Skip to content
Muslimah Times

Muslimah Times

dari dan untuk muslimah masa kini

Primary Menu
  • HOME
  • NEWS
  • AKTUAL
  • CHICKEN SOUP
  • HIKMAH
  • KAJIAN
  • PARENTING
  • RESENSI
  • RUMAH TANGGA
  • SASTRA
  • TEENS
  • Kontak Kami
    • SUSUNAN REDAKSI
    • Login
  • Home
  • 2025
  • October
  • 31
  • Peran Ayah Hilang: Buah Sistem Rusak

Peran Ayah Hilang: Buah Sistem Rusak

Editor Muslimah Times 31/10/2025
WhatsApp Image 2025-10-31 at 11.29.35
Spread the love

Oleh. Ria Rizki

Muslimahtimes.com–Fenomena fatherless kini makin sering dibicarakan. Banyak anak Indonesia tumbuh tanpa peran ayah, baik secara fisik maupun psikis. Jutaan anak kehilangan figur ayah yang hadir, meski sang ayah masih ada di rumah. Kehadiran fisik ternyata tak selalu berarti hadirnya kasih, waktu, dan bimbingan. Inilah wajah fatherless modern, kesepian di tengah keluarga sendiri.

Masalah ini tidak lahir tiba-tiba. Ia adalah buah dari sistem hidup kapitalistik-sekuler yang menjauhkan manusia dari fitrahnya. Dalam sistem ini, nilai hidup diukur dari materi. Para ayah dipacu bekerja tanpa henti demi memenuhi tuntutan ekonomi. Hari-hari mereka habis di jalan dan kantor, sementara anak-anak tumbuh dalam layar, diasuh oleh gawai dan dunia digital. Sistem ini menjadikan manusia sekadar roda ekonomi, bukan pribadi utuh yang punya peran fitrah dalam keluarga.

Padahal dalam neurosains, kehadiran ayah dan ibu sangat penting bagi pembentukan citra diri anak. Ibu menumbuhkan perasaan “aku dicintai”, menjadi dasar rasa aman dan harga diri. Sedangkan ayah membentuk cara anak memandang dunia, apakah dunia aman untuk ditempuh, adil untuk diperjuangkan, dan pantas diperjuangkan dengan keberanian.

Ketika salah satu peran ini hilang, anak tumbuh dengan kebutuhan validasi yang tak terpenuhi. Akibatnya, mereka mencarinya di luar rumah di media sosial, pertemanan semu, atau relasi yang tidak sehat.

Kebutuhan akan validasi ini sejatinya adalah kebutuhan jiwa yang fitrah, ingin dilihat, didengar, dan dihargai. Tapi di tengah sistem sekuler yang menekan ayah dan ibu dengan beban ekonomi dan ritme hidup cepat, banyak anak kehilangan ruang aman itu. Fitrah ayah untuk menuntun dan mencintai mati pelan-pelan. Tidak ada lagi cinta pertama yang utuh dari seorang ayah untuk anak perempuannya. Tidak ada lagi figur maskulinitas yang kokoh bagi anak laki-laki untuk belajar menjadi pemimpin.

Dalam sistem sekuler, nilai qawwam, kepemimpinan dan tanggung jawab ayah tereduksi menjadi sekadar pencari nafkah. Padahal Islam memandang ayah sebagai pelindung, pendidik, dan penuntun arah hidup anak. Lukman dalam Al-Qur’an menjadi teladan bagaimana ayah menanamkan tauhid dan adab pada anaknya. Islam tidak memisahkan kasih sayang dari kepemimpinan. Seorang ayah adalah teladan moral, bukan sekadar sumber materi.

Ketika fitrah ayah mati, anak-anak tumbuh rapuh. Mereka belajar cinta dari layar, mencari jati diri dari konten, dan mengukur harga dirinya dari jumlah likes. Padahal sejatinya, validasi yang menumbuhkan itu seharusnya datang dari rumah dari tatapan penuh cinta ayah, dari pelukan lembut ibu, dari kalimat yang meneguhkan: “Kamu berharga, Nak, karena Allah menciptakanmu dengan tujuan.”

