Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2023
  • December
  • 16
  • Hindari Red Flag, Sehatkan Fisik dan Mental

Hindari Red Flag, Sehatkan Fisik dan Mental

admin.news 16/12/2023
IMG-20231215-WA0003
Spread the love

Oleh. Kholda Najiyah
(Founder Salehah Institute)

Muslimahtimes.com–Menghilangkan red flag atau bahaya dalam hubungan suami istri, penting agar punya rasa aman dan sejahtera jiwa raga dalam menjalani kehidupan. Bahaya jika menikah malah menimbulkan mudharat, menjauhkan pelakunya dari ketaatan kepada Allah Swt dan bahkan tidak membawa kebahagiaan lahir dan batin.

Nah, kondisi demikian sebenarnya tidak akan terjadi pada keluarga-keluarga Muslim, bila benar-benar membangun pernikahan dengan fondasi iman yang kokoh. Oleh karena itu, Islam punya solusi untuk mengantisipasi red flag dalam pernikahan. Antara lain dengan membangun pernikahan di atas landasan sebagai berikut:

1.Tempatkan Allah Swt sebagai Sumber Bergantung

Red flag dalam interaksi suami istri, bisa dipastikan terjadi karena masing-masing lalai dalam menempatkan Allah Swt sebagai satu-satunya sumber bergantung.Tanamkan keyakinan yang kokoh bahwa jalinan relasi mereka dibersamai Allah Swt. Yakin bahwa pasangannya telah dijodohkan untuknya sebagai yang terbaik, sehingga wajib diperlakukan dengan baik. Mungkin bukan sosok yang ia idamkan, tetapi pascaakad nikah terucap, ia wajib mencintai, melindungi dan menjaga keselamatannya.

Yakin dengan konsep rezeki, pemberian anak, ujian-ujian dalam pernikahan, dan bahkan cara memaknai kebahagiaan, semuanya dari Allah Swt. Satu-satunya tempat bergantung adalah Allah Swt. Bukan yang lain. Bukan menggantungkan pada suami, bukan pula kepada istri. Sehingga, ketika terjadi masalah-masalah dalam pernikahan, keduanya sepakat saling bekerja sama menyelesaikannya dengan meminta pertolongan semata-mata kepada Allah Swt.

2. Bersyukur Telah Memiliki Pasangan untuk Menggenapkan Agama

Menikah disebut menggenapi setengah agama. Para ulama menjabarkan, setengah agama dimaksud adalah terjaminnya penjagaan diri dari kejahatan farji atau kelamin. Sebab dengan menikah, telah terpenuhi jalan halal untuk penyaluran naluri kasih sayang. Terpenuhinya kebutuhan biologis, tercegah dari zina. Untuk itu, harus selalu ditumbuhkan rasa cinta dan cenderung pada pasangan. Bersyukur atas keberadaannya. Perlakukan dengan mulia.

Adapun setengahnya lagi, berupa penjagaan diri dari lisan. Ya, lisan adalah sumber tergelincirnya manusia pada dosa selain farji. Betapa banyak kejahatan dipicu oleh lisan yang menyakitkan. Menikah dan interaksi sosial di dalamnya, melatih diri atas pengendalian lisan. Itulah perintah untuk berbuat lemah lembut dan makruf. Janganlah tajamnya lisan menusuk kalbu, hingga menimbulkan luka batin, kebencian hingga dendam kesumat.

3. Jalankan Kewajiban Dahulu, Biarkan Hak Menyusul Kemudian

Suami dan istri punya kewajiban yang harus dilakukan sesuai kemampuan. Kerahkankanlah sumber daya diri untuk menjalankan kewajiban itu dengan baik. Tidak perlu mempertimbangkan apakah hak saya sudah diberikan oleh pasangan atau tidak, karena menjalankan kewajiban adalah perintah dari Allah Swt. Ketika kewajiban dilakukan dengan tuntas, hak akan otomatis terpenuhi.

Misal, istri taat suami, menyenangkan saat dipandang, melayani dengan ikhlas, menjaga amanah berupa harta, menjaga kehormatan dan nama baiknya. Lalu suami sungguh-sungguh memberi nafkah, memuliakan istri, memperlakukan dengan makruf dan seterusnya. Jika kewajiban sudah diikhtiarkan sesuai kemampuan, niscaya Allah Swt akan memberikan hak-hak suami dan istri dengan sebaik-baiknya. Yakinkanlah itu dalam hati, hingga tak pernah terbersit berbuat keji pada pasangan.

