Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2026
  • February
  • 25
  • Ramadan di Atas Puing: Ketika Korban Bencana Sumatera Menunggu Hadirnya Negara

Ramadan di Atas Puing: Ketika Korban Bencana Sumatera Menunggu Hadirnya Negara

Editor Muslimah Times 25/02/2026
WhatsApp Image 2026-02-25 at 22.23.13
Spread the love

Oleh. Faalihah Nuha

Muslimahtimes.com–Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, ribuan warga di berbagai wilayah Sumatera, khususnya Aceh masih harus menjalani hidup jauh dari kata layak. Pengungsian yang tersebar di wilayah seperti Aceh Timur dan Aceh Utara, tenda darurat, hunian sementara yang tak kunjung rampung, serta gelapnya malam tanpa aliran listrik masih menjadi kondisi harian yang mereka hadapi. Alih-alih menyambut Ramadan dengan ketenangan, warga justru memasuki bulan penuh ibadah dengan kecemasan, tanpa kepastian hunian, tanpa penghasilan, dan hanya bergantung pada bantuan sesama masyarakat.

Bencana yang Belum Berakhir: Hidup dari Bantuan Warga, Bukan Negara

Sudah hampir tiga bulan berlalu sejak banjir besar menerjang sejumlah wilayah di Sumatra, namun proses pemulihan berjalan jauh lebih lambat dari yang diharapkan. Infrastruktur dasar belum sepenuhnya pulih, dan banyak warga masih berjuang untuk kembali ke kehidupan normal. Laporan dari Lapor Iklim yang dikutip oleh IDNTimes (11/2/2026) menyebutkan bahwa sejumlah rumah masih belum layak huni, kegiatan belajar-mengajar di sekolah belum kembali stabil, serta kondisi ketahanan pangan masyarakat berada dalam situasi yang mengkhawatirkan.

Di Kabupaten Pidie Jaya, kerusakan terlihat begitu parah dengan rumah-rumah yang tertimbun lumpur setinggi dua hingga tiga meter, menyulitkan proses pembersihan dan rekonstruksi. Sementara itu, di Nagan Raya, dua desa dilaporkan hampir hilang sepenuhnya. Banyak warga terpaksa mengungsi ke kaki bukit untuk mencari tempat yang lebih aman, namun harus hidup tanpa akses listrik yang memadai dan dengan fasilitas yang sangat terbatas.

Secara administratif, bantuan pemerintah dilaporkan telah disalurkan. Namun dalam praktiknya, di tingkat akar rumput masyarakat masih sangat bergantung pada solidaritas warga, relawan, serta komunitas lokal untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Banyak kepala keluarga belum dapat kembali bekerja karena lahan, tempat usaha, atau sarana produksi mereka rusak atau hilang. Data Kompas.com (10/2/2026) mencatat bahwa hingga saat ini sekitar 17.000 kepala keluarga, atau sekitar 69.000 jiwa, masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.

Negara Abai: Ramadan dalam Ketidakpastian

Ramadan adalah waktu ketika kaum muslim seharusnya bisa menenangkan hati, memperbanyak ibadah, dan mendekatkan diri kepada Allah. Namun bagi para penyintas di Aceh dan wilayah lain di Sumatra, suasana itu terasa jauh. Masalah mendasar seperti tempat tinggal, listrik, dan pemenuhan kebutuhan pokok masih jauh dari kata selesai.

Dalam rapat di Senayan, Tito Karnavian mengungkap bahwa dari 16.688 huntara yang diusulkan, baru 8.290 atau 50 persen yang selesai dibangun. Huntap pun baru sekitar 1.254 unit yang sedang dikerjakan. Di Aceh, usulan 14.697 huntara dan 9.246 huntap masih jauh dari rampung. Target pemerintah agar warga bisa meninggalkan tenda sebelum Ramadhan akhirnya tidak tercapai (detikNews, 18/2/2026).

Pengamat dari Universitas Malikussaleh, Masriadi Sambo, menilai kegagalan ini menunjukkan lemahnya koordinasi lintas kementerian. Banyak korban tetap menjalani Ramadan di tenda, sementara data penerima bantuan tidak transparan dan memicu protes warga (SerambiNews, 18/2/2026).

Warga yang kehilangan pekerjaan hanya bisa bergantung pada bantuan masyarakat. Sebagian masih beribadah di tenda panas dan sebagian lainnya tetap berada dalam kegelapan tanpa listrik. Ramadhan yang seharusnya menjadi ruang ketenangan berubah menjadi perjuangan bertahan hidup. Sulit mencapai kekhusyukan ketika kebutuhan pokok saja belum terpenuhi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa negara tidak menjalankan ri’ayah secara layak. Narasi bahwa rekonstruksi berjalan cepat tidak sesuai kenyataan di lapangan. Kepemimpinan yang berlandaskan kepentingan citra membuat wilayah bencana terus terpuruk bahkan ketika perhatian publik mulai memudar.

