Oleh. Kholda Najiyah
Muslimahtimes.com–Lahir dalam kondisi miskin memang takdir, namun tidak boleh menjadi alasan untuk tidak ikhtiar mengubah nasib. Bukan sekadar menyesalkan keadaan, atau menyalahkan sistem. Perlu langkah-langkah yang serius dan strategis dari berbagai pihak untuk keluar dari lubang kemiskinan.
Karena, mengatasi kemiskinan memerlukan kolaborasi antara kebijakan pemerintah berupa pemerataan pendapatan, bantuan sosial, dan terbukanya lapangan kerja. Juga, inisiatif individu berupa kegigihan dalam menempuh pendidikan, peningkatan keterampilan, serta disiplin dalam pengelolaan keuangan pribadi.
Namun, di tengah sistem sekuler kapitalisme yang tidak berpihak pada masyarakat miskin, hal yang paling utama adalah kemauan dan motivasi dari diri sendiri. Minimal bersama keluarga, bahu membahu mengerahkan segenap daya agar bisa mengentaskan kemiskinan. Berikut strategi yang sudah terbukti dilakukan banyak orang untuk keluar dari garis kemiskinan:
- Prioritaskan Pendidikan
Baik orang tua maupun anak, tidak berhenti belajar, baik di bangku formal maupun nonformal. Orang tua dan anak yang sudah dewasa dan lulus sekolah, harus belajar keterampilan tertentu yang bisa dijual untuk menghasilkan sumber pendapatan. Banyak pilihannya, seperti keterampilan perbengkelan, pertukangan, memasak, menjahit, bertani, berkebun, dll. Bahkan di era digital, keterampilan seperti marketing atau berjualan, memotret, mengedit, mendesain, menulis dan sejenisnya, sangat membantu menghasilkan pendapatan.
Sedangkan anak usia sekolah, tetap belajar di bangku sekolah formal untuk memiliki wawasan dan jejaring yang positif. Rajin belajar, tekun, tidak minder dan gigih memperjuangkan nilai terbaik. Tidak perlu neko-neko, fokus mengejar prestasi. Jika benar-benar tidak mampu membiayai sekolah, jangan malu meminta bantuan pihak sekolah dan pemerintah setempat agar dibebaskan biayanya. Juga, bisa mencari informasi beasiswa untuk siswa tidak mampu.
- Mengelola Keuangan dengan Bijak
Terkadang, kemiskinan menjadi semakin parah karena pengelolaan keuangan yang salah. Ketika mendapat uang agak banyak, orang miskin cenderung segera membeli barang yang sudah mereka incar, meski sebetulnya tidak terlalu dibutuhkan. Misalnya, ketika mendapat bantuan tunai langsung, malah dibelikan mainan yang tidak terlalu dibutuhkan. Padahal bisa saja dipakai untuk modal usaha produktif, misal jualan kue.
Contoh lain ketika lebaran mendapat THR, langsung dipakai untuk mengganti handphone, hanya untuk kenyamanan bermain game online. Padahal bisa dipakai untuk modal usaha. Kemiskinan seharusnya menjadi rem untuk benar-benar memilah, mana kebutuhan dan keinginan. Harus mampu menunda kesenangan hari ini, untuk mendapatkan kenyamanan hidup lebih baik di masa nanti.
Termasuk kesalahan dalam mengelola uang adalah, terlibat judi dan pinjaman online berbunga mencekik. Masyarakat miskin juga sering menjadi korban penipuan investasi bodong, arisan ponzi, penggandaan uang dan sejenisnya. Hal-hal yang menjanjikan kekayaan secara instan, sampai dibela-belain berutang. Ini akibat rendahnya literasi keuangan dan sikap mental ingin cepat kaya secara cepat. Untuk itu, jangan pernah tergiur dengan tawaran kemudahan bisnis yang menjanjikan keuntungan berlipat yang tak masuk akal.
- Daripada Utang Lebih Baik Jualan
Jangan menjadi kebiasaan, ketika dihadapkan pada kondisi kesulitan keuangan, lalu bermudah-mudah utang. Apalagi jika utang riba. Selain haram, juga akan membuat kondisi keuangan karut marut. Gali lubang tutup lubang, tidak akan ada ujungnya. Oleh karena itu, ketika butuh uang, sebaiknya berjualan untuk mencari laba. Jualan apa?
