
Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S
Muslimahtimes.com–Jika melihat fakta kondisi perekonomian negeri ini, masa depan generasi tentu belum dapat dipastikan sejahtera. Oleh karena itu, pemerintah menggalakkan program menabung bagi generasi muda. Bahkan pemerintah mendorong hal tersebut lewat kehadiran bank digital yang merupakan inovasi layanan perbankan di Indonesia. Diharapkan budaya menabung di kalangan generasi muda yang notabenenya terkategori sebagai generasi digital ini bisa lebih meningkat.
Faktanya di lapangan, sebagaimana dirilis oleh Katadata Insight Center mengungkapkan bahwa hanya sekitar 40% responden generasi muda yang konsisten mengalokasikan dana secara khusus untuk menabung. Bahkan, separuh dari responden tersebut menyatakan bahwa tabungan yang disisihkan dari 1-20% penghasilannya, hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari selama 3 bulan ke depan. (bantennews.co.id/17-08-2024)
Anjuran menabung sejak usia dini sering digembar-gemborkan sebagai solusi menghadapi krisis ekonomi di masa depan. Karena dengan menabung, diharapkan setiap individu memiliki persiapan finansial untuk hari ke depan. Namun, jika kita berpikir kritis sejatinya menabung hanyalah solusi individual yang tidak menyentuh akar persoalan struktural. Solusi ini hanya membebankan tanggung jawab kesejahteraan kepada individu, bahkan sejak usia anak-anak, tanpa mengubah sistem yang menyebabkan ketidakpastian ekonomi itu sendiri.
Kita sudah memahami bahwa hakikatnya sistem ekonomi kapitalis yang diterapkan hari ini telah memunculkan berbagai problematika, di antaranya kemiskinan, kesenjangan sosial, hingga pengangguran. Betapa tidak, sistem Kapitalisme menjadikan ekonomi berputar berdasarkan kepentingan segelintir elite pemilik modal. Akibatnya, yang memiliki harta akan menguasai sector-sektor layanan public, sementara yang miskin seolah diminta cukup pasrah menerima nasib. Kesejahteraan tidak dijadikan Sebagai hak setiap individu rakyat, melainkan komoditas yang harus diperjuangkan sendiri. Sistem ini memicu ketimpangan, pengangguran struktural, dan minimnya jaminan kebutuhan pokok bagi rakyat banyak. Sedangkan negara abai terhadap tanggung jawabnya dalam menjamin kesejahteraan rakyat.
Inilah akar persoalannya yang hakiki, ketika negara di bawah naungan sistem kapitalisme tidak mampu mendistribusikan harta kekayaan kepada suluruh lapisan masyarakat. Padahal Allah telah mengingatkan dalam surat Al-Hasyr ayat7:
كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَغْنِيَاۤءِ مِنْكُمْۗ
“(Demikian) agar harta itu tidak hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu.”
Dalam Islam, negara berkewajiban memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar setiap warga negara, termasuk anak-anak. Pendidikan, sandang, pangan, papan, dan kesehatan bukan diserahkan kepada mekanisme pasar, tetapi menjadi tanggung jawab negara. Anak-anak tidak dibebani dengan tanggung jawab ekonomi sejak dini karena mereka adalah tanggun jawab orang tuanya, dan negara hadir sebagai pelindung dan penjamin kehidupan yang layak. Inilah negara yang terlahir karena spirit ketaatan kepada Allah Swt, bukan negara yang tegak di atas prinsip-prinsip kepentingan memperbanyak kekayaan pejabatnya.
Dengan demikian, sudah saatnya umat Islam kembali kepada Islam sebagai solusi atas segala persoalan kehidupan. Islam menawarkan sistem ekonomi yang adil dan berlandaskan syariah. Kekayaan dikelola untuk kemaslahatan umum, sumber daya alam yang merupakan milik rakyat dikelola negara demi kepentingan rakyat, dan lapangan kerja dibuka luas melalui kebijakan ekonomi yang berpihak pada keadilan. Rakyat tidak akan pontang-panting berjuang menyejahterakan dirinya sendiri karena negara hadir di tengah-tengah mereka, mengurus urusan mereka. Dengan penerapan sistem Islam ini, maka kesejahteraan bukan lagi mimpi, tetapi sebuah kenyataan yang dijamin oleh negara.