Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • February
  • 3
  • Nasib Sekolah dan Pesantren Pascabencana: Menagih Tanggung Jawab Negara

Nasib Sekolah dan Pesantren Pascabencana: Menagih Tanggung Jawab Negara

Editor Muslimah Times 03/02/2026
WhatsApp Image 2026-02-03 at 22.11.09
Spread the love

Oleh. R. Nugrahani, S.Pd

Muslimahtimes.com–Bencana banjir bandang yang menerjang wilayah Aceh Utara dan sebagian Sumatra telah berlalu. Namun, masih menyisakan duka mendalam yang tidak hanya menyentuh aspek ekonomi, tetapi juga mengancam masa depan intelektual dan spiritual generasi muda. Meskipun Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat, menyatakan bahwa sekitar 90 persen sekolah terdampak bencana mulai aktif kembali, kenyataan di lapangan masih menunjukkan luka yang menganga.

Fakta di lapangan menunjukkan ratusan sekolah hingga saat ini masih terkubur lumpur dan membutuhkan ribuan perlengkapan pendidikan karena sarana yang ada telah hancur. Setidaknya ada sekitar 747 sekolah dilaporkan masih tertimbun lumpur dan membutuhkan ribuan perlengkapan belajar (Kompas, 12/01/2026). Tak hanya sekolah umum, Dinas Pendidikan Dayah Aceh Timur mencatat, sedikitnya 120 pesantren dan balai pengajian mengalami kerusakan berat akibat diterjang banjir bandang(CNN Indonesia, 15/01/2026). Lumpuhnya fasilitas ini bukan sekadar masalah fisik bangunan, melainkan terhentinya transmisi ilmu dan pembinaan akhlak bagi ribuan santri dan siswa. Di tengah tumpukan lumpur itu, masa depan anak-anak korban bencana seolah ikut terhenti.

Pendidikan Bukan Komoditas, tapi Kewajiban Negara

Dalam situasi pascabencana, negara tidak boleh bersikap lambat, apalagi melempar tanggung jawab pemulihan fasilitas kepada swadaya masyarakat. Pemulihan ratusan fasilitas pendidikan pasca bencana ini adalah tanggung jawab mutlak negara. Kondisi ini menuntut kehadiran negara secara total. Membebankan biaya perbaikan kepada masyarakat atau membiarkan sekolah terbengkalai adalah bentuk pengabaian amanah.

Pendidikan bukanlah komoditas yang pemenuhannya bergantung pada kemampuan kantong wali murid atau donasi ala kadarnya. Ketika sekolah dan pesantren lumpuh, negara wajib hadir dengan kebijakan darurat yang sistematis untuk memastikan proses belajar-mengajar segera kembali normal tanpa beban biaya tambahan bagi warga yang sedang tertimpa musibah.

Lebih dari itu, pemulihan fasilitas pendidikan pasca bencana tidak boleh berhenti hanya pada urusan teknis bangunan semata. Hal yang jauh lebih krusial adalah recovery mental dan penguatan kepribadian. Anak-anak korban bencana memerlukan trauma healing yang terintegrasi dengan penguatan akidah.

Lembaga pendidikan, khususnya pesantren, harus segera dipulihkan. Karena pesantren memiliki peran sentral yang tidak tergantikan dalam membangun akidah yang kuat dan kepribadian Islam yang kokoh. Di sinilah nilai-nilai tauhid ditanamkan—bahwa manusia adalah khalifah di muka bumi yang mengemban amanah untuk mengelola alam dengan syariat, bukan merusaknya demi kepentingan materi. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Baqarah ayat 30. Sebagai pengelola bumi, manusia dilarang melakukan kerusakan yang memicu bencana. Jika pesantren dibiarkan rusak tanpa prioritas perbaikan, maka benteng pertahanan moral generasi kita sedang dalam ancaman serius.

Solusi dalam Perspektif Islam

Untuk mengatasi krisis pendidikan pasca bencana ini secara tuntas, maka Islam sebagai sistem kehidupan memiliki prespektif yang khas.

