Oleh. Ummu Riri
Muslimahtimes.com–Tantangan besar bagi orang tua dalam mendidik anak di masa sekarang adalah serangan dunia digital. Ruang digital yang begitu luas sehingga mampu memberikan informasi apa pun, membuat anak merasa lebih nyaman dengan ruang ini. Padahal, di dalamnya terdapat serangan-serangan pemikiran yang sudah jelas diagendakan Barat untuk merusak generasi pejuang Islam.
Barat tidak menginginkan Islam bangkit menjadi sebuah ideologi yang diterapkan, karena mereka tahu bagaimana catatan sejarah menggambarkan keberhasilan Islam dalam memimpin dunia. Mereka tidak ingin Islam ikut campur dalam urusan ekonomi, karena ekonomi ala Barat adalah ekonomi kapitalisme yang hanya mementingkan keuntungan bukan menyejahterakan.
Lebih dalam kita bisa melihat rusaknya pergaulan dunia luar saat ini, budaya asing kini menjadi kiblat para pemuda. Busana para muslimah beralih fungsi sebagai busana trendi ala Barat yang terkesan memaksakan, sehingga busana muslimah tidak lagi sempurna. Budaya menari di depan kamera dengan gerakan yang menampakkan lekukan tubuh sudah menjadi sesuatu yang lumrah untuk dipertontonkan. Fakta ini sangat menyayat hati, budaya telah menggerus akidah Islam di kalangan generasi penerus.
Pemikiran-pemikiran rusak lainnya yang menyusup di lingkungan anak-anak adalah tentang kesetaraan gender, LGBT dan moderasi beragama. Pemikiran yang kemudian menjadi sebuah tindakan ini sangat membahayakan bagi generasi penerus. Mereka akan menjadi jauh dari tujuan hidup dan perjuangan dakwah ini, di sisi lain peran ibu yang digerus oleh kapitalisme menjadi sangat berat. Berbagai macam tuntutan hidup dan fakta yang terjadi mebuat ibu kerepotan dalam menjaga anak-anaknya. Maka, bagaimana akan lahir DNA pejuang Islam di tengah kondisi saat ini?
Sebelum membahas jauh bagaimana menjadi seorang ibu yang mampu mencetak generasi pejuang, kita perlu mendalami mengapa tugas berat ini diberikan kepada ibu. Telapak kaki ibu mengambil bagian yang sangat penting di rumah, ia mengurus rumah, anak-anak dan suami sehingga wajar apabila telapak kaki ibu tidak semulus telapak kaki artis. Namun, telapak kaki ibu tidak dinilai dari kemulusannya tetapi, dinilai dari amal salihnya dalam mempertanggungjawabkan semua beban rumah tangga yang dipikulnya. Maka, itulah peran ibu sebagai ummun wa rabbatul bayt .
Inilah makna “surga di bawah telapak kaki ibu” surga yang sudah ada dalam setiap langkah kaki ibu inilah yang seharusnya akan mengantarkan anak-anaknya menjadi generasi pejuang Islam, generasi yang dirindukan. Lalu mengapa harus ibu yang menanggung peran berat ini? Karena ibu adalah puncak ketundukan tertinggi setelah Allah dan RasulNya. Sehingga berbahagialah wahai ibu, karena engkau dipilih menjadi hamba yang mulia. Surga mana yang tidak bisa ditempuh oleh seorang ibu yang mampu mengantarkan anaknya kepada titik puncak keimanan yaitu berjihad melawan kekufuran dengan menjadikan anak sebagai pejuang Islam.
Mencetak Generasi Pemimpin
Di tengah krisis kepemimpinan saat ini kita perlu mencetak generasi pemimpin dan penakluk yang tidak takut oleh apa pun terkecuali kepada Allah Swt. yang kelak akan memimpin umat di peradaban yang gemilang. Setiap manusia adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggung jawabannya, baik laki-laki maupun perempuan adalah pemimpin. Anak perlu diwariskan ghirah dalam menjalankan visi untuk menembus langit menuju surga, yaitu dakwah Islam yang akan dilanjutkan oleh mereka.
