Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • January
  • 1
  • Ketika Game Online Menggerus Fitrah Anak

Ketika Game Online Menggerus Fitrah Anak

Editor Muslimah Times 01/01/2026
WhatsApp Image 2026-01-01 at 21.19.51
Spread the love

Oleh. Ria Rizki

Muslimahtimes.com–Akhir-akhir ini, kita sering mendengar kasus kekerasan yang melibatkan anak dan remaja. Mulai dari perundungan, percobaan bunuh diri, teror di sekolah, hingga pembunuhan. Sebagian kasus tersebut disebut terinspirasi dari game online yang mereka mainkan sehari-hari. Fakta ini patut menjadi perhatian bersama, karena menyangkut masa depan generasi.

Game online hari ini bukan sekadar hiburan. Banyak di antaranya menampilkan adegan kekerasan yang mudah diakses anak-anak. Dalam usia yang masih labil secara emosi, paparan kekerasan yang berulang dapat memengaruhi cara berpikir dan bertindak. Anak bisa terbiasa melihat kekerasan sebagai sesuatu yang wajar, bahkan dianggap sebagai jalan keluar dari masalah.

Dalam pandangan fitrah, setiap anak lahir dalam keadaan suci dan memiliki potensi kebaikan. Mereka membutuhkan lingkungan yang aman agar empati, kasih sayang, dan akhlak tumbuh dengan baik. Ketika ruang digital dipenuhi konten kekerasan, fitrah ini perlahan terkikis. Anak tidak belajar mengelola emosi dengan sehat, tetapi justru terbiasa melampiaskannya dengan cara merusak.

Tidak sedikit anak yang kemudian menjadi mudah marah, sulit berempati, dan mengalami gangguan emosi. Game online yang sarat kekerasan dapat memengaruhi cara kerja otak, terutama pada anak yang masih dalam tahap perkembangan. Hal ini menunjukkan bahwa persoalan game online tidak bisa dipandang sepele, apalagi diserahkan sepenuhnya pada kontrol anak.

Perlu disadari, ruang digital tidak netral. Di balik maraknya game online, ada industri besar yang digerakkan oleh sistem kapitalisme global. Keuntungan menjadi tujuan utama. Selama sebuah game menghasilkan uang, dampak buruknya sering kali diabaikan. Kekerasan dikemas menarik agar pemain terus bermain, kecanduan, dan menghabiskan waktu serta biaya.

Dalam sistem ini, anak bukan lagi subjek yang harus dilindungi, melainkan target pasar. Industri hiburan digital memanfaatkan kelemahan emosi dan rasa ingin tahu anak demi keuntungan materi. Akibatnya, keselamatan generasi sering dikorbankan.

Di sisi lain, negara belum hadir secara maksimal dalam melindungi generasi. Pengawasan terhadap konten digital masih lemah. Anak dan remaja seolah dibiarkan menghadapi arus informasi dan hiburan sendirian. Ketika terjadi kekerasan, yang disalahkan sering kali hanya individu atau keluarga, tanpa melihat sistem yang membentuk perilaku mereka.

Islam memandang penjagaan generasi sebagai tanggung jawab besar. Negara wajib melindungi akal dan jiwa anak dari segala bentuk kerusakan, termasuk dari konten digital yang membahayakan. Ruang publik, termasuk dunia digital, seharusnya diatur demi kemaslahatan umat, bukan semata kepentingan bisnis.

Kerusakan generasi sejatinya bisa dicegah jika tiga pilar dijalankan bersama. Ketakwaan individu menjadi benteng awal agar anak memiliki kontrol diri. Masyarakat berperan saling mengingatkan dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Negara bertugas memberi perlindungan nyata melalui aturan dan kebijakan yang berpihak pada keselamatan generasi.

Semua ini hanya dapat terwujud jika sistem kehidupan dibangun di atas nilai-nilai Islam. Tanpa perubahan mendasar, kasus kekerasan akibat game online akan terus berulang. Ini bukan hanya soal anak yang “salah bermain”, tetapi buah dari sistem yang membiarkan fitrah generasi rusak demi keuntungan. Sudah saatnya kita lebih serius menjaga generasi, demi masa depan umat.

Continue Reading

Previous: Takwa Cegah NPD, Beri Tahu Gen Z!
Next: Scroll Tanpa Henti, Bikin Hati Tak Terisi

Related Stories

Dehumanisasi Muslim Palestina oleh Zionis: Krisis Kemanusiaan yang Kian Mengerikan WhatsApp Image 2026-05-20 at 21.08.20

Dehumanisasi Muslim Palestina oleh Zionis: Krisis Kemanusiaan yang Kian Mengerikan

20/05/2026
Layar di Tangan Anak, Bahaya di Depan Mata WhatsApp Image 2026-05-20 at 21.01.17

Layar di Tangan Anak, Bahaya di Depan Mata

20/05/2026
Cermin Papua: Cerita di Balik Film Pesta Babi WhatsApp Image 2026-05-20 at 20.10.53

Cermin Papua: Cerita di Balik Film Pesta Babi

20/05/2026

Recent Posts

  • Dehumanisasi Muslim Palestina oleh Zionis: Krisis Kemanusiaan yang Kian Mengerikan
  • Layar di Tangan Anak, Bahaya di Depan Mata
  • Cermin Papua: Cerita di Balik Film Pesta Babi
  • Tanpa Negara Kuat dan Umat yang Bersatu, Bisakah Penderitaan Gaza Berakhir?
  • Derita para Ibu Pekerja

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Dehumanisasi Muslim Palestina oleh Zionis: Krisis Kemanusiaan yang Kian Mengerikan WhatsApp Image 2026-05-20 at 21.08.20

Dehumanisasi Muslim Palestina oleh Zionis: Krisis Kemanusiaan yang Kian Mengerikan

20/05/2026
Layar di Tangan Anak, Bahaya di Depan Mata WhatsApp Image 2026-05-20 at 21.01.17

Layar di Tangan Anak, Bahaya di Depan Mata

20/05/2026
Cermin Papua: Cerita di Balik Film Pesta Babi WhatsApp Image 2026-05-20 at 20.10.53

Cermin Papua: Cerita di Balik Film Pesta Babi

20/05/2026
Tanpa Negara Kuat dan Umat yang Bersatu, Bisakah Penderitaan Gaza Berakhir? WhatsApp Image 2026-05-20 at 19.59.06

Tanpa Negara Kuat dan Umat yang Bersatu, Bisakah Penderitaan Gaza Berakhir?

20/05/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.