Bisa menjual produk milik sendiri, maupun produk orang lain. Menjual produk sendiri, pastinya butuh modal. Lalu dari mana? Bisa dengan menjual aset atau barang berharga yang dimiliki. Jual prelove pakaian kondangan yang jarang dipakai, set panci yang hanya disimpan dll. Uangnya untuk modal jualan nasi uduk, kue atau apapun.
Jika sama sekali tidak punya barang berharga yang layak jual untuk modal, bisa menjadi marketer yang menjualkan barang orang lain. Seperti, jual kue keliling, tahu-tempe, ayam potong dll. Atau, jika punya keterampilan, bisa jual jasa. Seperti membantu bersih-bersih rumah, mengecat, memperbaiki listrik rusak dll. Mengajarkan Alquran, buka les privat, atau menerima order pembuatan barang tertentu, juga bisa menjadi alternatif. Intinya, usahakan tidak utang.
- Membangun Koneksi
Islam menganjurkan bersilaturahim, dan itu akan memperpanjang umur serta membuka pintu-pintu rezeki. Dari pergaulan yang luas, seseorang bisa mendapatkan peluang yang tidak terduga. Teman-teman dan kerabat, bisa menjadi target market dalam berjualan. Bisa juga menjadi sumber informasi jika ada tawaran kerja. Sudah banyak terbukti, mereka yang memiliki jejaring yang luas, akan memiliki banyak pintu untuk meraih rezeki.
Apalagi jika bisa masuk ke lingkungan pergaulan orang menengah dan kaya. Dengan adab dan etika yang baik, bisa saja suatu saat akan mendapat kepercayaan mereka. Caranya, jangan pamrih apapun. Layani atau bantu kebutuhan orang kaya dengan jujur, lama-lama mereka akan respek dan memberi perhatian khusus. Itu sudah terbukti juga dilakukan oleh mereka yang berubah nasib ketika berinteraksi dengan orang kaya.
Meskipun, ada tantangannya, yaitu orang kaya itu sendiri belum tentu mau bergaul dengan orang miskin. Di situlah sikap mental, kejujuran dan keuletan kita diuji. Tapi yang jelas, selama kita beradab baik, tidak mungkin ditolak lingkungan. Dan ingat, ikuti komunitas positif, dan berkumpullah dengan orang saleh.
- Jangan Bermental Korban
Menjadi miskin karena keadaan, memang bisa menjatuhkan mental. Seperti perasaan minder atau kurang percaya diri, ragu mengambil keputusan, takut gagal, pesimis dan cemas akan ketidakpastian. Butuh nyali untuk keluar dari sikap mental negatif tersebut, beralih ke sikap mental positif. Seperti optimis, yakin bisa, dan tawakal kepada Allah Swt.
Yang paling penting, jangan menyerah pada keadaan dan menyalahkan pihak-pihak lain. Jangan bermental korban, tapi bermental pemenang. Jadilah penyelamat untuk diri sendiri dan keluarga. Jangan pula banyak alasan yang menghambat diri, seperti “saya hanya orang kampung”, “saya hanya tamat SMP” atau “saya terlalu tua atau terlalu muda”. Jangan banyak mengeluh karena hal itu tidak akan mengubah apa pun, selain memperburuk suasana hati.
Berdayakan diri dengan aset terbesar yang sudah diberikan oleh Allah Swt berupa: badan yang sehat, penglihatan yang sempurna, kaki yang bisa melangkah, pendengaran yang normal, mulut yang bisa bicara dan pastinya umur. Itu semua adalah modal terbesar untuk mengubah nasib.
- Taat Syariah, Tawakal dan Doa
Tetap berada di garis yang lurus, yaitu senantiasa mengikuti rambu-rambu syariat Islam. Jangan sekali-kali keluar darinya. Ibadah, dzikir dan berdoa, mengetuk pertolongan hanya kepada Allah Swt. Jangan sekutukan dia. Tetap bersyukur karena yakin rezeki sudah diatur. Jangan sampai putus asa hingga melanggar aturan Allah Swt. Hati-hati tergiur bisnis haram. Jika pernah maksiat, taubat dan jangan ulangi lagi. Bismillah, Allah akan melihat ikhtiar kita.(*)