Islam menawarkan sistem yang menumbuhkan kembali fitrah keluarga. Ayah dan ibu punya peran saling melengkapi. Negara dalam sistem Islam akan mendukung keduanya dengan kebijakan yang adil, membuka lapangan kerja layak, menata jam kerja manusiawi, dan menjamin kebutuhan dasar keluarga. Dengan begitu, ayah tak harus kehilangan waktu berharga demi bertahan hidup.

Sistem Islam juga memiliki mekanisme perwalian, menjamin setiap anak memiliki figur ayah yang melindungi dan menuntun. Tak ada anak yang dibiarkan tanpa bimbingan.

Fenomena fatherless seharusnya menjadi alarm bagi kita. Jika ayah kehilangan peran qawwamnya, ibu kehilangan penopang, dan anak kehilangan pelindung, maka masa depan generasi ikut terancam. Kita perlu mengembalikan kehidupan pada sistem yang menjaga fitrah manusia agar lahir kembali cinta yang utuh di rumah, keberanian yang kokoh dalam diri anak laki-laki, dan rasa aman yang hangat bagi anak perempuan.

Sebab, dari rumah yang sehat lahir generasi yang kuat. Dari ayah yang beriman dan berilmu lahir peradaban yang beradab. Maka mengakhiri fatherless bukan sekadar mengembalikan sosok ayah, tapi menghidupkan kembali sistem yang menumbuhkan cinta, tanggung jawab, dan makna sistem Islam.

Continue Reading

Previous: Masjid Al Aqsa Terancam Runtuh, Ulah Israel Merusak Landmark Bersejarah Islam
Next: Dilanda Hyper Independence, Perempuan Enggan Menikah

Related Stories

Membentuk Kepribadian Islam pada Generasi WhatsApp Image 2026-03-25 at 20.29.06

Membentuk Kepribadian Islam pada Generasi

25/03/2026
Board of Peace: Proyek Kolonial Berkedok ‘Perdamaian’ WhatsApp Image 2026-03-25 at 18.45.15

Board of Peace: Proyek Kolonial Berkedok ‘Perdamaian’

25/03/2026
Panic Buying BBM dan Urgensi Kedaulatan Energi WhatsApp Image 2026-03-24 at 17.01.19

Panic Buying BBM dan Urgensi Kedaulatan Energi

24/03/2026

Recent Posts

  • Membentuk Kepribadian Islam pada Generasi
  • Lebaran Tak Serentak: Ujian Toleransi di Atas Piring Opor
  • Makna Idul Fitri dalam Membangun Kesadaran dan Persatuan Umat Islam
  • Asmara Berujung Luka dan Kekerasan
  • Idul Fitri dan Perjuangan Meraih Kemenangan Umat Islam

Recent Comments

  1. Editor Muslimah Times on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  2. ranum on Diskriminasi Pendidikan, Sampai Kapan?
  3. Yanto on Utang Luar Negeri dan Kedaulatan Negara
  4. Winda on Potret Pendidikan di Era Milenial
  5. Nungki on Jual Beli Perawan, Bisnis yang Menjanjikan

Read This

Membentuk Kepribadian Islam pada Generasi WhatsApp Image 2026-03-25 at 20.29.06

Membentuk Kepribadian Islam pada Generasi

25/03/2026
Lebaran Tak Serentak: Ujian Toleransi di Atas Piring Opor WhatsApp Image 2026-03-25 at 20.13.00

Lebaran Tak Serentak: Ujian Toleransi di Atas Piring Opor

25/03/2026
Makna Idul Fitri dalam Membangun Kesadaran dan Persatuan Umat Islam WhatsApp Image 2026-03-25 at 20.05.54

Makna Idul Fitri dalam Membangun Kesadaran dan Persatuan Umat Islam

25/03/2026
Asmara Berujung Luka dan Kekerasan WhatsApp Image 2026-03-25 at 19.06.02

Asmara Berujung Luka dan Kekerasan

25/03/2026
Copyright © Muslimah Times. All rights reserved. | MoreNews by AF themes.