Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • April
  • 8
  • Demo No Kings: Tanda Kerusakan Demokrasi Kapitalis

Demo No Kings: Tanda Kerusakan Demokrasi Kapitalis

Editor Muslimah Times 08/04/2026
WhatsApp Image 2026-04-08 at 20.50.44
Spread the love

Oleh. Ummu Riri

Muslimahtimes.com–Tercatat pada maret 2026 AS memiliki utang sebesar US$39 triliun atau sebesar Rp661.440 triliun, jika dihitung rata-rata penduduk AS maka setiap warga negara baik lansia maupun bayi baru lahir menanggung utang negara sebesar US$113.875 atau sekitar Rp1,93 miliar. AS kini menjadi negara dengan beban utang terbesar di dunia, mengalahkan beban utang gabungan negara maju seperti Jepang, Inggris dan Prancis. Negara adidaya ini sebelumnya hampir tidak memiliki utang pada masa kepemimpinan Andrew Jackson, tetapi melonjak tajam di era kepemimpinan Trump periode ke 2 ini, Trump benyak mengeluarkan dana untuk membantu Israel dalam menguasai Palestina, belum lagi perang antara AS-Israel dengan Iran yang membutuhkan banyak biaya. Ambisi Trump untuk menguasai militer dunia justru membuat rakyatnya sengsara, sebab naiknya harga barang di AS. (cnbcindonesia.com 28-03-2026)

Akibat berbagai kebijakan presiden AS terkait perang Israel-AS dengan Palestina dan Iran, negara AS harus berutang dengan nominal yang fantastis. Kebijakan ini membuat kondisi perekonomian dalam negeri terganggu sehingga rakyat AS melakukan demo besar-besaran. Sejumlah kota di AS menggelar aksi untuk menentang kebijakan Trump yang diaggap otoriter. Setidaknya ada 8 juta orang turun ke jalan di 50 negara bagian dari kota-kota besar hingga kota-kota kecil. Aksi demo digelar karena rakyat merasa konstitusi terancam dengan berbagai cara, keadaan pun tidak baik-baik saja, kondisi jauh dari kata normal dan Donald Trump dikatakan sering berbohong, tetapi tidak ada yang berani bicara. Sehingga mereka turun ke jalan untuk yang ke 3 kalinya meminta Trump turun. (Detiknews.com 29-03-2026)

Ketidakpuasan masyarakat di negeri Paman Sam sebagai jantung kapitalisme menjadi tanda kehancuran negara adidaya. Hal ini bukan dikarenakan Trump yang gila perang, tetapi juga akibat kapitalisme yang berorientasi bisnis. Dalam setiap kebijakannya negara dengan ideologi kapitalisme lebih mementingkan keuntungan bagi para elit meskipun menyangkut banyak nyawa manusia. Perang yang terjadi antara AS dengan Iran menjadi beban besar bagi ekonomi negara, serta menambah tekanan pada prioritas anggaran dari pemotongan pajak, belanja pertahanan, hingga pengelolaan utang. Kondisi seperti ini sangat jelas akan memicu amarah rakyatnya, hingga beramai-ramai turun ke jalan untuk menghentikan Trump dengan segala ambisinya.

Sikap AS yang dipimpin oleh Trump dengan mendukung Israel untuk menguasai wilayah Palestina dan bersekutu dengan negara Eropa dan beberapa negara Teluk untuk memerangi Iran telah membuka mata dunia juga rakyat AS akan kejahatan yang dilakukan Trump serta hegemoni kapitalisme AS. AS menempatkan pangkalan militer AS di wilayah Teluk, AS juga membangun hubungan dengan maksud mencapai keuntungan atas keserakahannya dalam berkapitalisme.

Tanda Keruntuhan Kapitalisme

Kekecewaan yang dirasakan oleh masyarakat AS dan dunia akibat kepemimpinan ugal-ugalan yang dilakukan oleh negara adidaya ini seharusnya bisa menyadarkan masyarakat akan kerusakan sistem kapitalisme. Terutama bagi kaum muslim dan pemimpin-pemimpin negeri muslim untuk berhenti menggunakan sistem kapitalisme dan beralih kepada sistem yang sahih. Banyak yang mengatakan kepemimpinan dipengaruhi oleh karakter pemimpin itu sendiri. Namun, sebenarnya kepemimpinan itu dipengaruhi oleh sistem yang digunakan dalam memimpin. Sistem ibarat mobil yang digunakan untuk berkendara, jika mobil (sistem) itu rusak, siapa pun yang mengendarainya tidak akan sampai pada tujuan. Begitu juga negara, siapa pun yang memimpin di sistem kapitalisme, tidak akan mencapai tujuan kemaslahatan bagi umat, sebaliknya yang mendapatkan banyak keuntungan adalah para elit.

Di titik jenuh ini, manusia sering membahas tentang moralitas sebagai pokok pembahasan. Bukan hanya di negara Timur saja, di negara Barat yang syarat akan kebebasan pun moralitas menjadi seruan kemanusiaan di tengah krisis kepemimpinan. Ini juga yang menjadi pemicu rakyat AS turun ke jalan karena merasa Trump memimpin tanpa moral seperti kebijakan perang yang ia buat. Namun, inilah kenyataan pada demokrasi yang menjunjung tinggi kebebasan, yang menjadikan kedaulatan di tangan rakyat. Pada kenyataannya Trump yang memimpin dengan ugal-ugalan saja tetap percaya diri mengatakan bahwa hukum internasional di bawah komandonya. Jika seperti ini di mana letak kedaulatan di tangan rakyat? Lalu, di mana kebebasan berpendapat itu dibenarkan? Pada kenyataannya kebenaran hanya bersifat relatif.