Untuk menjadi seroang pemimpin anak perlu disiapkan untuk bertanggung jawab, dibiasakan berpikir mencari solusi, komunikatif dan mampu berpengaruh kepada orang lain. Namun, orang tua tidak boleh memaksa anak untuk melakukan itu semua, karena anak akan menjadi pemipin yang otoriter atau tidak bisa memimpin karena harus tunduk dan menunggu perintah orang lain. Semua itu berhubungan dengan pola asuh, sehingga yang harus dilakukan adalah pola asuh dan pendidikan yang berkesinambungan di atas landasan islamiyyah. Pada dasarnya anak akan mengikuti kepemimpinan ibu atau ayahnya.
Generasi Cinta Dakwah
Di samping menjalani kewajiban berdakwah ibu tidak boleh lupa untuk memenuhi kebutuhan anak-anaknya agar anak tidak membenci aktivitas mulia yang ibunya lakukan. Anak harus bisa mencintai dakwah, untuk itu ajaklah anak dalam aktivitas dakwah, dampingi anak disaat penting seperti sedang sakit atau mengantarkan sekolah dan lain-lain, kemudian adilah kepada anak, jangan berikan amanah diluar kemampuan mereka dan berilah perhatian dalam setiap urusan mereka.
Di suatu waktu ada kalanya anak tidak tertarik untuk berdakwah, tidak bersemangat mendengarkan ajakan dakwah. Ada beberapa petunjuk yang Rasulullah serukan dalam membimbing umat, begitu pula dalam membimbing anak. Rasulullah dalam hadis Shahih Muslim bersabda :
” Tidaklah engkau berbicara kepada suatu kaum dengan suatu pembicaraan yang dipahami akal, melainkan akan menjadi fitnah pada sebagian mereka .”
Dalam mengajak berdakwah tidak boleh terlalu sering dan lama karena akan membuat jemu, sampaikan dakwah dalam kondisi yang santai dan luruskan pemahaman mereka bila pemahaman mereka keliru.
Mencetak Politisi Muslim
Politik bukanlah kata yang haram, politik adalah kata umum yang berasal dari dua kata poly yang berarti orang banyak dan teae yang berarti urusan. Politik atau siyasiyah bermakna ri’ayah asy-syu’un al-ummah, pengatur urusan umat. Tidak ada satu makna negatif pun dalam kata politik. Maka, tidak ada alasan untuk tidak mengenalkan politik kepada anak. Namun, akan menjadi musibah besar apabila anak-anak terjun ke dunia politik tanpa agama, ia akan memusuhi agama dan memanfaatkan agama bukan membeda dan memperjuangkan agama.
Sehingga mendidik anak menjadi politisi muslim bukan hanya membuat anak tahu tentang politik. Ibu harus menanamkan kepada diri anak zawiyah al-khassah (pandangan tertentu) pada setiap memandang dan menilai peristiwa politik. Pandangan yang khas itu adalah pandangan Islam. Kita adalah muslim, kita perlu membela kepentingan Islam dan kaum muslimin bukan yang lain.
Anak juga perlu diajak untuk berpikir global meskipun fakta yang terjadi adalah lokal. Sebagai contoh ketika ibu berbelanja dengan anak ceritakan mangapa harga-harga barang sangat mahal, itu disebabkan banyak impor dari luar negeri. Sebab lain juga karena kita masih bergantung kepada mata uang asing, sebagai seorang muslim seharusnya kita bisa memiliki mata uang sendiri yaitu dinar dan dirham. Sehingga negara lain tidak bisa mendikte umat Islam, malah sebaliknya meraka akan tunduk kepada kekuasaan Islam.
Tidak lupa pula ibu perlu memberikan pelajaran sejarah, yang paling utama adalah Sirah Nabawiyah kemudian kejayaan Khulafa ar-Rasyidin hingga kepada kekhilafahan selanjutnya. Ceritakan pula kepada anak bagaimana Islam masuk ke Nusantara dan menjadi kuat sehingga membuat gentar para penjajah karena kehadiran Khilafah Islamiyyah kala itu.
Sultan Muhammad al-Fatih tidak secara langsung bisa menaklukkan Konstantinopel, tetapi ia telah disiapkan oleh orang tuanya untuk menjadi sosok pemimpin yang kuat dan beriman, sehingga mampu membuktikan bisyarah Rasulullah saw., akan takluknya Konstantinopel di tangan kaum muslim. Maka, sebagai ibu memiliki amanah untuk mempersiapkan anak-anak kita menjadi pejuang Islam seperti Muhammad Al-Fatih. Sulit, bukan berarti tidak bisa. Kebangkitan Islam berada di pundak para pemuda yang mengemban ideologi Islam ke seluruh penjuru dunia.
Wallahualam bishawab
