Oleh. Hana Annisa Afriliani, S.S
Muslimahtimes.com–Harum Ramadan telah tercium, kehadirannya sudah di depan mata. Umat Islam yang beriman pasti berbahagia menyambut tamu agung itu. Betapa tidak, di bulan Ramadan pahala kebaikan dilipatgandakan dan segala dosa diampuni. Hal ini ditegaskan dalam hadis Rasulullah saw, “Telah datang Bulan Ramadhan, bulan penuh berkah, maka Allah mewajibkan kalian untuk berpuasa pada bulan itu, saat itu pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, para setan diikat dan pada bulan itu pula terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.” (HR. Ahmad)
Ada banyak keutamaan bulan Ramadan dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya. Oleh karena itu, sudah selayaknya setiap muslim mengoptimalkan ibadah di bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya. Adapun makna ibadah tak sekadar aktivitas yang bersifat ritual semata, seperti salat, tilawah Al-Qur’an dan zikir, melainkan juga aktivitas sosial yang diperintahkan Allah seperti mengkaji Islam, berdakwah di tengah umat, serta melakukan perbuatan-perbuatan keseharian sesuai dengan kententuan syariat. Itu semua juga merupakan ibadah yang berpahala di hadapan Allah, seperti melakukan jual beli sesuai syariat yakni tidak curang, tidak ghulul, dan tidak melakukan penipuan, dll. Jika semua itu dilakukan tentu saja berpahala di hadapan Allah, apalagi jika di bulan Ramadan tentu pahalanya berlipat ganda.
Ramadan Momentum Memurnikan Ketaatan
Di bulan Ramadan, Allah mewajibkan setiap muslim yang sudah baligh untuk berpuasa, sebagaimana firmanNya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ada juga dalam hadis Rasulullah saw, “Barangsiapa berpuasa dibulan Ramadhan karena Iman dan mengharap pahala dari Allah maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR.Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis tersebut dinyatakan bahwa “berpuasa karena iman”, artinya hanya orang yang berpuasa karena adanya keimananlah yang akan membuat dosa-dosanya diampuni. Jadi bukan puasa sekadar rutinitas tahunan tanpa ada kesadaran bahwa hal tersebut adalah wujud penghambaan kepada Allah Swt. Sungguh sudah selayaknya bulan Ramadan menjadi momentum untuk memurnikan ketaatan seorang muslim kepada Rabbnya. Disimbolkan oleh Allah melalui perintah puasa yang merupakan perintah untuk menahan diri dari segala sesuatu yang menyenangkan hati, seperti makan, minum, berhubungan intim, dll. Ini semua merupakan ujian dari Allah kepada kita tentang siapa yang paling mampu mengendalikan diri untuk tidak melakukan hal-hal yang dilarang Allah saat kita berpuasa, padahal sejatinya hal-hal tersebut halal dilakukan di saat kita tidak berpuasa.
Oleh karena itu, jika kita merenungkan sesungguhnya pada ibadah puasa terdapat hikmah yang bisa kita petik yakni tentang ketaatan kepada Allah, tanpa tapi dan tanpa nanti. Hal ini sejalan dengan firman Allah Swt. “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan, “Kami mendengar dan kami taat”. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. An-Nur:51)
Ramadan, Refleksi Berislam Kaffah
Selain puasa, di bulan Ramadan juga terdapat peristiwa penting yakni turunnya Al-Qur’an (nuzulul Qur’an). Senagaimana tercantum dalam firman Allah Swt, “Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu serta pembeda (antara yang haq dan yang batil).” (Al-Baqarah: 185)
Al-Quran bukan sekadar kitab untuk dibaca dan dihafalkan, melainkan seperangkat aturan bagi manusia. Al-Qur’an diturunkan Allah sebagai petunjuk bagi manusia agar tidak tersesat dalam kemaksiatan. Al-Qur’an memberikan arah bagi manusia agar selamat di dunia dan akhirat. Sayangnya banyak di antara kaum muslimin yang belum memahami hal tersebyt. Al-Qu’ran hanya sekadar dibaca dan dikhatamkan berulang-ulang, bahkan dihafalkan, tetapi tidak dijadikan sebagai sumber atau rujukan dalam menjalani kehidupan. Umat Islam malah menjadikan peraturan hidupnya bersumber pada undang-undang buat manusia, sementara aturan Allah diabaikan. Hal ini tidak terlepas dari diadopsinya sekularisme dalam kehidupan umat hari ini, yakni memisahkan agama dalam kehidupan (fasluddien ‘anil hayah) bahkan pemisahan agama dari negara (fasluddien ‘aniddaulah).
Umat Islam dijauhkan dari peraturan agamanya sendiri bahkan dibuat islamofobia dengan melabeli orang yang menyerukan penerapan syariat Islam dalam kehidupan sebagai radikal dan ekstremis. Ini sungguh sangat memprihatinkan! Umat Islam dibuat hanya mencukupkan diri menjalankan agamanya di ranah pribadinya saja, sedangkan untuk kehidupan bermasyarakat dan bernegara, aturan Islam tidak digunakan dengan narasi “Indonesia bukan Negara Islam”. Padahal Indonesia adalah milik Allah, maka tentu saja hanya Allah yang berhak mengaturnya.
Sungguh, Ramadan harusnya menjadi momen refleksi bagi kita untuk kembali kepada fitrah penciptaan kita, yakni untuk tunduk secara totalitas kepada Allah Swt. Dan kita juga harus memahami bahwa hanya dengan diterapkannya aturan Allah secara kaffah dalam instutusi negara lah, maka ketaatan totalitas kita kepada Allah akan dapat terwujud nyata. Oleh karena itu, saatnya kita menyatukan visi perjuangan untuk mengembalikan kehidupan Islam dengan tegaknya Khilafah ‘ala minhaji nubuwwah. Wallahu’alam bis shawab