Dengan banyaknya fakta yang bisa kita lihat, jelas bahwa demokrasi kapitalisme ini hanya utopis tatkala bergesekan dengan kepentingan para elit. Demokrasi hanya sebagai konsep ilusi, karena sesungguhnya yang berjalan adalah kepentingan para pemilik modal atau kapitalis. Meskipun voting ketidakpuasan atas kepemimpinan lebih besar, pada kenyataannya voting hanya menjadi angka yang tidak akan menggeser kepentingan elit. Ini adalah tanda bahwa sistem kapitalisme tidak bisa menciptakan kesejahteraan bagi rakyatnya, justru menjadi sumber kerusakan tatanan kehidupan global.

Sistem Politik Islam

Sangat disayangkan, di tengah kekecewaan dan kerusakan yang ada konsep politik Islam justru dipandang secara skeptis. Ini disebabkan oleh kampanye Barat yang dilakukan bertahun-tahun untuk mendiskreditkan Islam. Pada hakikatnya konsep politik Islam memiliki pengaturan yang menyeluruh termasuk sistem pemerintahan, ekonomi, kepemimpinan, sistem internasional dan lain sebagainya.

Rasulullah saw., Bersabda dalam Hadist riwayat Al-Bukhari, Muslim dan Ahmad. “Bahwa dulu Bani Israel diurus oleh para nabi. Setiap seorang nabi wafat, digantikan oleh nabi yang lain. Sesungguhnya tidak ada nabi setelahku. Yang akan ada adalah para khalifah yang banyak”.

Pada politik Islam akidah Islam menjadi dasar atau fondasi dalam kepemimpinan. Politik Islam juga tegak atas dasar akidah Islam, sehingga segala bentuk peraturan maupun undang-undang berada pada koridor syariat. Maka, kedaulatan dalam politik Islam berada pada syariat bukan berada di tangan rakyat. Di sebuah negara Islam kemaslahatan rakyat adalah yang utama. Dengan penerapan sistem Islam di bidang ekonomi, pergaulan, pendidikan, politik dan lain-lain akan terwujud kemaslahatan yang bisa dirasakan di dalam maupun luar negeri.

Sistem ekonomi Islam akan mengatur dan bertanggung jawab atas kebutuhan dan kepemilikan individu, negara sebagai regulator dan pelaksana akan bersikap adil. Sehingga kepemilikan harta bukan hak absolut individu, melainkan amanah yang Allah berikan untuk dikelola sebaik-baiknya sehingga menghasilkan banyak manfaat bagi umat.

Dalam hubungan internasional, Islam akan menjalankan hubungan ekonomi internasional dengan tujuan mewujudkan rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam). Dengan penerapan mata uang berbasis emas akan menstabilkan ekonomi, emas tidak akan mengalami inflasi sebagaimana uang kertas. Dengan sistem seperti ini akan menstabilkan harga dan daya beli dapat lebih terjangkau. Terpenting adalah untuk menghindari dominasi mata uang negara kuat atas negara-negara lemah seperti dolar terhadap mata uang lainnya.

Khatimah

Apabila Islam diterapkan dalam lingkup negara, pada saat itulah Islam akan menebar rahmat bagi seluruh alam, baik muslim maupun nonmuslim. Hal ini telah tercatat dalam sejarah, bagaimana Islam telah memimpin selama 13 abad, sejak Rasulullah saw. hjjrah ke Madinah hingga Khilafah Islamiyah di Turki. Maka, tugas para pengemban dakwah adalah terus mengajak umat dan penguasa muslim untuk menerapkan syariat Islam secara kaffah. Agar tatanan dunia yang telah rusak bisa digantikan dengan tatanan syariat Islam yang menyejahterakan.

Wallahualam bishawab

Continue Reading

Previous: Anggaran Ditekan, PPPK Jadi Korban
Next: Buah Pahit Sistem yang Gagal Menjaga Generasi

Related Stories

Buah Pahit Sistem yang Gagal Menjaga Generasi WhatsApp Image 2026-04-08 at 21.02.32

Buah Pahit Sistem yang Gagal Menjaga Generasi

08/04/2026
Anggaran Ditekan, PPPK Jadi Korban WhatsApp Image 2026-04-08 at 20.38.42

Anggaran Ditekan, PPPK Jadi Korban

08/04/2026
Jebakan Pinjol dalam Kapitalisasi Ramadan WhatsApp Image 2026-04-03 at 05.48.47

Jebakan Pinjol dalam Kapitalisasi Ramadan

02/04/2026

Recent Posts

  • Paradoks Swasembada dan Rencana Impor Beras
  • Idulfitri di Tengah Retaknya Persatuan Umat Islam
  • Buah Pahit Sistem yang Gagal Menjaga Generasi
  • Demo No Kings: Tanda Kerusakan Demokrasi Kapitalis
  • Anggaran Ditekan, PPPK Jadi Korban

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Paradoks Swasembada dan Rencana Impor Beras WhatsApp Image 2026-04-08 at 21.24.45

Paradoks Swasembada dan Rencana Impor Beras

08/04/2026
Idulfitri di Tengah Retaknya Persatuan Umat Islam WhatsApp Image 2026-04-08 at 21.14.08

Idulfitri di Tengah Retaknya Persatuan Umat Islam

08/04/2026
Buah Pahit Sistem yang Gagal Menjaga Generasi WhatsApp Image 2026-04-08 at 21.02.32

Buah Pahit Sistem yang Gagal Menjaga Generasi

08/04/2026
Demo No Kings: Tanda Kerusakan Demokrasi Kapitalis WhatsApp Image 2026-04-08 at 20.50.44

Demo No Kings: Tanda Kerusakan Demokrasi Kapitalis

08/04/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.