  1. Pendidikan Gratis dan Berkualitas sebagai Hak Rakyat
    Dalam Islam, negara wajib menjamin pendidikan gratis bagi seluruh warga negara. Rasulullah SAW bersabda:
    “Seorang imam (pemimpin) adalah pengurus rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dipimpinnya.” (HR Muslim).
    Kewajiban ini mencakup penyediaan sarana prasarana yang layak, terutama saat terjadi keadaan darurat seperti bencana alam. Pemulihan sekolah dan pesantren harus menjadi prioritas utama anggaran negara agar proses pendidikan tidak tertunda.
  2. Membentuk Kepribadian Islam di Atas Puing Bencana
    Sistem pendidikan Islam berbasis akidah bertujuan membentuk siswa yang memiliki pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) Islam. Pesantren adalah benteng pertahanan terakhir moralitas bangsa. Jika pesantren dibiarkan rusak tanpa bantuan cepat, maka kita sedang membiarkan kekosongan spiritual terjadi pada generasi muda.
  3. Manusia sebagai Khalifah dan Pengelola Alam
    Islam mengajarkan bahwa peran utama muslim adalah menjadi khalifah fil ardh. Allah SWT berfirman:
    “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu…” (QS Al-Baqarah: 29).
    Kesadaran ini harus ditanamkan sejak dini melalui pendidikan. Banjir bandang seringkali terjadi akibat pengelolaan sumber daya alam yang serakah dan mengabaikan syariat. Pendidikan harus melahirkan generasi yang mampu mengelola alam untuk kesejahteraan, bukan merusaknya demi kepentingan segelintir korporasi.
  4. Melahirkan Generasi Khoiru Ummah
    Membangun kembali institusi pendidikan berarti membangun kesadaran umat untuk melahirkan generasi khoiru ummah (umat terbaik) yang siap menegakkan syariat Islam di masa depan. Bencana ini harus menjadi momentum bagi umat untuk terlibat aktif dalam melahirkan generasi khoiru ummah. Generasi yang tidak hanya cerdas secara sains, tetapi juga siap menegakkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan, termasuk dalam mitigasi bencana dan pelestarian lingkungan.

Kesimpulan
Nasib sekolah dan pesantren di Aceh Utara dan sebagian wilayah Sumatra adalah ujian bagi kemauan politik negara. Pemerintah harus segera bergerak melampaui sekadar retorika keprihatinan. Pembersihan lumpur dan perbaikan fasilitas lembaga pendidikan harus menjadi prioritas anggaran dan kebijakan negara. Membiarkan sekolah berlumpur dan pesantren hancur sama saja dengan membiarkan masa depan bangsa terkubur. Menunda pemulihan pendidikan berarti menunda lahirnya generasi pemimpin masa depan. Negara harus hadir secara total—mengambil alih tanggung jawab pembiayaan, mempercepat renovasi, dan memastikan kurikulum berbasis akidah tetap berjalan. Hanya dengan kepemimpinan yang amanah dan sistem pendidikan yang sahih akan melahirkan generasi yang kuat menghadapi ujian zaman dan mampu mengemban risalah Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin

Continue Reading

Previous: Normalisasi Istri Tidak Bekerja

Related Stories

Normalisasi Istri Tidak Bekerja WhatsApp Image 2025-12-01 at 20.59.48

Normalisasi Istri Tidak Bekerja

01/12/2025
Darurat Bullying terhadap Remaja, di Mana Peran Negara? WhatsApp Image 2025-11-17 at 20.44.53

Darurat Bullying terhadap Remaja, di Mana Peran Negara?

17/11/2025
Kejamnya Bullying Mengubah Korban Menjadi Pelaku WhatsApp Image 2025-11-17 at 20.34.17

Kejamnya Bullying Mengubah Korban Menjadi Pelaku

17/11/2025

Recent Posts

  • Menakar Keberhasilan Satu Tahun MBG: Solusi Hakiki atau Pragmatis?
  • Guru Dikeroyok, Murid Dihina: Buah Pendidikan Sekuler
  • Sekularisme: Akar Lemahnya Perlindungan Anak
  • Nasib Sekolah dan Pesantren Pascabencana: Menagih Tanggung Jawab Negara
  • Game Online: Media Penghancur Pemikiran Generasi

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Menakar Keberhasilan Satu Tahun MBG: Solusi Hakiki atau Pragmatis? WhatsApp Image 2026-02-03 at 22.07.05

Menakar Keberhasilan Satu Tahun MBG: Solusi Hakiki atau Pragmatis?

03/02/2026
Guru Dikeroyok, Murid Dihina: Buah Pendidikan Sekuler WhatsApp Image 2026-02-03 at 21.41.25

Guru Dikeroyok, Murid Dihina: Buah Pendidikan Sekuler

03/02/2026
Sekularisme: Akar Lemahnya Perlindungan Anak WhatsApp Image 2026-02-03 at 21.46.01

Sekularisme: Akar Lemahnya Perlindungan Anak

03/02/2026
Nasib Sekolah dan Pesantren Pascabencana: Menagih Tanggung Jawab Negara WhatsApp Image 2026-02-03 at 22.11.09

Nasib Sekolah dan Pesantren Pascabencana: Menagih Tanggung Jawab Negara

03/02/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.