Oleh. Risna Ummu Zoya
Muslimahtimes.com–Idulfitri kembali hadir membawa gema takbir yang menggema di seluruh dunia, menandai berakhirnya bulan Ramadan yang penuh berkah. Umat Islam merayakannya dengan penuh suka cita, saling memaafkan, mempererat silaturahmi, dan berharap kembali kepada fitrah. Suasana kebahagiaan ini menjadi simbol kemenangan setelah sebulan penuh berjuang menahan lapar, dahaga, dan hawa nafsu. Namun, di balik euforia tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah kemenangan ini benar-benar mencerminkan kemenangan hakiki umat Islam secara keseluruhan, ataukah hanya sebatas kemenangan spiritual individu?
Ramadan sejatinya bukan sekadar bulan ibadah ritual, tetapi juga bulan pendidikan yang membentuk kepribadian dan arah perjuangan umat. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (TQS. Al-Baqarah: 183). Ayat ini menegaskan bahwa tujuan utama Ramadan adalah membentuk ketakwaan yang utuh, tidak hanya dalam ibadah personal, tetapi juga dalam kepatuhan total terhadap seluruh aturan Allah dalam kehidupan. Ketakwaan seharusnya melahirkan keberanian, keteguhan, dan kesadaran untuk memperjuangkan Islam secara menyeluruh. Namun realitas hari ini menunjukkan bahwa Ramadan lebih banyak dimaknai sebatas peningkatan ibadah individu, belum menjadi kekuatan kolektif yang mendorong perubahan besar.
Di tengah perayaan Idul Fitri, dunia justru disuguhi fakta yang memprihatinkan. Sebagian negeri Muslim tampak sejalan dengan kekuatan Barat dalam konflik geopolitik global. Dilansir dari CNBC Indonesia, Amerika Serikat bersama enam negara Arab—Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan Yordania—mengeluarkan pernyataan bersama yang mengutuk Iran di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah. Fakta ini mencerminkan rapuhnya persatuan umat Islam. Alih-alih bersatu menghadapi tantangan global, umat justru terpecah dalam kepentingan politik sempit, bahkan saling berseberangan. Kondisi ini menunjukkan bahwa solidaritas umat masih lemah dan mudah dipengaruhi kepentingan eksternal.
Padahal Allah Swt telah memberikan peringatan tegas: “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (TQS. Ali Imran: 103). Persatuan adalah kunci kekuatan, sedangkan perpecahan adalah pintu kelemahan. Namun realitas menunjukkan umat terkotak-kotak dalam batas negara, kepentingan politik, dan pengaruh ideologi asing. Persatuan seringkali hanya menjadi slogan yang diulang dalam momen keagamaan, tetapi belum terwujud dalam kehidupan nyata.
Kondisi ini tidak lepas dari lemahnya kesadaran ideologis umat. Ramadan yang seharusnya menjadi momentum pembentukan kesadaran politik Islam justru lebih banyak dipahami sebagai ajang peningkatan spiritual semata. Akibatnya, umat tidak memiliki visi besar tentang perubahan peradaban Islam. Perjuangan yang muncul cenderung pragmatis dan parsial, belum menyentuh akar persoalan. Umat sibuk pada masalah-masalah kecil, sementara persoalan mendasar yang menyebabkan kelemahan umat tidak tertangani secara serius.
Padahal Allah Swt telah menetapkan umat Islam sebagai umat terbaik: “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (TQS. Ali Imran: 110). Predikat khoiru ummah ini bukan sekadar kehormatan, tetapi tanggung jawab besar. Umat Islam seharusnya tampil sebagai pemimpin peradaban dan pembawa rahmat bagi seluruh alam. Namun kenyataannya, umat justru berada dalam posisi lemah, bergantung, dan tidak memiliki kedaulatan penuh.
Ironisnya, di balik kondisi tersebut, umat Islam memiliki potensi yang sangat besar. Dari sisi jumlah, umat Islam merupakan salah satu populasi terbesar di dunia. Dari sisi sumber daya alam, negeri-negeri Muslim kaya akan minyak, gas, dan kekayaan strategis lainnya. Secara geopolitik, wilayah umat Islam berada pada posisi penting dalam jalur perdagangan dunia. Ditambah lagi dengan Islam sebagai ideologi yang sempurna, yang mengatur seluruh aspek kehidupan secara komprehensif. Semua ini seharusnya menjadi modal besar untuk membangun kekuatan umat yang mandiri dan berdaulat.
Namun potensi tersebut tidak akan terwujud tanpa arah perjuangan yang jelas dan kesadaran untuk berubah. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (TQS. Ar-Ra’d: 11). Perubahan tidak datang secara otomatis, tetapi harus diupayakan dengan kesadaran, pemikiran, dan perjuangan yang sungguh-sungguh. Tanpa itu, umat akan terus berada dalam kondisi yang sama.
Oleh karena itu, Ramadan dan Idulfitri seharusnya menjadi momentum kebangkitan umat yang sesungguhnya. Dakwah perlu diarahkan untuk membangun kesadaran politik ideologis bahwa Islam bukan hanya agama ibadah, tetapi juga sistem kehidupan yang menyeluruh. Umat perlu diajak memahami kondisi mereka, menyadari akar permasalahan, dan bergerak menuju perubahan yang terarah.
Lebih dari itu, umat Islam harus menyadari urgensi persatuan yang hakiki. Persatuan bukan sekadar simbolik, tetapi harus dilandasi akidah dan tujuan yang sama. Allah Swt berfirman: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…” (TQS. Al-Hujurat: 10). Persaudaraan ini harus diwujudkan dalam kekuatan nyata yang mampu melindungi umat dan menjaga kemuliaan Islam. Tanpa persatuan yang kuat, umat akan terus menjadi objek dalam percaturan global.
Dengan demikian, Idul Fitri tidak boleh berhenti sebagai perayaan tahunan semata. Ia harus menjadi momentum refleksi dan konsolidasi kekuatan umat. Kemenangan sejati bukan hanya dirasakan dalam kebahagiaan sesaat, tetapi terwujud dalam bangkitnya umat Islam sebagai kekuatan besar yang bersatu, mandiri, dan berdaulat di bawah ajaran Islam yang sempurna. Idulfitri adalah pengingat bahwa kemenangan hakiki masih harus diperjuangkan—melalui kesadaran, persatuan, dan langkah nyata menuju perubahan yang menyeluruh.
