Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • January
  • 1
  • Nasib Pilu di Hari Ibu

Nasib Pilu di Hari Ibu

Editor Muslimah Times 01/01/2026
WhatsApp Image 2026-01-01 at 20.44.27
Spread the love

Oleh. Kholda Najiyah

Muslimahtimes.com–Hari ibu di penghujung tahun ini diliputi suasana pilu. Di Tanah Aceh dan Sumatera, kaum ibu kehilangan suami, anak dan orang tua. Bahkan kehilangan seluruh harta benda, pakaian, perabot, rumah dan seluruh kenangannya. Itu yang hidup. Karena, sebagian ibu-ibu yang hilang diterjang air bah, belum ditemukan hingga kini.

BNPB menyebut, data terbaru korban bencana banjir bandang, yakni 1.016 orang tewas. Sementara 212 lainnya masih dinyatakan hilang (detik). Setelah hampir sebulan, harapan mereka untuk hidup tentu sudah menipis. Bahkan, penyintas bencana yang selamat pun, saat ini harus berjuang melawan kelaparan dan ancaman penyakit pascabanjir. Sungguh, duka belum usai. Bencana belum selesai.

Itu barulah segelintir bencana akibat penerapan sistem kapitalisme yang merusak alam. Yakni, bencana ekologi bertubi-tubi, akibat eksploitasi kaum oligarki. Juga, penerapan sistem hukum yang korup, di mana para perusak lingkungan bukannya dihukum, malah diberi karpet merah.

Ada lagi bencana yang tak kalah membahayakan kaum ibu, yaitu bencana sosial. Hari ini, deretan tragedi pilu, merenggut hak kaum ibu. Berikut nestapa itu: Pertama, ibu-ibu terpaksa hidup dalam kemiskinan. Sebagian bahkan mengalami kemiskinan ekstrim. Jutaan ibu di rumah semi permanen yang sangat tidak layak. Baik dari segi ukuran, kondisi fisik bangunan maupun kecukupan ruang privasi untuk aktivitas ibu. Mereka tinggal di lingkungan kumuh. Baik di bantaran sungai maupun kawasan padat penduduk di perkotaan.

Data BPS per Maret 2025, sebanyak 23,85 juta jiwa atau 8,47% penduduk hidup di garis kemiskinan, dengan standar pengeluaran rata-rata Rp609.160 per kapita perbulan. Sementara yang miskin ekstrem 2,38 juta orang pada Maret 2025.

Kedua, ibu-ibu terpaksa menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Menjadi perempuan pencari nafkah utama. Bekerja mengais rupiah demi mengganjal perut diri dan keluarganya. Di sektor informal, mereka berkeliling kompleks menjual kue, keripik, keset, jamu gendong hingga sayuran. Ada pula yang menjadi pembantu rumah tangga, yaitu membersihkan rumah, menyapu, mencuci, mengepel, menyetrika dan memasak. Jadi, ia mengerjakan tugas domestik di dua rumah: rumah majikannya dan rumahnya sendiri. Betapa lelahnya.

Sementara itu, di pabrik-pabrik dan perkantoran, jutaan perempuan menjadi budak korporate untuk menyelamatkan perekonomian perusahaan dan negara. Menghabiskan sepertiga umurnya di dunia kerja, dibandingkan di rumah bersama keluarga. Gaji yang hanya cukup untuk menegakkan badan agar besok bisa bekerja lagi, demikian seterusnya. Kelihatannya pendapatan double dengan suami, tetapi pekerjaannya juga double: di publik dan domestik. Betapa capeknya.

Belum lagi yang terbang merantau jauh dari rumah, mengadu nasib ke negeri orang. Menjadi TKW dengan risiko majikan zalim. Kadang, bukan uang yang dikirim pulang, bahkan nyawa melayang dan pulang tinggal nama. Padahal ia berkorban meninggalkan rumah yang penuh kenangan, suami yang ia sayang, dan anak-anak yang butuh pelukan.

