Oleh. Kholda Najiyah
Muslimahtimes.com–Gizi buruk pada anak, tergantung isi piringnya di meja makan. Karena, perkara makan ini bukan sekadar menuntaskan rasa lapar. Asupan yang masuk ke dalam tubuh, sangat berpengaruh bagi pertumbuhan dan kesehatan anak, bahkan dalam jangka panjang. Apa yang kita konsumsi, akan menjadi zat penting yang masuk dalam peredaran darah hingga ke otak.
Karena itu, penting mengonsumsi makanan berkualitas dan bergizi sebagai landasan untuk mewujudkan kesehatannya. Manfaatnya akan dirasakan seumur hidup. Ajarkan anak tentang kebiasaan makan yang sehat sejak dini, karena hal itu akan menetap dalam benaknya hingga dewasa.
Sayangnya, membangun pola makan yang sehat bagi anak dan juga keluarga, menghadapi tantangan yang sulit. Orang tua dihadapkan pada rendahnya daya beli terhadap makanan bergizi di satu sisi, dan kuatnya godaan makanan instan rendah gizi yang murah meriah di sisi lain.
Bagaimana solusinya? Berikut beberapa hal yang bisa dicoba untuk membiasakan makan sehat, khususnya bagi anak-anak:
- Menanamkan Mindset yang Benar tentang Makanan
Anak-anak diharapkan memiliki relasi yang baik dengan makanan. Untuk itu, perlu diedukasi tentang hakikat makanan itu sendiri. Dikenalkan tentang jenis-jenis makanan dan manfaatkan untuk kesehatan. Diberitahu, mana makanan yang boleh dan tidak boleh dikonsumsi sesuai usianya.
Dalam Islam, makanan harus halal dan thoyib. Halal bermakna hanya memilih makanan yang dibolehkan syariat. Ini mengajarkan anak agar mengendalikan hawa nafsu, hingga tidak terseret dalam mengonsumsi yang haram.
Thoyib bermakna makanan itu membawa maslahat, tidak merusak tubuh dan menimbulkan penyakit fisik maupun psikis. Sebab, makanan secara tidak langsung berdampak pada perilaku manusia. Makan menu yang halal, bisa mengerem dari perbuatan buruk. Sebaliknya, mengonsumsi yang haram, menjerumuskan ke perbuatan dosa. Contohnya peminum khamr, akhirnya menganiaya orang, merudapaksa, membunuh dll.
Hadits Nabi saw.: “Setiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram, maka api neraka lebih utama baginya (lebih layak membakarnya).” (HR. At-Thabrani)
- Melibatkan Anak dalam Proses Mengolah Makanan
Orang tua bisa melibatkan anak dalam menyiapkan makanan. Mulai menyusun menu, berbelanja, menyiangi bahan pangan, memasak hingga menyajikannya. Anak-anak biasanya senang diajak memasak makanan lezat dan sehat untuk keluarga.
Gunakan waktu makan bersama sebagai kesempatan untuk mengedukasi. Ajak anak untuk mengenal kelompok-kelompok makanan dan kandungan gizi dan vitamin yang dibutuhkan tubuh.
- Membentuk Budaya Makan yang Baik
Ajarkan anak-anak untuk mengenali rasa lapar dan kenyangnya, sehingga mereka tahu kapan harus makan. Lalu, ciptakan budaya makan yang mengesankan bagi anak. Misalnya, kebiasaan sarapan bersama, makan malam harus serentak di meja makan dan masing-masing mencuci peralatan makannya sendiri. Itu akan terbawa sampai dewasa. Hindari menggunakan makanan sebagai hadiah atau hukuman. Cara ini justru membuat anak memiliki hubungan yang tidak sehat dengan makanan.
- Hadirkan Menu Sehat di Meja Makan
Apa saja menu sehat itu, ikuti anjuran para ahli. Misalnya, menu yang sesuai dengan jumlah kalori yang dibutuhkan tubuh. Menu juga bervariasi, antara karbohidrat, protein, vitamin, serat dan mineral. Menu sehat yang tidak mengandung lemak jahat, rendah kandungan gulanya, tidak mengandung bahan pengawet dan bahan kimia berbahaya.
Jangan mengenalkan pada anak, makanan yang kurang kadar nutrisinya. Meskipun itu makanan lezat yang sedang populer. Seperti junk food, minuman dan makanan instan yang mengandung pewarna, pemanis dan pengawet di luar batas toleransi.
- Memasak Sendiri Makanan Bergizi
Untuk menjamin kesegaran bahan, proses memasak yang benar dan variasi menu yang berbeda setiap hari, usahakan memasak sendiri. Selain lebih hemat, juga lebih terkendali komponen pembentuk makanannya.
Memasak sendiri juga bagian dari manajemen keuangan. Ibu bisa mengatur, kapan bisa makan menu yang harganya lumayan mahal seperti daging, dan kapan cukup protein murah seperti telur atau tempe.
- Mengendalikan Porsi Makan
Kebutuhan perut setiap individu ada batasnya. Tidak akan sanggup mengonsumsi makanan berlebihan. Karena itu, cukup memasak dan menyajikan menu sesuai kebutuhan. Jangan sampai memasak dalam jumlah besar, melebihi kemampuan untuk menghabiskannya.
Lebih baik sedikit langsung habis, agar masakan tidak terbuang sia-sia. Yang penting porsinya cukup sesuai kebutuhan setiap anggota keluarga, berdasarkan usia dan kebutuhan kalorinya masing-masing. Jangan paksa anak menghabiskan makanan jika sudah kenyang.
- Tidak Memanjakan Hawa Nafsu
Kenali mana kebutuhan dan mana keinginan terhadap makanan. Usahakan hanya mengonsumsi makanan utama, dan tidak memanjakan anak dengan jajan di luar. Anak yang aktivitasnya banyak dan lapar, berikan saja makanan tambahan atau kudapan yang cukup mengenyangkan dan menyehatkan. Semisal, daripada memberi anak biskuit manis, alangkah lebih baiknya buah-buahan.
Lalu, jangan terlalu sering berwisata kuliner, apalagi mengejar yang viral. Kemungkinan, hal itu hanya menuruti hawa nafsu. Selain menguras isi dompet, juga tidak terlalu siqnifikan manfaatnya untuk tubuh. Sebab, menu kulineran yang dikonsumsi cenderung fast food yang rendah nutrisi.
- Orang Tua Memberi Teladan
Anak kecil meniru apa yang dilakukan orang tuanya. Termasuk kebiasaan makan. Orang tua bisa menjadi contoh dengan memperlihatkan pilihan makanan, dan minumannya. Mengerem nafsu jajan dan hanya makan makanan sehat dan segar adalah contoh terbaik bagi anak.(*)
