Oleh. Azaera A
Muslimahtimes.com–Pernahkah kalian merasa bingung saat hendak merayakan Lebaran? Malam yang seharusnya riuh dengan gema takbir tiba-tiba terasa sunyi karena pengumuman di televisi menyatakan puasa digenapkan sehari lagi. Di sisi lain, mungkin tetangga atau kerabat kita justru asyik menyantap ketupat. Fenomena “Lebaran beda hari” ini seolah menjadi ritual tahunan yang memicu diskusi panjang di grup WhatsApp keluarga. Sejujurnya, hal ini sering membuat kita bertanya-tanya: mengapa umat yang satu iman ini sulit sekali menentukan hari kemenangan secara bersamaan?
Jika menilik khazanah fikih, mayoritas ulama (Mazhab Hanafi, Maliki, dan Hambali) sebenarnya sepakat pada konsep rukyatul global . Prinsipnya sederhana: jika hilal telah terlihat di satu bagian bumi, maka kewajiban berpuasa atau berlebaran berlaku bagi seluruh umat Islam di dunia tanpa memanda jarak. Satu bulan berlaku untuk seluruh negeri. Memang ada pendapat Mazhab Syafii yang menggunakan rukyat lokal , namun batasan aslinya sangat spesifik secara geografis, yakni radius sekitar 120 km dari titik rukyat, bukan berdasarkan batas administrasi negara seperti sekarang.
Sayangnya, praktik yang jamak terjadi saat ini justru menyimpang melalui penerapan wilayah wilayatul hukmi . Penentuan hari raya tidak lagi mengikuti radius syar’i 120 km, melainkan menggunakan batas wilayah negara hasil warisan kolonial. Ironisnya, garis-garis politik inilah yang secara nyata memecah belah keseragaman ibadah umat Islam. Padahal secara geografis, tidak ada penghalang alami antarnegeri umat Islam. Namun, sekat politik membuat saudara semusim yang hanya berbeda garis perbatasan bisa merayakan Idulfitri di hari yang berbeda.
Realitas ini seharusnya menyadarkan kita bahwa pangkal permasalahan ini bukan sekedar perbedaan alat teropong atau derajat hilal, melainkan masalah kepemimpinan politik. Umat Islam saat ini terfragmentasi dalam puluhan negara bangsa yang memiliki otoritas berbeda-beda. Selama kita masih terjebak dalam sekat-sekat nasionalisme yang memisahkan ukhuwah, maka keseragaman dalam menentukan 1 Syawal akan selalu sulit diwujudkan. Kita kehilangan sosok pemimpin tunggal yang didengar dan ditaati oleh seluruh umat Islam di dunia.
Sebagai solusi mendasar, umat Islam memerlukan institusi politik pemersatu, yakni Khilafah. Dengan adanya Khilafah, seluruh kaum Muslimin akan berada di bawah satu kepemimpinan yang mampu menyatukan hasil rukyat secara global. Begitu hilal terlihat di satu titik bumi, sang Khalifah akan mengenang seluruh umat untuk merayakannya secara serentak. Dengan demikian, ukhuwah Islamiyah tidak lagi terhalang oleh garis politik kolonial, dan Idulfitri benar-benar menjadi momentum kemenangan yang dirayakan bersama dalam satu hari yang sama di seluruh dunia.