Ketiga, ibu-ibu dipaksa menjadi budak syahwat kaum laki-laki. Ada yang menjadi istri simpanan, gundik pejabat, ani-ani, pelacur dan pemuas syahwat lainnya. Ada yang menjadi korban rudapaksa, ditipu, dirayu dan dimanipulasi hingga harga diri dicuri. Didatangi hanya sebagai pemuas syahwat, lalu ditinggalkan dengan luka fisik dan batinnya. Akibatnya, kaum ibu harus menanggung penyakit kelamin menular yang menjijikkan. Juga, terinveksi virus HIV/Aids yang belum ditemukan obatnya. Na’udzubillah.

Keempat, ibu-ibu kehilangan akal sehatnya. Jutaan ibu mengalami gangguan mental seperti stres, anxiety atau kecemasan, depresi hingga gila. Tekanan hidup di sistem sekuler kapitalis yang bertubi-tubi, menghancurkan psikis kaum ibu. Mereka tidak bisa hidup tenang setenang-tenangnya, karena terus menerus memikirkan nasib diri dan masa depannya.

Mengapa? Karena, ialah yang paling sering membuat keputusan-keputusan kecil dalam lingkup rumah tangga, dibanding suami.

Keputusan yang kadang penuh risiko yang harus ia tanggung sendiri. Misal, keputusan sederhana sekadar beli produk ini atau tidak ya. Kalau beli dan uangnya habis, dia juga yang disalahkan. Dia juga yang akhirnya harus mencari uang lagi. Sungguh melelahkan.

Tak heran bila survei menemukan, mayoritas ibu mengalami gangguan mental. “Jadi dari data kami bersama YouGov, 88 persen ibu memiliki masalah mental. Temuan ini diperkuat oleh data Halodoc yang menunjukkan semester pertama 2025 banyak ibu melakukan konsultasi kesehatan mental,” kata Fibriyani Elastria, Chief Marketing Officer Halodoc seperti dilansir CNBC.

Kelima, ibu-ibu terpaksa masuk dalam lingkaran setan ekonomi ribawi. Kemiskinan menjebak mereka pada utang-piutang berbunga tinggi. Hidup dalam cengkeraman bank  emok yang bunganya mencekik, atau terjerat pinjaman online alias rentenir daring. Kaum marginal bisa punya barang ini itu, dengan sistem utang berbunga. Panci, baju hingga lemari, hasil menyicil berbunga dan denda.

Keenam, ibu-ibu yang dititipi harta oleh Allah, terjebak dalam gaya hidup hedonis dan materialistis. Terseret arus 4F: fashion, food, film, dan fun. Terhasut dalam gaya hidup tinggi yang penuh ilusi. Tidak bisa membedakan konten dunia maya yang notabene didesain seindah mungkin, dengan realitas kehidupan yang sebenarnya. Akibatnya, standar kebahagiaan begitu tinggi, hingga sulit diraih. Ia merasa tidak pernah cukup, menuntut lagi dan lagi. Lupa bersyukur, bahkan kufur terhadap nikmat Allah Swt.

Terbukti, sebagian dari mereka, menjauhkan diri dari syariat-Nya. Bukannya berterima kasih pada Allah, malah berterima kasih pada diri, karena merasa hasil kemewahan yang dimiliki adalah karena kerja kerasnya. Hasil perjuangannya. Ia menafikkan peran Allah Swt, hingga membelanjakan harta dengan melanggar larangan-Nya. Punya uang banyak, dipakai beli barang branded untuk pamer. Atau malah pergi ke Korea untuk operasi plastik mengubah ciptaan-Nya. Na’udzubillahi mindzalik.

Ketujuh, ibu-ibu terlibat dalam tindakan maksiat dan kriminalitas. Tega melakukan aborsi, membuang bayi, membunuh anak, menjadi penipu, terlibat judi, menganiaya suami dan sejenisnya. Ibu-ibu kehilangan naluri keibuannya. Ibu-ibu yang lembut berubah menjadi penjahat yang kasar dan raja tega. Na’udzbillah.

