidupnya.

Inilah protret kegagalan negara dalam mengentaskan kemiskinan, khususnya kemiskinan ekstrem. Gagal menyediakan fasilitas dasar seorang pelajar, dirampas oleh kebusukan sistem politik yang tidak memprioritaskan sektor pendidikan sebagai jalur untuk mengentaskan kemiskinan.

Bahaya Stigmatisasi

Menghakimi orang miskin tanpa memberikan solusi nyata adalah berbahaya. Paradigma tersebut dapat memicu konflik sosial, karena bibit-bibit kebencian dan bahkan rasa jijik kepada kaum yang dianggap hanya sebagai beban.

Hal ini dapat menghambat terjadinya inklusi sosial atau pembauran dalam kehidupan bermasyarakat. Orang mampu semakin enggan bergaul dengan orang miskin. Membatasi interaksi. Tidak mau peduli. Akhirnya, berkuranglah rasa menghargai dan empati. Semakin dalamlah gap antara orang kaya dan orang miskin.

Ini rentan memicu apa yang disebut sebagai Golem Effect, yaitu dampak negatif akibat ekspektasi rendah yang disematkan kepada mereka. Misalnya, ketika label bahwa orang miskin itu malas dan bodoh melekat, maka seseorang atau perusahaan, cenderung enggan memberi kesempatan kerja pada kelompok tersebut. Jadilah yang miskin semakin miskin.

Lebih bahaya lagi, kelompok miskin hanya akan menjadi objek. Tidak pernah diberi ruang untuk didengar. Bahkan, mereka nyaris tidak dianggap dan kerap diabaikan dalam isu sosial politik. Itu sebabnya disebut sebagai kaum marginal atau terpinggirkan. Mereka tidak mendapatkan wakil yang representatif, yang benar-benar paham kebutuhannya. Yang maju ke panggung politik mewakili orang miskin, nyatanya politikus berduit juga yang tidak paham perasaan kaum marginal.

Bahaya berikutnya, tertukarlah standar baik dan buruk menurut akal manusia, dan bukan timbangan syariah. Misalnya, melabeli orang miskin yang menikah sah lalu punya anak sebagai penjahat, tapi di sisi lain orang kaya yang zina dan punya anak tidak dicap jahat. Ini jelas menunjukkan cara pandang kapitalistik, yang mengukur jahat tidaknya suatu perbuatan dari timbangan materi. Padahal, seharusnya diukur oleh hukum Allah Swt.

Tak hanya itu, menghakimi keluarga kurang mampu yang memiliki banyak anak, dapat tergelincir pada sikap merendahkan takdir Tuhan. Tidak ada seorang manusia pun di dunia ini yang senang, terus menerus dalam kondisi miskin. Jika mereka terlahir dalam keluarga miskin, itu adalah takdir yang tidak bisa dia tolak.

Saat mereka bertumbuh dan mulai memahami takdirnya, niscaya akan berikhtiar untuk mengubah nasib. Hanya saja, tidak semudah membalik telapak tangan. Kaum miskin tidak punya banyak previlege untuk bangkit.

Sikap mental berupa rasa takut dan kecemasan akan ketidakpastian, sebenarnya insting untuk bertahan hidup. Misalnya, takut merantau karena takut malah terlantar. Ini tidak mudah untuk diatasi oleh semua orang. Ditambah sistem hidup, kebijakan politik, dan faktor alam, kerap menutup rapat-rapat upaya mereka untuk keluar dari lubang kemiskinan.

Sekadar perbandingan, Burundi adalah negara termiskin di dunia. Penduduknya bukan pemalas. Mereka petani tradisional yang rajin, tetapi cuaca ekstrem menyebabkan mereka miskin ekstrem. Lalu Sudan Selatan, hampir seluruh penduduknya hidup di bawah garis kemiskinan, meskipun negaranya kaya minyak. Ini karena konflik bertahun-tahun, korupsi dan ketidak-stabilan ekonomi. Apakah seluruh warganya pemalas?

Islam Mengatasi Kemiskinan

Berhenti melabelisasi kaum marginal, jika tidak ikut memberi solusi. Dan, solusi itu ada di dalam sistem Islam, di mana orang miskin menjadi tanggung jawab komunal. Setidaknya ada empat pihak yang ikut bertanggungjawab.