4. Muhasabah dan Evaluasi Bersama Pasangan

Menjalani pernikahan tidak selamanya konstan dalam kondisi harmonis. Selalu ada pertengkaran, baik kecil maupun besar. Selalu ada kekhilafan dalam memenuhi hak dan harapan pasangan. Penting untuk keduanya saling mengevaluasi atau muhasabah. Berkomunikasi dengan terbuka dan saling percaya. Bicara dari hati ke hati secara mendalam, mana yang harus diperbaiki dan mana yang harus diupayakan lebih keras. Terbuka untuk saling memaafkan dan memperbaiki ke depan. Barangkali ada unsur-unsur keharaman yang telah masuk dalam rumah tangga, segera singkirkan dan tobat nasuha. Dengan demikian pernikahan tetap berjalan dalam koridor syariat-Nya.

5. Saling Melindungi dan Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental

Perhatikanlah selalu kondisi kesehatan dan kesejahteraan pasangan. Utamakan rasa empati dan toleransi melihat sepak terjangnya. Jika dia tampak begitu lelah fisik, maka janganlah memaksakan kehendak. Biarkan ia berhenti pada batas aman, demi menjaga kesehatannya. Sangat repot dan menguras sumber daya keluarga, jika salah satu pasangan ternyata sakit gara-gara tak pernah mendapatkan kesempatan untuk hidup rileks sejenak.

Demikian pula perhatikan kestabilan emosi dan psikisnya. Jangan-jangan dia merasa tertekan, stres, tidak nyaman, terancam dan bahkan mengalami gangguan psikis. Pedulilah. Jangan terlalu abai dengan kondisi pikiran, emosi, fisik dan mental diri dan pasangan. Hal ini sangat penting, di tengah hidup yang penuh dengan tantangan dan tekanan. Utamakan kestabilan pikiran, kesehatan fisik dan mental. Hal Ini supaya kita bijak membuat keputusan-keputusan dan mampu menjalin hubungan yang sehat. Lepas dari bahaya yang mengancam kehancuran ikatan suci pernikahan.(*)

Continue Reading

Previous: Waspadai, Red Flag Pernikahan yang Paling Berbahaya
Next: Mahalnya Harga Beras, Mampukah Diatasi dengan Tuntas?

Related Stories

Mengatasi Kurang Gizi dari Dapur Ibu Sendiri WhatsApp Image 2026-02-11 at 10.16.35

Mengatasi Kurang Gizi dari Dapur Ibu Sendiri

11/02/2026
Marak Suami Bunuh Istri, Ada Apa dengan Rumah Tangga Muslim Hari Ini? WhatsApp Image 2026-02-09 at 09.39.23

Marak Suami Bunuh Istri, Ada Apa dengan Rumah Tangga Muslim Hari Ini?

09/02/2026
Lima Coping Stres untuk Menjaga Mental Ibu WhatsApp Image 2025-12-31 at 22.06.48

Lima Coping Stres untuk Menjaga Mental Ibu

31/12/2025

Recent Posts

  • Harapan Rakyat Hanyut, Seiring Bencana yang Berlanjut
  • Board Of Peace : Retorika Perdamaian, Realita Penjajahan
  • Anak stunting dan Obesitas, Problem Gizi Belum Tuntas
  • Keracunan MBG: Bukti Gagalnya Negara Menjamin Gizi Generasi
  • The Polluter Pays Principle, Rekonstruksi Gaza Bukan Agenda Tulus Board of Peace

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Harapan Rakyat Hanyut, Seiring Bencana yang Berlanjut WhatsApp Image 2026-02-12 at 09.38.56

Harapan Rakyat Hanyut, Seiring Bencana yang Berlanjut

12/02/2026
Board Of Peace : Retorika Perdamaian, Realita Penjajahan WhatsApp Image 2026-02-12 at 09.27.11

Board Of Peace : Retorika Perdamaian, Realita Penjajahan

12/02/2026
Anak stunting dan Obesitas, Problem Gizi Belum Tuntas WhatsApp Image 2026-02-12 at 09.07.00

Anak stunting dan Obesitas, Problem Gizi Belum Tuntas

12/02/2026
Keracunan MBG: Bukti Gagalnya Negara Menjamin Gizi Generasi WhatsApp Image 2026-02-12 at 08.54.17

Keracunan MBG: Bukti Gagalnya Negara Menjamin Gizi Generasi

12/02/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.