Kedelapan, ibu-ibu terpaksa hidup dalam rumah tangga bak neraka. Satu atap dengan suami yang kasar, keras, otoriter dan temperamental. Suami yang zalim dan memperlakukan istri semena-mena. Suami yang menelantarkan nafkah. Suami yang terlibat maksiat seperti kecanduan judi online, narkoba atau miras. Ingin menggugat cerai, takut akan masa depannya. Tetapi bertahan, juga tidak sakinah hidupnya.

Kesembilan, ibu-ibu yang terpaksa menjadi single parent. Harus berjuang menghidupi diri dan anak-anaknya. Menjalankan dua peran sekaligus: ayah dan ibu untuk anaknya. Cari uang, juga mengasuh dan merawatnya. Sungguh, di peradaban yang memproduksi janda akibat tingginya angka perceraian ini, dunia benar-benar kejam. Membiarkan para ibu tunggal ini berjuang sendiri di atas kakinya yang lemah.

Kesepuluh, ibu-ibu yang di masa tuanya terlunta-lunta, tidak diurus anaknya dan bahkan dibuang ke jalanan. Inilah puncak dari derita ibu. Fisiknya yang kendor, rambut peraknya nan rontok, kakinya yang kering dan kecantikannya yang memudar, membuat siapapun enggan memandang. Tidak ada keindahan sama sekali di sana, hingga anak-anak durhaka pun tega menyingkirkan ibu kandung yang melahirkannya. Bukannya dimuliakan, malah ditelantarkan. Na’udzubillahi mindzalik. 

Itulah sederetan derita kaum ibu di hari ibu yang terus berulang setiap tahunnya. Kondisi yang diproduksi oleh sistem sekuler kapitalis global. Jauh berbeda dengan peradaban Islam, di mana Allah Swt begitu memuliakan ibu. Sayangnya, hal itu belum terwujud saat ini. Kaum ibu benar-benar diuji kesabarannya, jauh dari menemukan “surganya” di dunia. Semoga peradaban Islam yang menciptakan “surga” bagi kaum ibu, segera terwujud.(*)

Continue Reading

Previous: Khilafah Menyelamatkan Generasi
Next: Gagalnya Kepemimpinan Global Hari Ini: Saatnya Islam Mengambil Peran

Related Stories

Kriminalitas, Dampak Nyata Normalisasi Gaul Bebas WhatsApp Image 2026-03-11 at 11.11.17

Kriminalitas, Dampak Nyata Normalisasi Gaul Bebas

11/03/2026
Bebas Sertifikat Halal untuk Produk AS: Amankah Isi Piring dan Meja Rias Keluarga Kita? WhatsApp Image 2026-03-01 at 17.11.40

Bebas Sertifikat Halal untuk Produk AS: Amankah Isi Piring dan Meja Rias Keluarga Kita?

01/03/2026
Nikah Dini, What’s Wrong? WhatsApp Image 2026-01-16 at 21.18.37

Nikah Dini, What’s Wrong?

16/01/2026

Recent Posts

  • Kekerasan Remaja: Dampak Normalisasi Gaul Bebas
  • Generasi Tanpa Kendali, Sekularisme Gagal Membina Diri
  • Kriminalitas, Dampak Nyata Normalisasi Gaul Bebas
  • Miskin Punya Anak adalah Kejahatan?
  • Strategi Individu dan Keluarga Melawan Kemiskinan

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Kekerasan Remaja: Dampak Normalisasi Gaul Bebas WhatsApp Image 2026-03-11 at 11.39.22

Kekerasan Remaja: Dampak Normalisasi Gaul Bebas

11/03/2026
Generasi Tanpa Kendali, Sekularisme Gagal Membina Diri WhatsApp Image 2026-03-11 at 11.19.05

Generasi Tanpa Kendali, Sekularisme Gagal Membina Diri

11/03/2026
Kriminalitas, Dampak Nyata Normalisasi Gaul Bebas WhatsApp Image 2026-03-11 at 11.11.17

Kriminalitas, Dampak Nyata Normalisasi Gaul Bebas

11/03/2026
Miskin Punya Anak adalah Kejahatan? WhatsApp Image 2026-03-11 at 10.54.28

Miskin Punya Anak adalah Kejahatan?

11/03/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.