Pertama, individu itu sendiri harus menjadi pribadi yang mau bertumbuh, bekerja dan berkarya. Manfaatkan akal untuk menguasai skill, pelajari cara untuk mendapatkan harta dan seterusnya. Intinya, ada kesadaran individu untuk bangkit dari kemiskinan. Di sini, mungkin benar ada yang malas atau bebal. Tapi, jumlahnya tentu tidak mayoritas. Karena, Islam mendorong muslim untuk beramal saleh.

Kedua, ada pihak negara yang hadir membuat kebijakan untuk mencegah dan mengantisipasi kemiskinan. Menciptakan lapangan pekerjaan. Memberikan tanah mati bagi yang mau menghidupkan. Menjamin pendidikan gratis agar semua punya kesempatan yang sama untuk mengubah nasib. Memberi bantuan sembako pada rakyat fakir dan miskin. Juga, menjamin kesehatan gratis. Lalu pengelolaan sumber daya alam oleh negara untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Bukan malah dikorupsi, atau dijual kepada kafir penjajah.

Ketiga, ada kerabat yang mampu dan berada di jalur nafkah, yang ikut ambil peran membantu saudaranya. Jika tidak ada, kembali ke poin kedua. Lalu keempat, ada para aghniya (orang kaya) yang akan berdosa jika tidur dalam keadaan perut kenyang, sementara tetangganya kelaparan. Islam mendorong untuk peduli pada sekitarnya. Mengulurkan pertolongan pada yang miskin, tanpa pandang agama. Tanpa stigmatisasi.

Harta orang kaya harus dikeluarkan zakat malnya setiap tahun. Juga, dibersihkan dengan zakat fitrah setiap tahun. Perniagaan, pertanian dan ternak juga ada bagian untuk rakyat miskin. Semua itu mekanisme yang bisa mencegah jurang si kaya vs si miskin. Mencegah kemiskinan ekstrem.

Sayangnya, saat ini negara menggunakan asas kapitalisme sekuler, yang meniscayakan tidak meratanya kesempatan dan distribusi kekayaan. Akibatnya, jatuhlah korban-korban tak berdosa seperti Yohanes, juga korban kemiskinan ekstrem lain di berbagai negara. Jadi, sistem kapitalisme sekuler inilah yang jahat, karena kebijakan politik dan ekonominya yang tidak adil dan beradab.(*)

Continue Reading

Previous: Peta Ekspansi Israel Penjajah di Balik Pembatasan Rafah
Next: Generasi Tanpa Kendali, Sekularisme Gagal Membina Diri

Related Stories

Kekerasan Remaja: Dampak Normalisasi Gaul Bebas WhatsApp Image 2026-03-11 at 11.39.22

Kekerasan Remaja: Dampak Normalisasi Gaul Bebas

11/03/2026
Generasi Tanpa Kendali, Sekularisme Gagal Membina Diri WhatsApp Image 2026-03-11 at 11.19.05

Generasi Tanpa Kendali, Sekularisme Gagal Membina Diri

11/03/2026
Peta Ekspansi Israel Penjajah di Balik Pembatasan Rafah WhatsApp Image 2026-03-04 at 22.04.02

Peta Ekspansi Israel Penjajah di Balik Pembatasan Rafah

04/03/2026

Recent Posts

  • Kekerasan Remaja: Dampak Normalisasi Gaul Bebas
  • Generasi Tanpa Kendali, Sekularisme Gagal Membina Diri
  • Kriminalitas, Dampak Nyata Normalisasi Gaul Bebas
  • Miskin Punya Anak adalah Kejahatan?
  • Strategi Individu dan Keluarga Melawan Kemiskinan

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Kekerasan Remaja: Dampak Normalisasi Gaul Bebas WhatsApp Image 2026-03-11 at 11.39.22

Kekerasan Remaja: Dampak Normalisasi Gaul Bebas

11/03/2026
Generasi Tanpa Kendali, Sekularisme Gagal Membina Diri WhatsApp Image 2026-03-11 at 11.19.05

Generasi Tanpa Kendali, Sekularisme Gagal Membina Diri

11/03/2026
Kriminalitas, Dampak Nyata Normalisasi Gaul Bebas WhatsApp Image 2026-03-11 at 11.11.17

Kriminalitas, Dampak Nyata Normalisasi Gaul Bebas

11/03/2026
Miskin Punya Anak adalah Kejahatan? WhatsApp Image 2026-03-11 at 10.54.28

Miskin Punya Anak adalah Kejahatan?

11/03/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.