Islam: Negara Seharusnya Menjadi Pelindung Terdepan

Dalam Islam, negara memegang amanah besar untuk menjamin kesejahteraan dan keamanan rakyat. Ramadan bukan hanya sekadar bulan ibadah, tetapi momentum yang harus dihadirkan dengan suasana tenang, kondusif, dan penuh dukungan negara. Karena itu, peran negara tidak berhenti pada urusan administratif atau keamanan semata, melainkan juga mencakup tanggung jawab moral dan struktural untuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan umat menjalankan ibadah secara optimal. Tanggung jawab ini kemudian dapat dipahami melalui beberapa aspek berikut.

1. Negara dalam Islam Menjamin Kenyamanan Ibadah Ramadan

Dalam sistem Islam, negara memberikan perhatian khusus agar rakyat dapat beribadah optimal. Kebijakan, fasilitas publik, dan dukungan sosial diselaraskan untuk memastikan bahwa setiap keluarga dapat menjalankan Ramadan dengan aman dan tenang.

2. Wilayah Bencana Mendapat Prioritas Tinggi

Dalam struktur Khilafah, wilayah yang terdampak bencana akan menjadi fokus utama. Negara mengerahkan seluruh sumber daya, anggaran, SDM, dan logistik untuk memastikan rekonstruksi berjalan cepat dan menyeluruh. Tidak ada alasan menunda, apalagi menunggu momentum pencitraan politik.

3. Kebijakan Berdasarkan Ri’ayah, Bukan Citra

Visi ri’ayah (pengurusan) membuat negara bertindak solutif dan menyeluruh. Bukan sekadar menyediakan huntara, tapi memastikan kebutuhan pangan terpenuhi, listrik menyala, pelayanan kesehatan berjalan, dan keamanan sosial terjamin. Semua dilakukan bukan untuk “dipuji,” tetapi karena itu kewajiban syar’i.

4. Anggaran Rekonstruksi Tidak Dibatasi

Dalam sistem Islam, anggaran untuk penanganan bencana tidak pernah menjadi “sisa alokasi.” Negara memiliki pos pemasukan tetap dari baitulmal, dan bila tidak mencukupi, negara berhak menarik dharibah (pungutan khusus dari warga mampu) untuk menjamin seluruh area bencana pulih secepat mungkin.

Fenomena bencana Sumatera dan penanganannya yang lambat menunjukkan lemahnya negara dalam menjalankan amanahnya sebagai pengayom dan pelindung rakyat. Selama sistem kapitalistik tetap menjadi landasan, kebijakan negara akan terus berkutat pada pencitraan, bukan penyelesaian. Islam menawarkan jalan kepemimpinan yang berorientasi penuh pada ri’ayah, bukan citra. Jalan di mana rakyat tidak dibiarkan bertahan sendirian. Jalan di mana negara hadir sebelum laporan dibuat, sebelum keluhan viral, bahkan sebelum rakyat meminta. Hanya dengan sistem yang memuliakan amanah itulah, rakyat dapat menyambut Ramadan dengan hati tenang, bukan dengan air mata.

Continue Reading

Previous: MBG di Bulan Ramadan: antara Target Proyek dan Amanah Pelayanan
Next: Rusaknya Moral Dunia Pendidikan, Ulah Sekulerisme

Related Stories

Ketika Ruang Ekspresi Dibebaskan, Benar-Salah Terabaikan WhatsApp Image 2026-02-25 at 22.47.58

Ketika Ruang Ekspresi Dibebaskan, Benar-Salah Terabaikan

25/02/2026
Pembungkaman Kritik dalam Sistem Sekuler WhatsApp Image 2026-02-25 at 22.39.55

Pembungkaman Kritik dalam Sistem Sekuler

25/02/2026
Rusaknya Moral Dunia Pendidikan, Ulah Sekulerisme WhatsApp Image 2026-02-25 at 22.29.10

Rusaknya Moral Dunia Pendidikan, Ulah Sekulerisme

25/02/2026

Recent Posts

  • Ketika Ruang Ekspresi Dibebaskan, Benar-Salah Terabaikan
  • Pembungkaman Kritik dalam Sistem Sekuler
  • Rusaknya Moral Dunia Pendidikan, Ulah Sekulerisme
  • Ramadan di Atas Puing: Ketika Korban Bencana Sumatera Menunggu Hadirnya Negara
  • MBG di Bulan Ramadan: antara Target Proyek dan Amanah Pelayanan

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Ketika Ruang Ekspresi Dibebaskan, Benar-Salah Terabaikan WhatsApp Image 2026-02-25 at 22.47.58

Ketika Ruang Ekspresi Dibebaskan, Benar-Salah Terabaikan

25/02/2026
Pembungkaman Kritik dalam Sistem Sekuler WhatsApp Image 2026-02-25 at 22.39.55

Pembungkaman Kritik dalam Sistem Sekuler

25/02/2026
Rusaknya Moral Dunia Pendidikan, Ulah Sekulerisme WhatsApp Image 2026-02-25 at 22.29.10

Rusaknya Moral Dunia Pendidikan, Ulah Sekulerisme

25/02/2026
Ramadan di Atas Puing: Ketika Korban Bencana Sumatera Menunggu Hadirnya Negara WhatsApp Image 2026-02-25 at 22.23.13

Ramadan di Atas Puing: Ketika Korban Bencana Sumatera Menunggu Hadirnya Negara

25/02/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.